BLITAR KAWENTAR – Fenomena mobil bekas harga roboh kembali mencuri perhatian publik setelah sebuah kanal YouTube otomotif mengungkap lapak tersembunyi berisi puluhan unit kendaraan dengan harga jauh di bawah pasaran. Berlokasi di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur, gudang ini menawarkan berbagai mobil bekas dengan kondisi beragam, mulai dari siap pakai hingga bahan restorasi.
Dalam penelusuran tersebut, penjual bernama Rizki mengungkapkan bahwa unit yang tersedia di gudang merupakan “harga pedagang” atau biasa disebut harga roboh. Artinya, mobil dijual apa adanya dengan harga sangat murah karena belum melalui proses detailing atau perapihan seperti di showroom utama.
Menariknya, sejumlah mobil bahkan dibanderol dengan harga setara sepeda motor baru. Kondisi ini membuat istilah mobil bekas harga roboh menjadi daya tarik utama bagi pemburu kendaraan murah maupun pebisnis otomotif.
Deretan Mobil Diesel dan SUV Murah
Salah satu unit yang mencuri perhatian adalah Chevrolet Captiva diesel tahun 2010 yang ditawarkan mulai Rp79 juta dan bisa turun hingga Rp76 juta. Meski pajak mati, kondisi mesin disebut masih bagus dan interior relatif rapi.
Ada pula Captiva facelift 2011 yang sudah overhaul mesin dan pajak hidup. Unit ini dijual sekitar Rp115 juta, jauh di bawah harga pasaran SUV diesel sekelasnya.
Pilihan lainnya datang dari segmen SUV premium seperti Jeep Grand Cherokee 2001 bermesin 4.000 cc. Mobil penggerak 4 roda ini ditawarkan mulai Rp98 juta dan masih bisa dinegosiasikan hingga Rp90 juta.
Tak ketinggalan, Ford Escape 2007 juga tersedia dengan harga sekitar Rp69 juta dan bisa ditekan hingga Rp64 juta. Sementara untuk SUV lawas, Mitsubishi Kuda 2002 tipe Grandia matic dijual dengan harga sekitar Rp70 jutaan, menawarkan kenyamanan mesin 2.000 cc injeksi.
Mobil Murah di Bawah Rp50 Juta
Yang paling mengejutkan adalah kehadiran mobil-mobil dengan harga di bawah Rp50 juta. Salah satunya BMW 320i tahun 1994 yang dijual hanya Rp35 juta setelah perbaikan transmisi.
Bahkan, terdapat unit BMW 320i lain yang dijual dalam kondisi bahan balap dengan harga hanya Rp10 juta. Meski harus dirakit ulang, mesin kendaraan tersebut diklaim masih hidup dan layak digunakan untuk keperluan modifikasi atau balap.
Selain itu, Mazda 323 tahun 1996 juga ditawarkan sekitar Rp37 juta dalam kondisi mesin halus dan AC dingin, meski pajak kendaraan telah mati beberapa tahun.
Pilihan hatchback seperti Ford Focus 2009 pun tersedia dengan harga sekitar Rp55 juta setelah negosiasi. Mobil ini menawarkan mesin 1.800 cc dan kondisi interior yang masih orisinal.
Unit Lebih Baru Tetap Ada
Tidak hanya mobil tua, gudang ini juga menyediakan unit lebih muda seperti Toyota Raize 2021 tipe turbo. Mobil ini dijual sekitar Rp219 juta dan bisa ditekan hingga Rp210 juta jika pajak dalam kondisi mati.
Selain itu, terdapat unit langka seperti Toyota Voltz 2003 CBU yang menggunakan mesin serupa Toyota Vios. Mobil ini dibanderol Rp89 juta dan menjadi incaran kolektor karena statusnya sebagai mobil impor.
Sistem Jual Apa Adanya
Rizki menjelaskan bahwa sebagian besar mobil dijual dalam kondisi apa adanya. Jika pembeli menginginkan unit yang lebih rapi, kendaraan akan dipindahkan ke showroom utama untuk dilakukan perbaikan dan dijual dengan harga lebih tinggi.
Konsep ini membuat harga di gudang jauh lebih murah dibanding showroom. Namun, pembeli harus siap menanggung biaya tambahan seperti pajak, perbaikan bodi, hingga servis mesin.
Daya Tarik Mobil Bekas Harga Roboh
Tren mobil bekas harga roboh ini menjadi alternatif menarik bagi masyarakat yang ingin memiliki kendaraan dengan budget terbatas. Selain itu, peluang bisnis juga terbuka bagi pedagang yang ingin membeli unit murah untuk dijual kembali setelah diperbaiki.
Meski demikian, calon pembeli tetap disarankan untuk melakukan pengecekan menyeluruh sebelum transaksi. Faktor seperti pajak mati, kondisi mesin, dan legalitas kendaraan menjadi hal penting yang harus diperhatikan.
Dengan harga yang bisa jauh di bawah pasaran, gudang mobil seperti ini menjadi “surga tersembunyi” bagi pecinta otomotif yang jeli melihat peluang.
Editor : Edo Trianto