BLITAR KAWENTAR – Harga mobil listrik bekas di Indonesia kini mengalami penurunan drastis. Fenomena ini dipicu oleh perang diskon yang dilakukan para pabrikan, sehingga berdampak langsung pada nilai jual kembali kendaraan listrik di pasar mobil bekas.
Tren harga mobil listrik bekas yang terus menurun tidak hanya terjadi pada satu merek saja, tetapi hampir merata di seluruh brand yang bermain di Indonesia. Kondisi ini membuat harga mobil listrik bekas semakin terjangkau bagi konsumen, namun di sisi lain merugikan pemilik lama maupun pedagang.
Penurunan harga mobil listrik bekas menjadi sorotan pelaku usaha showroom. Salah satunya diungkapkan oleh Daniel Libianto dari Victory 88 di MGK Kemayoran, Jakarta Pusat. Ia menyebut depresiasi harga mobil listrik terjadi sangat cepat, bahkan dalam waktu singkat setelah pembelian.
Baca Juga: Partisipasi Masyarakat Kota Blitar Ikuti Program CKG Masihh 14 Persen, Dinkes Ungkap Penyebabnya
Dampak Perang Diskon Pabrikan
Menurut Daniel, perang harga antar pabrikan menjadi faktor utama anjloknya harga mobil listrik bekas. Banyak produsen, khususnya dari Tiongkok, berlomba-lomba menawarkan harga baru yang lebih murah demi menarik minat konsumen.
Akibatnya, harga unit baru yang terus ditekan membuat nilai jual kembali mobil listrik bekas ikut terkoreksi tajam. Kondisi ini berbeda dengan mobil konvensional yang umumnya memiliki depresiasi lebih stabil.
Daniel mengaku saat ini lebih berhati-hati dalam mengambil stok mobil listrik bekas. Bahkan, ia memilih untuk sementara waktu tidak menambah unit EV karena khawatir harga akan terus turun.
Baca Juga: Pemkot Blitar Tunggu Kebijakan Resmi ASN WFH, Begini Skenario yang Disiapkan
Persaingan Ketat di Pasar EV
Hal senada disampaikan Andi, pemilik showroom Jordi Motor. Ia menilai persaingan di pasar mobil listrik semakin ketat, terutama sejak banyaknya pemain baru yang masuk ke Indonesia.
Salah satu momen yang mempercepat kondisi ini adalah ajang Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2025. Pada pameran tersebut, sejumlah pabrikan memberikan diskon besar-besaran untuk menarik perhatian pasar.
Diskon agresif ini kemudian berdampak langsung pada harga mobil bekas. Konsumen cenderung memilih unit baru dengan harga miring, sehingga permintaan mobil bekas menurun dan harga pun ikut terkoreksi.
Baca Juga: Pemkot Blitar Imbau Koperasi Kelurahan Merah Putih Himpun Anggota demi Kejar Modal Usaha
Wuling Jadi Contoh Penurunan Signifikan
Salah satu merek yang mengalami penurunan harga paling terasa adalah Wuling. Mobil listrik Wuling Air EV menjadi contoh nyata bagaimana depresiasi terjadi dalam waktu cepat.
Sebelum adanya perang diskon, harga beli mobil bekas Wuling Air EV di kalangan pedagang masih berada di kisaran Rp135 juta. Namun kini, harga tersebut turun drastis.
Untuk tipe tertinggi produksi 2022, harga maksimal hanya sekitar Rp100 juta. Sementara varian di bawahnya bahkan bisa ditebus di kisaran Rp70 jutaan.
Penurunan ini dipicu oleh kebijakan diskon besar yang diberikan pada unit baru. Dalam beberapa kesempatan, harga Wuling Air EV baru bahkan dikabarkan turun hingga Rp160 jutaan setelah potongan harga.
Baca Juga: Lebih Dekat dengan Sosok Dokter Muda Spesialis Penyakit Dalam RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Blitar
Peluang dan Risiko Bagi Konsumen
Di satu sisi, kondisi ini menjadi kabar baik bagi calon pembeli. Harga mobil listrik bekas yang semakin murah membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki kendaraan listrik dengan biaya lebih terjangkau.
Namun di sisi lain, ada risiko yang perlu diperhatikan. Penurunan harga yang cepat membuat potensi kerugian saat menjual kembali menjadi lebih besar.
Konsumen yang membeli mobil listrik saat ini harus mempertimbangkan faktor depresiasi jangka panjang. Jika tren perang harga terus berlanjut, nilai jual kembali bisa semakin turun.
Pasar Masih Akan Berubah
Pengamat menilai pasar mobil listrik di Indonesia masih dalam tahap perkembangan. Fluktuasi harga masih sangat mungkin terjadi seiring dengan strategi bisnis pabrikan dan masuknya pemain baru.
Selain itu, inovasi teknologi yang cepat juga membuat model lama lebih cepat tergeser oleh produk terbaru dengan fitur lebih canggih.
Meski demikian, minat terhadap mobil listrik diprediksi tetap meningkat. Faktor efisiensi energi, biaya operasional rendah, serta dukungan pemerintah menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar ini.
Ke depan, stabilitas harga mobil listrik bekas akan sangat bergantung pada kebijakan pabrikan dan keseimbangan antara suplai dan permintaan di pasar.
Editor : Edo Trianto