JAKARTA – Membeli mobil bukan sekadar urusan memilih model yang keren atau fitur yang canggih. Bagi masyarakat cerdas, ada satu variabel krusial yang sering terlupakan namun menjadi pengeluaran terbesar pemilik kendaraan: biaya depresiasi mobil. Di tahun 2026 ini, memahami nilai jual kembali (resale value) menjadi kunci agar aset Anda tidak "menguap" begitu saja setelah keluar dari dealer.
Berdasarkan riset mendalam terhadap data harga puluhan brand mobil sejak 2015 hingga 2024, ditemukan fakta mengejutkan mengenai depresiasi mobil. Ada unit yang nilainya merosot tajam hingga hanya tersisa 20 persen, namun ada pula "mobil sejuta umat" yang harganya tetap kokoh bertahan di angka 80 persen meski sudah digunakan selama bertahun-tahun.
Mobil Luxury: Simbol Gengsi yang Menguras Kantong
Bagi kaum "mendang-mending", segmen mobil mewah seperti Mercedes-Benz dan BMW adalah area yang sangat berisiko dari sisi ekonomi. Data menunjukkan bahwa mobil kelas atas seperti Mercedes S-Class atau BMW 7 Series mengalami penurunan nilai yang fantastis. Sebagai contoh, unit yang dibeli seharga miliaran rupiah bisa kehilangan nilai hingga Rp250 juta per tahun.
"Jika Anda membeli mobil Luxury, Anda harus siap dengan depresiasi Rp30 juta hingga Rp100 juta setahun. Ini bukan untuk mereka yang budgetnya pas-pasan atau cicilannya masih empot-empotan," tulis analisis tim riset otomotif tersebut. Menariknya, Mercedes C-Class tercatat memiliki daya tahan harga sedikit lebih baik dibandingkan kompetitor terdekatnya di kelas yang sama.
Mobil Sejuta Ummat: Sang Juara Anti-Boncos
Berbanding terbalik dengan mobil mewah, kategori mobil sejuta umat seperti Toyota Avanza, Innova, dan Toyota Calya justru menjadi instrumen yang paling aman. Toyota Calya tipe G, misalnya, mampu menjaga resale value hingga 72 persen setelah pemakaian 8 tahun. Secara matematis, biaya depresiasinya hanya sekitar Rp15.000 per hari—lebih murah dari harga segelas kopi susu kekinian.
Pilihan lain yang terbukti "cuan" adalah Mitsubishi Xpander. Sejak dirilis, Xpander menunjukkan performa harga yang sangat kuat dengan angka bertahan di 82 persen dari harga originalnya. Mengapa mobil-mobil ini begitu kuat harganya? Jawabannya adalah tingginya permintaan di daerah. Mobil dengan ground clearance tinggi dan perawatan mudah jauh lebih diminati oleh pembeli luar Jakarta dibandingkan jenis sedan yang pasarnya sangat terbatas.
Baca Juga: Mobil Bekas 150 Jutaan Terbaik 2026: Pilihan Mobil Pertama Paling Aman, Irit, dan Anti Rewel
Fenomena Mobil Listrik (EV): Depresiasi yang Agresif
Satu hal yang perlu diwaspadai di tahun 2026 adalah nilai jual kembali mobil listrik (EV). Meskipun sedang tren, mobil listrik seperti Hyundai Ioniq 5 atau Wuling Air EV mengalami depresiasi mobil yang jauh lebih cepat dibandingkan mobil bensin konvensional. Dalam waktu hanya satu hingga dua tahun, nilainya bisa jatuh hingga 30 persen.
Kecepatan inovasi teknologi baterai dan adanya insentif pemerintah (PPN DTP) bagi unit baru membuat harga unit bekas tertekan. Kondisi ini mirip dengan era awal peluncuran iPhone, di mana setiap seri baru membawa perubahan drastis yang membuat seri lama segera terlihat ketinggalan zaman. Selain itu, ketidakpastian harga penggantian baterai di masa depan masih menjadi momok bagi calon pembeli mobil listrik seken.
Tips Menjadi Pembeli Cerdas di 2026
Sebelum memutuskan untuk bertransaksi, Redaktur Senior Jawa Pos menyarankan Anda untuk selalu mempertimbangkan fungsi dan nilai ekonomis jangka panjang. Jika tujuan utama Anda adalah transportasi yang hemat dan stabil secara finansial, pilihlah kategori MPV atau SUV dari brand massal yang sudah teruji durabilitasnya.
Hindari membeli mobil mewah atau sedan jika Anda masih memikirkan margin keuntungan saat menjualnya kembali. Di dunia otomotif, "Cuan" bukan berarti mendapatkan uang tambahan, melainkan seberapa sedikit uang Anda yang hilang selama masa pemakaian. Jadilah pembeli yang bijak dengan selalu memantau tren pasar otomotif terkini melalui portal berita terpercaya.
Editor : Natasha Eka Safrina