JAKARTA – Memiliki kendaraan pribadi tentu menjadi impian banyak orang, namun kecerdasan dalam memilih merek menentukan nasib finansial Anda di masa depan. Salah satu pertimbangan paling krusial sebelum meminang unit di garasi adalah memahami variabel harga jual kembali (resale value). Jangan sampai, niat hati ingin bergaya, justru malah rugi bandar saat ingin menjualnya kembali.
Berdasarkan pengamatan pasar otomotif terkini, sulit atau tidaknya sebuah mobil dijual kembali sangat dipengaruhi oleh eksistensi pemegang merek di Indonesia. Ada berbagai alasan mengapa sebuah mobil masuk dalam daftar "sulit laku", mulai dari kelangkaan suku cadang, jenis yang kurang populer, hingga faktor paling fatal: merek tersebut sudah hengkang atau berhenti berjualan di tanah air.
Proton: Nasib Mobil Malaysia yang "Terjun Bebas"
Merek pertama yang patut masuk dalam catatan waspada Anda adalah Proton. Mobil asal Malaysia ini sempat mewarnai jalanan Indonesia pada medio 2012 dengan berbagai varian mulai dari MPV, hatchback, hingga sedan. Namun, performa penjualan yang terus merosot memaksa Proton resmi angkat kaki dari pasar Indonesia pada 2019 silam.
Dampaknya sangat terasa pada harga jual kembali unit bekasnya. Saat ini, harga mobil Proton di pasar seken benar-benar tiarap. Bahkan, ditemukan fakta bahwa beberapa unit Proton kini dibanderol dengan harga yang sangat miring, menyentuh angka Rp30 jutaan. Tanpa dukungan bengkel resmi yang luas, pembeli unit ini harus siap berburu bengkel spesialis agar kendaraan tetap bisa berjalan normal.
Ford dan Chevrolet: Raksasa Amerika yang Hengkang
Nasib serupa dialami oleh duo raksasa Amerika, Ford dan Chevrolet. Ford sebenarnya memiliki basis penggemar yang loyal karena fitur-fitur jempolan dan desain yang gagah. Sayangnya, keputusan Ford untuk hengkang dari Indonesia beberapa tahun lalu membuat citra merek ini meredup. Harga bekas Ford Everest atau Fiesta kini terjun bebas, kecuali jika Anda memiliki bengkel rekanan yang memang ahli menangani mobil-mobil Amerika.
Chevrolet pun setali tiga uang. Padahal, secara kualitas mesin, Chevrolet memiliki produk unggulan seperti Trailblazer dengan tenaga mesin terbesar di kelasnya, atau Captiva yang tangguh. Sejak resmi berhenti berjualan di awal 2020, harga bekas Chevrolet merosot tajam. Diskon besar-besaran di akhir masa penjualannya dulu menjadi faktor penekan harga seken yang masih terasa dampaknya hingga tahun 2026 ini.
Baca Juga: Mobil Bekas 150 Jutaan Terbaik 2026: Pilihan Mobil Pertama Paling Aman, Irit, dan Anti Rewel
Datsun: Hanya Bertahan Seumur Jagung
Kembalinya Datsun ke Indonesia pada 2013 awalnya disambut baik sebagai mobil murah pilihan keluarga. Namun, kiprahnya hanya bertahan selama tujuh tahun sebelum akhirnya kembali menyatakan berhenti produksi di tahun 2020. Fokus Datsun yang hanya menjual mobil-mobil kecil seperti Datsun Go dan Go+ membuat posisinya sulit bersaing di pasar yang semakin kompetitif.
Meskipun jaringan servis Datsun masih bisa dilayani di bengkel resmi Nissan sebagai induk perusahaannya, hal tersebut tidak banyak membantu mengangkat harga bekasnya. Citra sebagai "mobil murah yang ditinggalkan pabrikan" membuat harga Datsun Go seken menjadi salah satu yang paling anjlok di kategorinya.
Tips Sebelum Membeli Mobil dengan Harga Anjlok
Meskipun harga bekas merek-merek di atas terlihat sangat menggoda karena murahnya, Redaktur Senior Jawa Pos mengingatkan agar pembeli tidak gegabah. Membeli mobil dari merek yang sudah tutup berarti Anda harus siap dengan tantangan ketersediaan suku cadang asli dan teknisi yang paham seluk-beluk mesinnya.
Jika Anda tetap ingin memelihara mobil-mobil dari merek tersebut karena faktor hobi atau kenyamanan fitur, pastikan Anda sudah memiliki "bengkel pegangan" atau komunitas yang solid. Tanpa persiapan itu, niat mencari mobil murah justru bisa berakhir pada biaya perawatan yang mencekik. Jadilah pembeli cerdas dengan selalu mempertimbangkan aspek keberlanjutan sebelum melakukan transaksi otomotif.
Editor : Natasha Eka Safrina