BLITAR KAWENTAR - Perdebatan soal mobil listrik kembali mencuat. Dalam sebuah podcast otomotif, seorang pakar mengungkap fakta mengejutkan bahwa mobil listrik tidak sepenuhnya ramah lingkungan seperti yang selama ini digembar-gemborkan. Pernyataan ini langsung memantik perhatian publik, terutama di tengah tren peralihan ke kendaraan elektrifikasi.
Isu “mobil listrik merusak lingkungan” menjadi sorotan utama dalam diskusi tersebut. Menurut sang pakar, jika dilihat dari sisi engineering, proses produksi baterai mobil listrik justru memiliki dampak lingkungan yang besar. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan bahan baku berupa mineral langka seperti litium.
“Untuk membuat satu baterai mobil listrik, proses penambangannya sangat masif. Kandungan litium dalam tanah itu kecil sekali, bahkan kurang dari 1 persen. Artinya, untuk mendapatkan sedikit bahan, harus menggali dalam jumlah besar,” ujarnya.
Produksi Baterai Jadi Sorotan
Dalam pembahasan tersebut, disebutkan bahwa produksi mobil listrik menghasilkan “kerusakan lingkungan awal” yang lebih tinggi dibanding mobil berbahan bakar bensin (ICE). Proses ekstraksi mineral yang intensif dinilai menjadi penyumbang utama.
Selain itu, persoalan limbah baterai juga belum sepenuhnya terpecahkan. Baterai yang sudah rusak atau menurun performanya dinilai sulit untuk didaur ulang secara optimal.
“Masalah terbesar bukan hanya produksi, tapi setelah dipakai. Ketika baterai rusak, mau dikemanakan limbahnya? Itu masih jadi PR besar,” jelasnya.
Bahkan disebutkan bahwa umur baterai mobil listrik rata-rata sekitar 7 tahun. Setelah itu, pengguna harus mengganti baterai dengan biaya yang tidak murah. Kondisi ini dinilai membuat klaim keberlanjutan menjadi kurang relevan.
Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Murah Biaya Servis Rendah 2026: Irit BBM, Pajak Ringan, Cocok Jalan Sempit!
Hybrid Dinilai Lebih Realistis
Dalam diskusi tersebut, kendaraan hybrid disebut sebagai solusi yang lebih realistis untuk saat ini. Mobil hybrid dinilai lebih praktis karena tidak bergantung penuh pada infrastruktur pengisian listrik.
Pengguna tetap bisa menggunakan bahan bakar bensin, namun mendapat efisiensi tambahan dari sistem listrik. Selain itu, pengguna tidak perlu khawatir soal antrean charging station yang mulai menjadi masalah di beberapa negara.
Namun, mobil hybrid juga memiliki tantangan tersendiri. Perawatan baterai harus lebih diperhatikan. Misalnya, kendaraan tidak boleh terlalu lama tidak digunakan karena dapat menyebabkan baterai soak.
“Banyak orang tidak tahu, mobil hybrid itu harus dipakai rutin. Kalau didiamkan terlalu lama, baterainya bisa rusak,” tambahnya.
Baca Juga: Terungkap! Harga Mobil Bekas SUV Murah Fortuner Pajero 2026, Unit Diesel Mulai Rp230 Jutaan
Mobil Hidrogen Disebut Masa Depan
Menariknya, dalam pembahasan tersebut, mobil hidrogen disebut sebagai teknologi masa depan yang lebih menjanjikan. Teknologi ini dinilai lebih ramah lingkungan karena hanya menghasilkan air sebagai emisi.
Proses pengisian bahan bakar hidrogen juga jauh lebih cepat dibanding mobil listrik, hanya membutuhkan waktu sekitar 1-2 menit untuk penuh.
“Hidrogen itu clean energy. Prosesnya dari air, dipecah jadi hidrogen dan oksigen, lalu digunakan sebagai energi. Hasil akhirnya kembali jadi air,” jelasnya.
Namun demikian, teknologi ini masih menghadapi kendala besar, terutama dari sisi infrastruktur dan keamanan. Tangki hidrogen membutuhkan standar tinggi karena berpotensi berbahaya jika terjadi kecelakaan.
Konsumen Indonesia Masih Pertimbangkan Harga Jual
Selain teknologi, faktor lain yang disoroti adalah perilaku konsumen Indonesia. Disebutkan bahwa mayoritas pembeli mobil di Indonesia masih mempertimbangkan harga jual kembali.
Hal ini membuat mobil listrik, terutama dari merek baru, kurang diminati sebagian kalangan. Penurunan harga yang cepat menjadi pertimbangan utama.
“Orang Indonesia beli mobil pasti mikir nanti dijual lagi harganya turun berapa. Itu yang bikin mobil listrik masih belum diterima semua kalangan,” ungkapnya.
Kesimpulan: Bukan Sekadar Tren
Perdebatan mengenai mobil listrik merusak lingkungan menunjukkan bahwa transisi energi di sektor otomotif tidak sesederhana yang dibayangkan. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, mulai dari produksi, penggunaan, hingga limbah.
Mobil listrik memang menawarkan teknologi canggih dan efisiensi, namun belum tentu menjadi solusi akhir. Hybrid saat ini dinilai paling masuk akal, sementara hidrogen berpotensi menjadi jawaban di masa depan.
Yang jelas, konsumen perlu lebih bijak dalam memilih kendaraan, tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memahami dampak jangka panjangnya.
Editor : Edo Trianto