Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mobil Listrik vs LCGC: Murah Tapi Banyak Risiko? Pakar Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Depresiasi dan Kenyamanan

Edo Trianto • Minggu, 29 Maret 2026 | 20:05 WIB
Mobil Listrik vs LCGC: Murah Tapi Banyak Risiko? Pakar Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Depresiasi dan Kenyamanan
Mobil Listrik vs LCGC: Murah Tapi Banyak Risiko? Pakar Ungkap Fakta Mengejutkan Soal Depresiasi dan Kenyamanan

BLITAR KAWENTAR - Perdebatan soal mobil listrik vs LCGC kembali mencuat setelah seorang pakar otomotif membeberkan kelebihan dan kekurangan keduanya secara blak-blakan. Dalam sebuah podcast, ia menyoroti bahwa mobil listrik memang terlihat murah dan canggih, tetapi memiliki risiko besar terutama dari sisi depresiasi dan kenyamanan penggunaan.

Isu mobil listrik vs LCGC menjadi semakin relevan di tengah banyaknya pilihan kendaraan murah di Indonesia. Menurutnya, masyarakat perlu lebih jeli sebelum memutuskan membeli, terutama jika mobil tersebut akan menjadi kendaraan pertama atau satu-satunya.

“Kalau mau beli mobil listrik, Anda harus siap dengan harga jual kembali yang rendah. Depresiasinya bisa dibilang sampai nol,” ujarnya.

Baca Juga: Mobil Bekas Murah Biaya Servis Rendah 2026: Harga Mulai Rp30 Jutaan, Cocok Harian dan Minim Perawatan!

Depresiasi Jadi Pertimbangan Utama

Dalam pembahasan tersebut, mobil listrik disebut memiliki keunggulan dari sisi biaya operasional. Pajak lebih murah, biaya pengisian daya lebih hemat dibanding bensin, dan perawatan relatif sederhana.

Servis mobil listrik umumnya hanya mencakup penggantian coolant baterai, oli kompresor AC, dan minyak rem. Tidak seperti mobil konvensional yang memiliki banyak komponen mesin.

Namun, semua keunggulan itu dinilai harus “dibayar” dengan depresiasi tinggi. Ketika dijual kembali, harga mobil listrik bisa turun drastis.

“Kalau beli mobil listrik Rp190 juta, saat dijual ya terima saja harganya berapa. Itu sudah risiko,” jelasnya.

Baca Juga: Mobil Bekas 150 Jutaan Terbaik 2026: Fitur Sultan, Panoramic Roof hingga Paddle Shift, Ini 5 Pilihan Paling Worth It!

Fitur Melimpah, Harga Menggoda

Meski demikian, mobil listrik—terutama dari pabrikan China—dinilai unggul dari sisi fitur. Dalam segmen harga di bawah Rp200 juta, fitur yang ditawarkan bahkan melampaui mobil LCGC.

Beberapa fitur yang disorot antara lain enam titik airbag, electric seat adjuster, head unit layar besar, wireless charging, hingga NFC digital key. Fitur-fitur ini biasanya hanya ditemukan di mobil kelas menengah ke atas.

“Mobil China itu bikin mobil Jepang kelihatan mahal. Fiturnya luar biasa,” katanya.

Selain itu, teknologi seperti TPMS (Tire Pressure Monitoring System) juga menjadi nilai tambah karena membantu pengemudi memantau tekanan ban secara real time.

Baca Juga: Mobil Bekas Murah Biaya Servis Rendah 2026: 7 Hatchback Irit Rp50 Jutaan, Pajak Ringan dan Perawatan Gampang!

LCGC Dinilai Kurang Nyaman

Di sisi lain, mobil LCGC justru mendapat kritik cukup tajam. Meski dikenal sebagai mobil murah, LCGC dinilai menawarkan kenyamanan yang minim.

Suspensi yang keras, fitur terbatas, serta kualitas material yang sederhana menjadi sorotan utama. Bahkan, pakar tersebut menyebut pengalaman berkendara LCGC kurang nyaman, terutama di jalan tidak rata.

“Kalau lewat jalan paving, rasanya seperti naik kuda lumping. Suspensinya keras sekali,” ujarnya.

Ia juga menyarankan agar calon pembeli mempertimbangkan mobil bekas di kisaran harga yang sama dengan LCGC baru. Menurutnya, banyak pilihan mobil dengan kualitas lebih baik di pasar second.

Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Murah Biaya Servis Rendah 2026: Irit BBM, Pajak Ringan, Cocok Jalan Sempit!

Mobil Listrik Cocok untuk Dalam Kota

Meski memiliki banyak kelebihan, mobil listrik dinilai belum ideal sebagai kendaraan utama. Salah satu alasan utamanya adalah keterbatasan jarak tempuh (range) dan infrastruktur pengisian daya.

Pengguna harus mempertimbangkan jarak perjalanan dan ketersediaan stasiun pengisian listrik umum (SPKLU). Dalam beberapa kasus, antrean charger juga mulai terjadi.

“Kalau mobil listrik jadi satu-satunya kendaraan, Anda harus siap dengan keterbatasan jarak. Mau keluar kota jadi ribet,” jelasnya.

Namun, untuk penggunaan dalam kota seperti pergi ke kantor, antar anak sekolah, atau ke pusat perbelanjaan, mobil listrik dinilai sangat ideal.

Baca Juga: Terungkap! Harga Mobil Bekas SUV Murah Fortuner Pajero 2026, Unit Diesel Mulai Rp230 Jutaan

Risiko Mogok dan Infrastruktur

Selain itu, ia juga menyinggung adanya beberapa kasus mobil listrik yang tiba-tiba mati dan tidak bisa dinyalakan kembali. Meski tidak banyak, hal ini tetap menjadi perhatian.

Jika terjadi di jalan, solusi yang tersedia biasanya adalah towing ke SPKLU terdekat—yang tentu memerlukan biaya tambahan.

“Kalau mogok, harus ditowing. Biayanya bisa ratusan ribu. Itu harus dipikirkan juga,” katanya.

Perbandingan mobil listrik vs LCGC menunjukkan bahwa masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Mobil listrik unggul dalam fitur dan biaya operasional, tetapi lemah di depresiasi dan fleksibilitas.

Sementara LCGC lebih sederhana dan mudah digunakan untuk perjalanan jauh, tetapi kalah dari sisi kenyamanan dan fitur.

Bagi calon pembeli, keputusan terbaik adalah menyesuaikan dengan kebutuhan harian. Jika hanya digunakan di dalam kota, mobil listrik bisa menjadi pilihan menarik. Namun, untuk mobil utama dengan mobilitas tinggi, kendaraan konvensional masih dianggap lebih praktis.

Editor : Edo Trianto
#fitur mobil listrik #mobil listrik vs LCGC #mobil murah Indonesia #kekurangan LCGC #mobil listrik