BLITAR KAWENTAR – Depresiasi mobil ternyata menjadi faktor biaya terbesar yang sering diabaikan calon pembeli kendaraan. Dalam banyak kasus, nilai penyusutan harga kendaraan justru jauh lebih besar dibanding biaya bensin atau perawatan. Fakta ini terungkap dari analisis data harga mobil dalam kurun waktu hampir 10 tahun terakhir.
Fenomena depresiasi mobil ini penting dipahami karena banyak orang hanya fokus pada harga beli awal tanpa mempertimbangkan nilai jual kembali. Padahal, selisih harga beli dan harga jual inilah yang menentukan seberapa “boncos” atau “cuan” sebuah mobil dalam jangka panjang.
Dalam riset yang membandingkan berbagai jenis kendaraan—mulai dari mobil mewah, mobil listrik, hingga mobil sejuta umat seperti Toyota Avanza dan Toyota Calya—hasilnya cukup mengejutkan. Ada mobil yang nilainya hanya tersisa 20–30 persen setelah 9 tahun, tetapi ada juga yang masih bertahan hingga 70–80 persen.
Mobil Mewah Paling Boncos
Kategori mobil mewah menjadi yang paling parah dalam hal depresiasi. Contohnya, Mercedes-Benz S-Class yang pada 2015 dibanderol sekitar Rp2,3 miliar, kini hanya bernilai sekitar Rp720 juta. Artinya, nilai mobil tersebut tinggal sekitar 31 persen.
Hal serupa juga terjadi pada BMW 7 Series yang bahkan mengalami depresiasi lebih dalam, dengan nilai tersisa hanya sekitar 24 persen. Rata-rata pemilik mobil mewah harus “membayar” depresiasi hingga ratusan juta rupiah per tahun.
Meski demikian, tidak semua mobil mewah mengalami penurunan ekstrem. Mercedes-Benz C-Class misalnya, masih mampu mempertahankan sekitar 50 persen nilainya setelah hampir satu dekade.
Mobil Sejuta Umat Paling Stabil
Berbanding terbalik, mobil kategori “sejuta umat” justru menunjukkan ketahanan harga yang luar biasa. Selain Toyota Avanza, model seperti Toyota Innova dan Honda Brio juga memiliki resale value tinggi.
Sebagai contoh, Toyota Calya keluaran 2016 yang dijual Rp150 juta, kini masih dihargai sekitar Rp108 juta. Artinya, nilai mobil masih bertahan di angka 72 persen setelah 8 tahun.
Begitu pula dengan Avanza dan Innova yang rata-rata masih mempertahankan 60–65 persen nilai setelah 9 tahun. Bahkan Mitsubishi Xpander mencatat angka impresif dengan resale value hingga 80 persen dalam beberapa tahun awal.
Sedan Kurang Diminati, Depresiasi Tinggi
Menariknya, mobil sedan justru mengalami depresiasi lebih besar dibanding MPV atau SUV. Contohnya Toyota Camry yang nilainya tinggal sekitar 39 persen setelah 9 tahun.
Hal ini dipengaruhi oleh faktor pasar, terutama di daerah yang membutuhkan mobil dengan ground clearance tinggi. Permintaan sedan yang rendah membuat harga bekasnya sulit bertahan.
Mobil Listrik Mulai Tertekan
Sementara itu, mobil listrik juga menunjukkan tren depresiasi yang cukup cepat, terutama di awal kemunculannya. Model seperti Hyundai Ioniq 5 mengalami penurunan hingga 30 persen hanya dalam 2 tahun.
Begitu juga dengan Wuling Air EV dan varian lainnya dari Wuling yang mengalami penurunan harga cukup signifikan dalam waktu singkat.
Penyebabnya antara lain:
Perkembangan teknologi yang sangat cepat
Harga unit baru yang terus turun
Insentif pemerintah yang berubah
Kondisi ini membuat pembeli awal cenderung mengalami kerugian lebih besar dibanding pembeli berikutnya.
Pilih Mobil Sesuai Kebutuhan Finansial
Dari seluruh data tersebut, dapat disimpulkan bahwa mobil bukanlah aset investasi, melainkan liabilitas yang nilainya terus menurun. Namun, tingkat depresiasi sangat bergantung pada jenis dan segmen mobil.
Mobil sejuta umat terbukti paling aman dari sisi nilai jual kembali. Sementara mobil mewah dan mobil listrik cenderung mengalami depresiasi lebih cepat.
Bagi masyarakat dengan anggaran terbatas, memilih mobil dengan resale value tinggi menjadi langkah bijak untuk menghindari kerugian besar di masa depan.
Editor : Edo Trianto