BLITAR KAWENTAR – depresiasi mobil ternyata menjadi faktor paling besar yang sering diabaikan saat membeli kendaraan. Banyak orang sibuk membandingkan fitur, konsumsi BBM, hingga teknologi, tetapi lupa bahwa nilai mobil bisa turun drastis dalam beberapa tahun. Padahal, biaya depresiasi mobil bisa jauh lebih besar dibandingkan biaya operasional.
Dalam riset yang membandingkan harga mobil baru tahun 2015 dengan harga bekas di 2024, terlihat jelas bahwa depresiasi mobil sangat bervariasi tergantung merek, jenis, dan segmentasi pasar. Hasilnya cukup mengejutkan: ada mobil yang hanya menyisakan 20–30 persen nilai dari harga awal, tetapi ada juga yang masih bertahan hingga 70–80 persen.
Mobil Mewah: Depresiasi Paling “Boncos”
Kategori pertama yang disorot adalah mobil mewah seperti Mercedes-Benz dan BMW. Mobil di segmen ini dikenal memiliki depresiasi paling tajam.
Sebagai contoh, Mercedes S-Class yang pada 2015 dibanderol sekitar Rp2,3 miliar, kini hanya memiliki nilai jual kembali sekitar Rp720 juta. Artinya, hanya tersisa sekitar 31 persen dari harga awal. Sementara BMW 7 Series bahkan lebih parah, dengan nilai sisa sekitar 24–25 persen.
Depresiasi ini membuat mobil mewah lebih cocok untuk kalangan yang tidak terlalu memikirkan nilai uang. Sebab, kerugian bisa mencapai ratusan juta rupiah per tahun.
Mobil “Sejuta Umat” Paling Tahan Harga
Berbanding terbalik, mobil mass market seperti Toyota Avanza, Toyota Innova, dan Honda Brio justru menunjukkan performa depresiasi yang jauh lebih baik.
Toyota Calya misalnya, setelah 8 tahun masih memiliki nilai sekitar 72 persen dari harga awal. Sementara Avanza dan Innova bertahan di kisaran 64–65 persen setelah hampir satu dekade.
Hal ini terjadi karena tingginya permintaan di pasar mobil bekas, biaya perawatan yang rendah, serta jaringan servis yang luas. Faktor-faktor tersebut membuat mobil jenis ini dianggap paling “aman” dari sisi finansial.
Sedan Ternyata Kurang Diminati
Menariknya, mobil sedan justru mengalami depresiasi cukup besar, bahkan dari merek populer. Toyota Camry misalnya, hanya menyisakan sekitar 39 persen nilai setelah 9 tahun.
Fenomena ini dipengaruhi oleh kondisi jalan di banyak daerah Indonesia yang kurang cocok untuk sedan. Permintaan yang rendah membuat harga jual kembali ikut tertekan.
Mobil Listrik: Depresiasi Cepat di Awal
Bagaimana dengan mobil listrik? Model seperti Hyundai Ioniq 5 dan Wuling Air EV menunjukkan tren depresiasi yang cukup cepat dalam 1–2 tahun pertama.
Ioniq 5 misalnya, mengalami penurunan nilai sekitar 30 persen hanya dalam dua tahun. Bahkan Hyundai Ioniq 6 turun hampir 23 persen dalam satu tahun.
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, seperti perubahan insentif pajak, perkembangan teknologi yang sangat cepat, serta banyaknya model baru dengan harga lebih kompetitif.
Baca Juga: Rekomendasi Mobil Bekas Murah Biaya Servis Rendah 2026: Dari Rp30 Jutaan, Irit BBM dan Anti Ribet!
Faktor yang Menentukan Depresiasi Mobil
Ada beberapa faktor utama yang memengaruhi depresiasi mobil, antara lain:
Popularitas merek dan model
Biaya perawatan dan ketersediaan sparepart
Permintaan pasar mobil bekas
Perkembangan teknologi
Kebijakan pemerintah (seperti insentif pajak EV)
Mobil dengan jaringan luas dan permintaan tinggi cenderung memiliki depresiasi lebih rendah.
Pilih Sesuai Kebutuhan
Dari hasil analisis, tidak ada satu mobil yang paling benar untuk semua orang. Jika tujuan utama adalah efisiensi dan menjaga nilai uang, mobil “sejuta umat” seperti Avanza atau Brio adalah pilihan paling rasional.
Namun, jika membeli mobil untuk kenyamanan, gaya hidup, atau kepuasan pribadi, maka depresiasi bukan lagi faktor utama.
Yang jelas, memahami depresiasi mobil bisa membantu calon pembeli mengambil keputusan yang lebih bijak dan menghindari kerugian besar di masa depan.
Editor : Edo Trianto