BLITAR KAWENTAR - Mobil nasional Timor pernah menjadi simbol ambisi besar Indonesia untuk mandiri di industri otomotif. Proyek yang digagas pada era Presiden Soeharto ini sempat mengguncang pasar karena menawarkan harga murah dan dukungan penuh pemerintah. Namun, perjalanan mobil nasional Timor berakhir tragis setelah dihantam krisis ekonomi dan gugatan internasional.
Mobil nasional Timor pertama kali diperkenalkan pada 1996 oleh Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto melalui PT Timor Putra Nasional. Dalam tiga paragraf awal kemunculannya, mobil nasional Timor langsung menyedot perhatian publik karena dijual dengan harga sekitar Rp35 juta, jauh lebih murah dibanding mobil Jepang saat itu yang bisa mencapai Rp70 juta.
Ambisi menghadirkan mobil nasional Timor juga didukung oleh kerja sama dengan produsen otomotif Korea Selatan, Kia Motors. Dengan basis teknologi tersebut, mobil ini diharapkan mampu menjadi kendaraan rakyat sekaligus simbol kemandirian industri nasional.
Ambisi Besar Mobil Nasional
Peluncuran mobil nasional Timor dilakukan secara resmi di Istana Negara pada Februari 1996. Model yang diperkenalkan adalah sedan 1.500 cc dengan dua varian, yakni Timor S515 dan Timor S515 Injection.
Tak berhenti di situ, Tommy Soeharto juga merencanakan pengembangan varian lain, termasuk model Jeep berkapasitas 2.000 cc. Target produksi pun ambisius, mencapai 50.000 unit per tahun dari pabrik di Cikampek, Jawa Barat.
Untuk mendukung proyek ini, investasi besar digelontorkan hingga ratusan juta dolar AS. Bahkan, disebutkan bahwa Tommy melepas sebagian aset bisnisnya, termasuk saham di Lamborghini, untuk mendanai proyek tersebut.
Persaingan di Lingkar Keluarga Cendana
Ambisi mobil nasional ternyata tidak hanya datang dari Tommy. Putra Soeharto lainnya, Bambang Trihatmodjo, juga ikut terjun dengan proyek serupa melalui kerja sama dengan Hyundai.
Lewat PT Citra Mobil Nasional, Bambang meluncurkan Bimantara Cakra dan Bimantara Nenggala. Kedua mobil ini juga dipasarkan dengan harga murah, bahkan ditargetkan di bawah Rp30 juta.
Namun, dalam praktiknya harga tersebut sulit diwujudkan. Harga mobil Bimantara justru melonjak hingga hampir dua kali lipat dari rencana awal.
Dukungan Pemerintah dan Kontroversi
Kesuksesan awal mobil nasional Timor tidak lepas dari dukungan pemerintah melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 1996. Kebijakan ini memberikan berbagai insentif, seperti pembebasan bea masuk dan kemudahan pajak.
Namun, kebijakan tersebut justru memicu protes dari negara lain. Amerika Serikat, Jepang, dan Uni Eropa menggugat Indonesia karena dianggap melanggar aturan perdagangan bebas internasional.
Kasus ini kemudian dibawa ke World Trade Organization (WTO), yang pada 1998 memutuskan bahwa program mobil nasional Indonesia melanggar aturan global dan harus dihentikan.
Runtuh Akibat Krisis 1998
Belum sempat berkembang lebih jauh, proyek mobil nasional Timor harus menghadapi badai krisis moneter 1998. Nilai tukar rupiah anjlok, ekonomi nasional terguncang, dan kekuasaan Soeharto berakhir.
Dampaknya, proyek-proyek besar yang terkait dengan keluarga Cendana, termasuk Timor dan Bimantara, ikut runtuh. Produksi berhenti dan mimpi menghadirkan mobil nasional pun terhenti.
Selain itu, PT Timor Putra Nasional juga dinyatakan merugikan negara hingga Rp3,5 triliun. Hingga bertahun-tahun kemudian, kewajiban tersebut masih menjadi persoalan hukum.
Warisan Sejarah Industri Otomotif
Kisah mobil nasional Timor menjadi pelajaran penting dalam sejarah industri otomotif Indonesia. Ambisi besar tanpa fondasi industri yang kuat serta ketergantungan pada kebijakan proteksi menjadi faktor utama kegagalannya.
Meski gagal, proyek ini tetap dikenang sebagai upaya awal Indonesia untuk mandiri di sektor otomotif. Kini, di era kendaraan listrik, wacana mobil nasional kembali muncul dengan pendekatan yang berbeda.
Apakah Indonesia mampu mewujudkan mimpi tersebut di masa depan? Sejarah mobil nasional Timor menjadi pengingat bahwa visi besar harus dibarengi strategi yang matang dan berkelanjutan.
Editor : Edo Trianto