JAKARTA - Depresiasi mobil menjadi faktor penting yang sering diabaikan saat membeli kendaraan. Padahal, memahami pola penurunan harga atau resale value bisa membantu konsumen menghindari kerugian besar, terutama untuk pembelian jangka panjang.
Dalam analisis terbaru, depresiasi mobil ternyata tidak terjadi secara seragam. Ada mobil yang mengalami penurunan harga tajam sejak tahun pertama, ada yang turun stabil, hingga ada yang cenderung “flat” setelah tahun keempat. Fakta ini membuat strategi membeli mobil bekas menjadi semakin relevan.
Depresiasi mobil juga menunjukkan bahwa tidak semua kendaraan cocok untuk investasi jangka panjang. Bahkan, beberapa tipe mobil bisa membuat pemiliknya “boncos” hanya dalam hitungan tahun.
Pola Depresiasi Mobil: Tidak Semua Sama
Secara umum, ada tiga pola utama depresiasi mobil. Pertama, mobil yang harganya turun drastis sejak awal hingga tahun ke-9. Kedua, mobil dengan penurunan moderat yang stabil. Ketiga, mobil yang turun di awal namun cenderung stabil setelah tahun keempat.
Menariknya, mobil dengan pola ketiga justru menjadi incaran karena nilai jualnya cenderung bertahan. Artinya, membeli mobil di usia 4 tahun bisa menjadi strategi cerdas untuk meminimalkan kerugian.
Sedan Luxury Paling Boncos
Mobil sedan luxury seperti Mercedes-Benz dan BMW terbukti mengalami depresiasi paling tajam. Rata-rata, harga jual kembali hanya tersisa sekitar 75% di tahun pertama, turun menjadi 59% di tahun keempat, dan anjlok ke 39% di tahun ke-9.
Beberapa model bahkan lebih ekstrem. BMW Seri 7 misalnya, menjadi salah satu mobil dengan depresiasi terburuk, dengan nilai hanya sekitar 23% setelah 8 tahun pemakaian.
Sementara itu, Mercedes-Benz C-Class dan S-Class relatif lebih baik dalam menjaga harga dibanding rivalnya. Namun tetap saja, kategori ini jelas bukan pilihan bagi yang ingin menjaga nilai investasi.
SUV Luxury Lebih Stabil
Berbeda dengan sedan, SUV luxury menunjukkan performa depresiasi yang lebih baik. Rata-rata nilai jual kembali masih berada di 82% pada tahun pertama, 68% di tahun keempat, dan 38% di tahun ke-9.
Model seperti Mercedes-Benz GLC dan GLE bahkan cenderung lebih unggul dibandingkan BMW X3 dan X5 dalam menjaga harga. Hal ini menunjukkan bahwa SUV premium lebih diminati pasar dibanding sedan mewah.
Baca Juga: Masa Libur Lebaran Usai, Tarif Penyeberangan Sungai Brantas di Blitar Kembali Normal
Mobil “Sejuta Umat” Lebih Tahan Harga
Mobil kategori mass market seperti MPV dan city car justru memiliki depresiasi yang jauh lebih rendah. Rata-rata, mobil seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, Mitsubishi Xpander, hingga Honda Brio masih memiliki nilai jual kembali 80–90% di tahun pertama.
Yang paling mencolok adalah Toyota Innova diesel dan Honda Brio, yang mampu mempertahankan hingga sekitar 94% nilai di tahun pertama. Bahkan setelah 9 tahun, beberapa MPV masih bertahan di kisaran 60–80%.
Baca Juga: 7 Mobil Bekas Rp50 Jutaan Paling Irit 2025, Dari Karimun hingga Starlet, Mana yang Paling Worth It?
Toyota Innova diesel menjadi bintang utama dengan depresiasi sangat rendah. Dalam 9 tahun, nilainya masih bisa bertahan hingga sekitar 86%. Artinya, biaya depresiasi per tahun relatif kecil, bahkan setara pengeluaran harian sederhana.
Land Cruiser dan MPV Jadi Raja Resale Value
Selain Innova diesel, Toyota Land Cruiser juga mencuri perhatian. Mobil ini hanya mengalami penurunan sekitar 1% di tahun pertama dan masih bertahan di 90% pada tahun keempat.
Baca Juga: Siap Batasi Anak Akses Medsos Diskominfotik Kebut Sosialisasi
Untuk kategori MPV, meski ada yang mengalami penurunan lebih besar seperti Suzuki Ertiga bensin, nilainya tetap lebih baik dibanding sedan. Bahkan, MPV terburuk sekalipun masih lebih stabil dibanding sedan terbaik.
Mobil Listrik dan Faktor Masa Depan
Mobil listrik menunjukkan tren yang beragam. Beberapa model mengalami depresiasi cepat hingga 70% dalam 1–2 tahun. Namun ada juga pengecualian seperti BYD Seal yang masih bertahan di 97% di tahun pertama.
Meski demikian, pasar mobil listrik dinilai masih sangat dinamis. Harga bisa berubah cepat tergantung teknologi baru, kompetitor, hingga kebijakan pemerintah.
Strategi Cerdas Beli Mobil
Dari data tersebut, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan. Untuk mobil baru, penting menentukan kapan akan dijual kembali agar depresiasi bisa ditekan.
Sementara untuk mobil luxury, membeli dalam kondisi bekas usia 1–4 tahun bisa menjadi pilihan terbaik karena harga sudah turun signifikan namun kondisi masih prima.
Sebaliknya, jika ingin mobil yang minim depresiasi, MPV seperti Innova diesel atau city car seperti Brio bisa menjadi pilihan paling rasional.
Pada akhirnya, memahami depresiasi mobil bukan hanya soal angka, tetapi juga strategi agar pembelian kendaraan tetap menguntungkan dalam jangka panjang.
Editor : Dyah Wulandari