JAKARTA – Tren berburu mobil bekas jenis SUV kompak seperti Honda HRV bekas semakin meningkat, terutama di kalangan konsumen yang menginginkan kendaraan stylish dengan harga lebih terjangkau. Namun, di balik popularitasnya, ada sejumlah hal krusial yang wajib diperhatikan agar tidak salah pilih dan berujung biaya perbaikan mahal.
Dalam sebuah ulasan terbaru, dijelaskan bahwa Honda HRV bekas, khususnya keluaran 2015 hingga di bawah 2020, memiliki beberapa titik lemah yang sering luput dari perhatian calon pembeli. Padahal, jika tidak dicek secara detail, potensi kerugian bisa mencapai jutaan rupiah.
Transmisi CVT Jadi Sorotan Utama
Poin paling krusial dalam membeli Honda HRV bekas adalah kondisi transmisi, khususnya tipe otomatis CVT. Secara karakter, CVT menawarkan kenyamanan berkendara yang halus tanpa hentakan perpindahan gigi. Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat risiko kerusakan pada komponen belt baja.
Belt ini berfungsi menghubungkan dua pulley dalam sistem transmisi. Jika perawatan buruk atau penggunaan tidak wajar seperti sering berkendara agresif, risiko belt putus menjadi lebih besar. Dampaknya tidak main-main, karena biaya perbaikan bisa sangat tinggi.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain munculnya delay saat perpindahan gigi dari posisi P ke D atau R, serta adanya hentakan kasar. Dalam kondisi normal, mobil seharusnya langsung bergerak ketika pedal rem dilepas tanpa perlu diinjak gas.
Baca Juga: Toyota Alphard vs Toyota Avanza 2020, Pilih Mana? MPV Rp150 Jutaan Ini Bikin Bingung, Mewah vs Irit
Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, calon pembeli disarankan untuk menghindari unit tersebut atau membawa mekanik berpengalaman untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Masalah Elektrikal, Khususnya Modul ABS
Selain transmisi, sektor elektrikal juga menjadi perhatian penting dalam memilih Honda HRV bekas. Salah satu komponen yang kerap bermasalah adalah modul ABS (Anti-lock Braking System).
Kerusakan pada modul ini biasanya ditandai dengan munculnya indikator ABS di dashboard yang tidak mati setelah mesin dinyalakan. Jika dibiarkan, sistem pengereman bisa terganggu dan berisiko pada keselamatan.
Biaya perbaikan modul ABS tergolong mahal. Untuk penggantian baru, konsumen harus merogoh kocek hingga belasan juta rupiah. Alternatifnya adalah melakukan perbaikan dengan biaya sekitar Rp2-3 juta, atau membeli komponen copotan dengan harga Rp5-7 juta.
Karena itu, sangat disarankan untuk melakukan scanning menggunakan alat diagnostik sebelum membeli. Pastikan tidak ada error code yang muncul agar terhindar dari masalah di kemudian hari.
Kaki-Kaki Rentan Bermasalah
Poin ketiga yang tak kalah penting adalah kondisi kaki-kaki. Honda HRV dikenal memiliki kaki-kaki yang relatif lebih rentan dibandingkan beberapa kompetitornya.
Beberapa komponen seperti rack steer, tie rod, dan ball joint sering mengalami keausan, bahkan pada kilometer yang belum terlalu tinggi. Hal ini bisa disebabkan oleh karakter penggunaan sebelumnya, seperti sering melibas jalan rusak atau lubang.
Gejala yang umum muncul adalah setir terasa oblak atau muncul bunyi saat melewati jalan tidak rata. Meski demikian, perbaikan kaki-kaki masih tergolong terjangkau. Dengan budget sekitar Rp1-3 juta, kondisi bisa kembali normal, kecuali untuk penggantian rack steer baru yang harganya jauh lebih mahal.
Mesin Relatif Aman, Tapi Tetap Perlu Dicek
Di luar tiga poin utama tersebut, sektor mesin pada Honda HRV bekas justru relatif aman. Mesin Honda dikenal bandel dan jarang mengalami masalah serius, selama perawatan rutin dilakukan.
Namun, tetap penting untuk memastikan kondisi mesin dalam keadaan prima, termasuk mengecek suara mesin, performa, serta riwayat servis.
Kesimpulan
Membeli Honda HRV bekas memang bisa menjadi pilihan cerdas, tetapi tetap memerlukan ketelitian. Tiga komponen utama yang wajib diperhatikan adalah transmisi CVT, modul ABS, dan kaki-kaki.
Dengan pengecekan menyeluruh dan bantuan tenaga ahli, risiko mendapatkan unit bermasalah bisa diminimalkan. Sebaliknya, jika diabaikan, biaya perbaikan yang muncul justru bisa lebih besar dari selisih harga mobil itu sendiri.
Editor : Divka Vance Yandriana