TULUNGAGUNG – Nama besar Honda di Indonesia memang identik dengan citra premium, mesin bertenaga, dan gaya hidup berkelas. Namun, bagi Anda warga Tulungagung dan sekitarnya yang sedang berburu kendaraan di bursa mobil Honda bekas, jangan sampai dibutakan oleh logo "H" tegak. Tidak semua model pabrikan Jepang ini layak dipelihara untuk kebutuhan harian, terutama bagi pemula yang menginginkan mobil minim masalah.
Memilih mobil Honda bekas memerlukan ketelitian ekstra karena beberapa model legendaris justru menyimpan "penyakit abadi" yang sulit disembuhkan. Mulai dari masalah transmisi CVT yang rentan rontok hingga kelistrikan yang sering bertingkah, beberapa unit ini justru bisa menjadi beban finansial yang menguras tabungan. Jika salah pilih, niat hati ingin tampil gaya malah berakhir dengan mobil yang lebih sering "menginap" di bengkel.
"Merek premium bukan jaminan bebas masalah. Ada beberapa unit Honda yang biaya perawatannya sudah tidak masuk akal jika dibandingkan dengan harga pasaran mobilnya saat ini. Konsumen harus rasional dan tidak sekadar ikut tren," ujar seorang pengamat otomotif saat meninjau bursa mobil bekas di Jawa Timur.
1. Honda Freed: Desain JDM Tapi Performa Loyo
Meskipun memiliki desain pintu geser (sliding door) yang sangat unik dan kental aura JDM, Honda Freed masuk dalam daftar hitam untuk dibeli saat ini. Masalah utama terletak pada mesin 1.5 i-VTEC yang terasa sangat loyo saat membawa beban penuh, terutama ketika AC menyala.
Selain performa yang menggerung, sliding door elektriknya sering mengeluarkan bunyi berdecit yang sangat mengganggu. Biaya perbaikan sektor kelistrikan dan pintu geser ini dikenal sangat mahal. Ditambah lagi, karakter suspensinya yang keras membuat kenyamanan berkendara di jalanan bergelombang menjadi sangat minim.
2. Honda Mobilio CVT: Waspada Transmisi 'Mimpi Buruk'
Honda Mobilio keluaran awal (2014) sebenarnya adalah MPV yang menyenangkan, namun khusus varian transmisi CVT, Anda harus waspada. Transmisi matik pada model ini dikenal cukup lemah. Gejala awalnya adalah munculnya suara dengung dari bearing yang haus hingga risiko sabuk baja (belt) yang rontok satu per satu.
Jika tetap ingin meminang Mobilio, sangat disarankan memilih transmisi manual. Selain masalah transmisi, Mobilio juga sering mengalami kebocoran pada master rem. Harga jual kembalinya pun cenderung anjlok karena posisinya yang terjepit oleh Honda BR-V di pasar barang bekas.
3. Honda Brio Gen 1: Kabin Berisik dan Limbung di Tol
Sebagai mobil murah di zamannya, Honda Brio generasi pertama (2012-2015) terasa sangat "seadanya". Kabinnya jauh dari kata kedap, dasbor sering berisik, dan lampu utamanya kurang terang. Penyakit abadi seperti engine mounting kanan yang sering jebol dan radiator extra fan yang lemah menjadi catatan wajib bagi calon pembeli.
Pengalaman berkendara di jalan tol pun kurang menyenangkan karena mobil terasa limbung saat menyentuh kecepatan 80 km/jam. Dengan harga bekas yang masih bertahan di angka Rp90 jutaan, masih banyak opsi mobil lain yang jauh lebih stabil dan nyaman.
4. Honda Stream 2002: Mobil Ikonik yang 'Penyakitan'
Dulu dianggap mobil mewah, kini Honda Stream tahun tua menjadi momok bagi pemiliknya. Penyakit yang sering dikeluhkan adalah pompa power steering yang rentan bocor dan sensor TDC yang lemah. Jika sensor ini bermasalah, mesin bisa mati tiba-tiba di tengah jalan dan hanya bisa hidup setelah didiamkan beberapa saat. Mendapatkan unit Stream yang benar-benar sehat di tahun 2026 ini hampir mustahil, sehingga sangat tidak disarankan untuk mobil pertama.
5. Honda CR-V Gen 2 (RD4): Si Mewah yang Haus Bensin
Honda CR-V generasi kedua memang menawarkan kegagahan SUV sejati, namun konsumsi BBM-nya sangat mengerikan, yakni hanya berkisar 5-7 km/liter di dalam kota. Karakter mesin yang bermain di RPM tinggi membuatnya sangat boros. Selain itu, perbaikan sektor kaki-kaki pada SUV mewah ini memakan biaya yang sangat mahal. Meskipun harganya kini hanya Rp60-80 jutaan, biaya operasional hariannya bisa membuat keuangan Anda hancur lebur.
Editor : Natasha Eka Safrina