TULUNGAGUNG – Di jagat otomotif tanah air, nama Daihatsu Sigra seolah menjadi paradoks yang tak berujung. Sejak resmi diluncurkan pada 2015, mobil ini konsisten menyandang dua predikat sekaligus: mobil yang paling sering dihujat dan mobil yang paling laris manis di pasar. Bagi masyarakat Tulungagung dan sekitarnya, pemandangan Sigra yang berseliweran sebagai taksi online atau mobil keluarga muda adalah hal biasa. Namun, di balik angka penjualan yang selalu menembus 10 besar nasional, tersimpan ulasan negatif yang nyaris menjadi "legenda" di kalangan pengamat transportasi.
Kritik pedas terhadap Daihatsu Sigra biasanya berpusat pada kualitas material yang dianggap terlalu banyak kompromi demi mengejar harga murah. Sebagai kasta LCGC (Low Cost Green Car) tujuh penumpang, Sigra memang dirancang untuk menjangkau kalangan menengah ke bawah. Namun, kompromi tersebut melahirkan berbagai keluhan, mulai dari bodi yang setipis "kaleng kerupuk", insulasi suara yang buruk, hingga fenomena suspensi belakang yang ambles saat dipenuhi penumpang.
"Sigra itu cermin realitas ekonomi kita. Banyak yang menghujat karena kualitasnya dianggap 'seadanya', tapi faktanya masyarakat kita sangat butuh mobil tujuh penumpang dengan harga terjangkau. Akhirnya, sifat 'ya sudahlah' khas orang Indonesia yang membuat mobil ini tetap merajai jalanan meski penuh kekurangan," ujar seorang pengamat kebijakan otomotif di Jawa Timur.
Kualitas Material yang Sering Dicap 'Murahan'
Salah satu poin utama yang membuat Daihatsu Sigra sering menjadi bahan bulan-bulanan adalah ketipisan bodinya. Tanpa perlu diketuk, lekukan bodi dan kualitas catnya sudah menunjukkan upaya penekanan biaya produksi yang ekstrem. Tak heran, banyak hasil insiden kecelakaan ringan menunjukkan kerusakan yang cukup masif pada mobil ini.
Selain bodi, masalah peredaman suara atau insulasi pada generasi awal Sigra tergolong sangat parah. Saking tipisnya pembatas kabin, suara percakapan pengendara motor di lampu merah pun bisa terdengar jelas oleh penumpang di dalam. Fenomena ini sering dijuluki netizen sebagai "Kabin Gibah", di mana privasi penumpang seolah terganggu oleh kebisingan dari luar yang masuk tanpa hambatan.
Kontroversi Seven Seater: Ternyata Bukan untuk Dewasa?
Kebohongan publik menjadi isu yang sempat memanas selama tiga tahun awal kemunculan Daihatsu Sigra. Awalnya, produsen mengklaim mobil ini sebagai seven seater murni. Namun, kenyataannya baris ketiga sama sekali tidak layak diduduki orang dewasa. Ruang kaki yang sempit dan posisi duduk yang tidak ergonomis membuat penumpang dewasa tersiksa dalam perjalanan jauh.
Lebih parah lagi, ketika dipaksa membawa tujuh orang dewasa, suspensi belakang Sigra akan langsung ambles. Kondisi ini tidak hanya merusak estetika kendaraan, tetapi juga menjatuhkan performa mesin secara drastis karena beban yang tidak proporsional. Barulah pada tahun 2019, pihak pabrikan mengakui secara resmi bahwa baris ketiga Sigra sebenarnya hanya didesain untuk anak-anak, sebuah pernyataan yang dianggap telat oleh banyak pihak.
Performa Mesin dan Adaptasi Teknologi Terbaru
Bicara soal performa, Daihatsu Sigra dibekali mesin yang hanya bisa dibilang "cukup" untuk penggunaan harian. Respon gas yang terlalu agresif namun tidak dibarengi dengan tenaga yang linear sering dikeluhkan, terutama pada varian mesin 3 silinder 1.000 cc. Belum lagi urusan kaki-kaki yang terasa keras, bahkan dibanding mobil-mobil keluaran lama.
Namun, pada generasi terbaru, Sigra mulai berbenah. Untuk tipe M ke atas, teknologi drive by wire dan fitur eco indicator sudah disematkan untuk mengejar efisiensi BBM yang lebih baik, bukan untuk performa balap. Fitur keselamatan seperti dual airbag, ABS, EBD (pada tipe matik), hingga side impact beam kini sudah menjadi standar untuk varian menengah ke atas, memberikan rasa aman sedikit lebih baik bagi penggunanya.
Layakkah Sigra Terus Dihujat?
Pada akhirnya, apakah Daihatsu Sigra layak terus dihujat atau justru layak disyukuri sebagai solusi transportasi murah, kembali kepada perspektif masing-masing konsumen. Bagi mereka yang kritis terhadap standar keselamatan dan kualitas global, Sigra mungkin dianggap produk gagal. Namun bagi keluarga yang baru pertama kali pindah dari motor ke mobil, Sigra adalah berkah yang patut disyukuri.
Editor : Natasha Eka Safrina