RADAR BLITAR – Nissan Grand Livina bekas masih menjadi salah satu pilihan menarik di segmen mobil keluarga. Namun, di balik kenyamanannya, mobil ini kerap mendapat stigma sebagai kendaraan yang “penyakitan”. Lalu, benarkah Nissan Grand Livina bekas tidak layak dibeli?
Dalam perbincangan soal mobil bekas, khususnya di kelas MPV, konsumen biasanya mempertimbangkan beberapa hal penting. Mulai dari keawetan mesin, harga spare part, hingga kemudahan perawatan. Hal ini membuat mobil Jepang seperti Toyota, Honda, hingga Mitsubishi lebih sering dilirik. Di tengah persaingan tersebut, Nissan Grand Livina justru sering dipandang sebelah mata.
Padahal, Nissan Grand Livina bekas memiliki sejumlah keunggulan yang tidak bisa diabaikan, terutama dari sisi kenyamanan berkendara. Namun, sebelum memutuskan membeli, ada baiknya memahami kelebihan dan kekurangan mobil ini secara menyeluruh.
Penyakit Umum Nissan Grand Livina Bekas
Salah satu isu paling sering muncul pada Nissan Grand Livina adalah suara mesin ngelitik, khususnya pada generasi awal (L10). Masalah ini biasanya disebabkan oleh penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai, filter udara kotor, throttle body kotor, hingga sistem EGR yang bermasalah.
Meski terdengar mengganggu, suara ngelitik ini sebenarnya tidak selalu berbahaya bagi mesin. Pada generasi lebih baru (L11), masalah ini sudah berkurang karena adanya penyempurnaan teknologi mesin.
Selain itu, performa mesin juga kerap dianggap kurang bertenaga, terutama pada varian transmisi otomatis CVT. Akselerasi awal terasa lambat dibandingkan kompetitor seperti Honda Mobilio. Namun, pada kecepatan menengah hingga tinggi, performa Grand Livina justru cukup stabil.
Masalah lain yang cukup dikenal adalah coil bocor. Gejalanya, mesin terasa pincang saat digunakan. Meski tergolong masalah ringan, kondisi ini cukup mengganggu jika terjadi di perjalanan jauh.
Tak hanya itu, isu overheat juga sering dikaitkan dengan mobil ini. Suhu kerja mesin Grand Livina memang relatif lebih tinggi dibandingkan mobil Jepang lainnya. Dalam beberapa kasus, bagian heat insulator knalpot bisa terbakar jika tidak dirawat dengan baik.
Kaki-Kaki dan Umur Kendaraan Jadi Faktor
Pada beberapa unit, terutama yang sudah berusia tua, masalah kaki-kaki seperti ball joint lepas juga ditemukan. Namun, hal ini sebenarnya wajar mengingat usia kendaraan yang rata-rata sudah di atas 7 tahun.
Perlu dipahami, Nissan Grand Livina generasi pertama hadir sejak 2007, sementara generasi L11 mulai dipasarkan pada 2013. Artinya, hampir semua unit yang beredar saat ini sudah masuk kategori mobil tua (motuba).
Dengan usia tersebut, wajar jika muncul berbagai masalah teknis. Namun, banyak unit Grand Livina yang masih bisa digunakan tanpa overhaul mesin, asalkan dirawat dengan baik.
Biaya Spare Part dan Ketersediaan
Salah satu pertimbangan penting sebelum membeli Nissan Grand Livina bekas adalah harga spare part. Dibandingkan mobil Jepang lainnya, harga komponen Livina cenderung lebih mahal.
Sebagai contoh, sensor oksigen untuk Grand Livina bisa mencapai sekitar Rp5 juta di dealer resmi. Sementara pada kompetitor seperti Toyota Avanza, harga komponen serupa jauh lebih terjangkau.
Selain itu, ketersediaan spare part juga menjadi tantangan. Banyak komponen harus inden terlebih dahulu, bahkan bisa memakan waktu hingga dua minggu. Hal ini dipengaruhi oleh terbatasnya jaringan dealer Nissan saat ini.
Meski demikian, solusi alternatif tersedia melalui spare part aftermarket yang kini semakin mudah ditemukan di pasaran.
Kekurangan di Sektor Kenyamanan Kabin
Meski dikenal nyaman, Nissan Grand Livina memiliki kekurangan di sektor pendingin kabin. Mobil ini belum dilengkapi AC double blower yang optimal untuk baris ketiga.
Akibatnya, penumpang di baris belakang kerap merasakan suhu yang lebih panas dibandingkan baris depan. Ini menjadi catatan penting bagi keluarga yang sering menggunakan semua baris kursi.
Selain itu, tingkat kekedapan kabin juga masih bisa ditingkatkan. Suara dari luar, seperti kendaraan lain, masih cukup terasa masuk ke dalam kabin.
Masih Layak Dibeli, Asal Tahu Cara Merawat
Terlepas dari berbagai kekurangan, Nissan Grand Livina bekas tetap layak dipertimbangkan. Mobil ini menawarkan kenyamanan berkendara yang bahkan sering disandingkan dengan sedan.
Pilihan antara generasi L10 dan L11 juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. L10 lebih unggul dari sisi transmisi konvensional yang lebih tahan banting, sementara L11 menawarkan desain lebih modern meski menggunakan CVT.
Kesimpulannya, Nissan Grand Livina bukanlah mobil yang benar-benar “penyakitan”. Sebagian besar masalah muncul akibat faktor usia dan perawatan yang kurang optimal.
Bagi calon pembeli yang memahami karakter mobil ini dan siap melakukan perawatan dengan benar, Nissan Grand Livina bekas bisa menjadi pilihan mobil keluarga yang nyaman dengan harga terjangkau.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina