BLITAR - Tensi sepak bola tanah air mendadak memanas menyusul keputusan kontroversial dalam laga pekan ke-34 Liga 1 2026. Dunia maya dan nyata bergejolak hebat setelah mencuatnya skandal gol haram Dewa United saat menjamu Persib Bandung di Stadion Indomilk Arena. Protes keras para Bobotoh yang merasa poin tim kesayangannya dirampok bukan sekadar isapan jempol, melainkan memicu reaksi berantai hingga ke level otoritas tertinggi sepak bola dunia.
Bahkan, tersiar kabar bahwa Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina, memberikan perhatian khusus terhadap insiden ini. Skandal gol haram Dewa United tersebut dinilai bukan sekadar kesalahan teknis biasa, melainkan sebuah kelalaian serius yang mencoreng prinsip fair play. "Keputusan yang diambil tidak dapat diterima di level profesional. Ini adalah pelanggaran serius terhadap prinsip dasar keadilan dalam sepak bola," tegas Collina dalam sebuah pernyataan yang mengejutkan banyak pihak.
Sorotan utama dalam skandal gol haram Dewa United ini tertuju pada gol pertama tim tuan rumah. Dalam rekaman yang viral di media sosial, terlihat jelas bahwa bola telah keluar lapangan secara penuh sebelum gol tercipta. Namun, wasit Yoko Suprianto tetap mengesahkan gol tersebut meski pemain Persib melakukan protes keras. Ketidakadaan teknologi Video Assistant Referee (VAR) dalam laga krusial ini memperparah keadaan, membuat kredibilitas liga kembali dipertanyakan oleh publik sepak bola Indonesia.
Sanksi Berat Menanti dan Opsi Tanding Ulang
Menanggapi kontroversi yang kian membesar, PSSI melalui Ketua Umum Erick Thohir menyatakan sikap tegas. Ia menyebut insiden ini sebagai tamparan keras bagi kredibilitas sepak bola Indonesia. Investigasi menyeluruh kini tengah dilakukan dengan melibatkan koordinasi langsung dari pihak FIFA. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa wasit Yoko Suprianto terancam sanksi pencabutan lisensi internasional secara permanen serta denda finansial yang sangat berat.
Selain sanksi personal, wacana pertandingan ulang antara Persib Bandung dan Dewa United juga mulai mengemuka. Langkah drastis ini direkomendasikan demi menjaga keadilan kompetisi, mengingat hasil imbang 2-2 sangat dipengaruhi oleh keputusan wasit yang keliru. "Tugas saya bukan menyenangkan satu klub, tapi menjaga ekosistem sepak bola tetap sehat," ujar Erick Thohir di Jakarta semalam.
Analisis Pengamat dan Reaksi Tokoh
Pengamat sepak bola senior, Bung Binder, turut memberikan analisis tajamnya. Ia menilai Persib Bandung berada di pihak yang sangat dirugikan secara mental dan taktis. Menurutnya, gol yang tidak sah tersebut merusak fokus para pemain Pangeran Biru yang sedang berjuang di jalur perebutan gelar juara. Dukungan terhadap perjuangan Persib juga datang dari komisaris klub, Umuh Muchtar, yang dengan lantang meminta keadilan ditegakkan agar marwah sepak bola nasional tidak jatuh di mata internasional.
Di sisi lain, publik juga diingatkan dengan duka Timnas U-17 Indonesia yang baru saja tersingkir dari ASEAN Championship U-17 2026. Pelatih Kurniawan Dwi Yulianto secara ksatria memohon maaf atas kegagalan Garuda Asia melaju ke semifinal. Rentetan peristiwa ini, mulai dari skandal perwasitan hingga kegagalan di level internasional, menjadi momentum besar bagi PSSI untuk melakukan reformasi total terhadap sistem sepak bola kita, mulai dari pembinaan usia dini hingga profesionalisme perangkat pertandingan.
Kini, publik menanti langkah nyata dari federasi. Apakah pertandingan ulang akan benar-benar digelar, ataukah sanksi terhadap wasit hanya akan menjadi formalitas belaka? Yang pasti, integrasi teknologi seperti VAR sudah bukan lagi pilihan, melainkan keharusan mendesak agar skandal gol haram Dewa United tidak pernah terulang kembali di masa depan. Sepak bola Indonesia harus berbenah, atau kita akan terus terjebak dalam pusaran kontroversi yang tak berujung.
Editor : Saifullah Muhammad Jafar