BANDUNG – Di tengah gempuran mobil keluarga yang menjanjikan efisiensi tinggi, nama Peugeot 206 bekas kembali mencuat sebagai opsi menarik bagi mereka yang ingin bergaya Eropa dengan modal minim. Namun, momok utama mobil Prancis era 2000-an ini seringkali dicap sebagai mobil yang "haus" bahan bakar. Benarkah demikian? Sebuah pengujian mandiri rute Bandung-Cianjur bolak-balik baru-baru ini mencoba membongkar fakta di balik konsumsi BBM mobil mungil ini.
Peugeot 206, yang di masa kejayaannya sempat menjadi idola anak muda berkat desain timeless-nya, kini dibanderol dengan harga yang sangat terjangkau, bahkan banyak yang di bawah Rp50 juta. Namun, bagi para pengguna "motuba" (mobil tua bangka), pertanyaan utamanya bukan lagi soal harga beli, melainkan seberapa dalam mobil ini menguras kantong saat diajak jalan jauh.
Fakta Konsumsi BBM: Pertalite vs Shell Super
Dalam pengujian awal menggunakan bahan bakar jenis Pertalite, Peugeot 206 bekas lansiran tahun 2003 ini mencatatkan angka yang cukup mengejutkan, yakni sekitar 1 banding 7 (1 liter untuk 7 km). Angka ini tentu tergolong boros untuk sebuah hatchback bermesin 1.400 cc, apalagi perjalanan yang dilakukan mencakup rute luar kota Bandung-Cianjur.
Atas saran dari bengkel spesialis, pengujian kedua dilakukan dengan metode full-to-full menggunakan BBM dengan oktan lebih tinggi, yakni Shell Super (setara Pertamax). Hasilnya cukup signifikan. Dengan menempuh jarak total 203 kilometer rute kombinasi (kota, tol, dan macet parah libur Iduladha), mobil ini menghabiskan 21,59 liter. Artinya, konsumsi BBM rata-ratanya naik menjadi 1 banding 9,2.
Meskipun belum menyentuh angka "irit" yang diharapkan yakni di atas 1 banding 10, penggunaan BBM berkualitas terbukti mampu memperbaiki efisiensi mesin tua. Kondisi jalanan yang macet di titik-titik rawan seperti Padalarang dan Rajamandala menjadi faktor utama mengapa angka efisiensi tidak bisa maksimal.
Kenyamanan dan Kecanggihan di Balik Usia Tua
Di balik isu bensin, Peugeot 206 bekas tetap menawarkan kelebihan yang sulit didapat pada mobil Jepang sekelasnya di tahun yang sama. Sektor kekedapan suara dan stabilitas atap masih terasa solid. Yang menarik, meskipun unit ini sudah berusia lebih dari 20 tahun, sistem sensornya tergolong canggih.
"Sempat muncul lampu check engine bertanda 'STOP' dan simbol rem. Ternyata sensornya masih sangat sensitif untuk mendeteksi minyak rem yang kurang atau kampas rem yang mulai tipis. Untuk mobil tahun 2003, ini cukup mengesankan," ujar Bakti, sang penguji.
Selain itu, masalah klasik mobil Eropa yakni overheat tidak ditemukan dalam perjalanan ini. Suhu radiator terpantau stabil di angka 80 hingga 90 derajat Celcius, meskipun suhu luar ruangan sedang panas terik di siang hari.
Apakah Masih Layak Dipinang di Tahun 2026?
Membeli Peugeot 206 bekas di tahun 2026 memang memerlukan persiapan khusus. Dengan harga unit yang banyak ditemukan di bawah Rp40 juta, calon pembeli disarankan menyiapkan dana tambahan (spare budget) sekitar Rp10 juta untuk perbaikan sektor kaki-kaki dan tune up mesin agar performa kembali optimal.
Kelemahan utama yang sering ditemui memang terletak pada sektor kaki-kaki dan transmisi matik yang butuh perhatian ekstra. Namun, bagi mereka yang mencari mobil dengan estetika Eropa yang kuat, kenyamanan suspensi yang empuk, dan fitur keamanan sensorik yang lebih baik dari mobil murah modern, Peugeot 206 tetap menjadi pilihan worth it.
Untuk mendapatkan konsumsi BBM yang lebih irit, para ahli menyarankan untuk melakukan remap ECU atau optimasi sistem pengapian. Dengan perawatan yang tepat, mobil yang pernah mendominasi ajang WRC (World Rally Championship) ini masih sangat layak untuk dijadikan kendaraan harian di perkotaan.
Editor : Natasha Eka Safrina