BLITAR KAWENTAR - Mazda 2 pernah digadang-gadang menjadi hatchback premium paling menarik di Indonesia.
Desain sporty, handling presisi, hingga performa yang menyenangkan membuat mobil ini sempat dipuji sebagai salah satu hatchback terbaik di kelasnya.
Namun ironisnya, penjualan Mazda 2 justru terus merosot dan kalah jauh dari rival seperti Honda Jazz, Toyota Yaris, hingga Suzuki Swift.
Fenomena merosotnya penjualan Mazda 2 kembali menjadi perbincangan pecinta otomotif.
Banyak yang menilai mobil ini sebenarnya memiliki kualitas di atas rata-rata, tetapi gagal memenangkan hati konsumen Indonesia karena faktor harga dan perubahan tren pasar.
Mazda 2 pertama kali masuk Indonesia pada 2009 dan langsung menantang dominasi Honda Jazz GE8, Toyota Yaris Bakpao, Ford Fiesta MK6, dan Suzuki Swift.
Saat itu, Mazda hadir dengan slogan “Zoom-Zoom” yang sukses membangun citra sporty dan fun to drive.
Bahkan Mazda 2 generasi kedua berhasil meraih penghargaan World Car of the Year.
Namun prestasi global itu ternyata tidak otomatis mendongkrak penjualan di Indonesia.
Baca Juga: Review Datsun Go Plus Bekas, Murah dan Irit, Tapi Kabin Belakang Bikin Penumpang Dewasa Tersiksa
Harga Mazda 2 Dinilai Terlalu Mahal
Salah satu penyebab utama Mazda 2 sulit bersaing adalah harga jualnya yang terus naik.
Saat hatchback lain bermain di kisaran Rp200 juta hingga Rp330 juta, Mazda 2 justru dijual mulai Rp371 juta.
Harga tersebut dianggap terlalu dekat dengan segmen SUV compact yang kini jauh lebih diminati masyarakat Indonesia.
Toyota Yaris GR Sport CVT dijual mulai Rp326 juta, Honda City Hatchback RS sekitar Rp337 juta, sedangkan Suzuki Baleno masih berada di kisaran Rp200 jutaan. Di sisi lain, Mazda 2 sudah mendekati harga Honda HR-V hingga Toyota Zenix.
Kondisi ini membuat banyak konsumen menerapkan pola pikir “mending SUV”. Dengan selisih harga yang tipis, masyarakat lebih memilih mobil dengan kabin lebih besar dan ground clearance lebih tinggi.
Tidak hanya itu, Mazda juga dianggap terlalu lama mempertahankan desain Mazda 2. Meski tetap terlihat elegan dan timeless, desain mobil ini dinilai mulai tertinggal karena basis utamanya masih berasal dari model 2014.
Penjualan Mazda 2 Terus Menurun
Mazda sebenarnya sempat menikmati masa kejayaan Mazda 2 pada 2015 dan 2016.
Saat itu Mazda 2 menyumbang lebih dari 60 persen total penjualan Mazda Indonesia.
Namun setelah 2016, kontribusinya terus turun drastis. Pada 2021, penjualan Mazda 2 hanya mencapai 642 unit, termasuk versi sedan. Tahun 2022 bahkan turun menjadi 389 unit.
Padahal Mazda sempat memberikan facelift pada 2023. Sayangnya penyegaran tersebut dianggap terlalu minor dan gagal menarik perhatian pasar.
Banyak pengamat menilai konsumen mulai melihat Mazda 2 sebagai hatchback mahal dengan desain lama. Apalagi Mazda kini memiliki CX-3 yang tampil lebih modern dan berada di segmen SUV compact yang sedang naik daun.
Tetap Jadi Hatchback Paling Menyenangkan ?
Meski penjualannya jeblok, Mazda 2 tetap mendapat banyak pujian dari sisi pengalaman berkendara.
Mobil ini menggunakan mesin 1.5 liter SkyActiv-G empat silinder dengan tenaga 111 PS dan torsi 144 Nm.
Di atas kertas memang tidak terlihat spesial. Namun saat dikendarai, karakter mesinnya terasa responsif dan sporty.
Handling Mazda 2 bahkan sering disebut sebagai salah satu yang terbaik di kelas hatchback. Suspensinya dibuat cukup rigid sehingga mobil terasa stabil saat bermanuver dalam kecepatan tinggi.
Teknologi G-Vectoring Control juga membuat mobil ini terasa lebih presisi dibanding rival-rivalnya.
Sayangnya sensasi fun to drive itu harus ditebus dengan biaya kepemilikan yang tinggi. Spare part Mazda dikenal mahal dan pilihan aftermarket-nya cukup terbatas.
Faktor inilah yang membuat Mazda 2 sulit dianggap sebagai mobil value for money oleh sebagian besar konsumen Indonesia.
Meski demikian, Mazda 2 tetap memiliki penggemar loyal. Build quality yang baik, desain premium, dan pengalaman berkendara yang menyenangkan membuat hatchback ini masih dianggap spesial di mata pecinta otomotif.
Kini publik menunggu langkah Mazda selanjutnya. Apakah Mazda 2 akan mendapatkan generasi baru, berubah total, atau justru dipensiunkan dari pasar Indonesia ?
Baca Juga: Review Datsun Go Plus Bekas, Murah dan Irit, Tapi Kabin Belakang Bikin Penumpang Dewasa Tersiksa
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan