BLITAR - Smooth Zuzu motor listrik kembali menjadi sorotan publik setelah seorang pengguna membagikan pengalaman dan keluh kesahnya usai memakai kendaraan listrik tersebut selama lebih dari satu bulan. Video yang diunggah di YouTube itu membahas berbagai kendala mulai dari jarak tempuh baterai, masalah swap baterai, hingga layanan servis yang dinilai belum maksimal.
Dalam video tersebut, pengguna mengaku awalnya tertarik menggunakan Smooth Zuzu motor listrik karena konsep baterai swap yang dianggap praktis dan modern. Namun setelah penggunaan harian, ia mulai menemukan sejumlah kekurangan yang cukup mengganggu.
Keluhan terkait motor listrik Smooth Zuzu ini pun menjadi perhatian warganet, terutama bagi calon pengguna kendaraan listrik yang ingin mengetahui pengalaman nyata pemakaian di lapangan.
Motor Baru Disebut Langsung Bermasalah
Pengguna mengungkapkan bahwa masalah pertama muncul saat motor baru diterima. Ia menyebut motor listrik tersebut sempat tidak bisa digas sehingga harus dilakukan penggantian SIM card pada sistem kendaraan.
Menurutnya, pengalaman awal itu cukup mengecewakan karena kendaraan baru seharusnya bisa langsung digunakan tanpa kendala teknis.
Selain itu, ia juga mengeluhkan performa jarak tempuh yang dianggap tidak sesuai ekspektasi. Pada spesifikasi resmi disebutkan motor mampu menempuh hingga 60 kilometer, namun dalam penggunaan sehari-hari angka tersebut dinilai sulit tercapai.
“Jaraknya pendek banget, enggak sampai sesuai yang ditulis,” ujarnya dalam video.
Infrastruktur Swap Baterai Dinilai Belum Merata
Salah satu kritik terbesar yang disampaikan adalah soal stasiun penukaran baterai atau swap station. Meski disebut sudah tersedia lebih dari 1.000 titik di Indonesia, pengguna merasa lokasi penukaran baterai masih terlalu jauh dan belum merata.
Ia mencontohkan wilayah Tangerang dan area sekitar bandara yang masih minim titik swap baterai. Menurutnya, lokasi penukaran baterai idealnya tersedia di lebih banyak tempat seperti SPBU, Alfamart, hingga minimarket lain agar pengguna lebih nyaman.
Tak hanya itu, beberapa stasiun swap juga disebut sering kehabisan baterai penuh. Saat datang ke lokasi, pengguna justru menemukan baterai dengan kapasitas rendah atau bahkan slot kosong.
Kondisi tersebut dinilai menyulitkan pengguna yang membutuhkan baterai penuh untuk perjalanan jauh atau aktivitas kerja sehari-hari.
Performa Tanjakan Kurang Maksimal
Keluhan lain muncul saat motor digunakan di jalan menanjak. Pengguna mengaku tenaga Smooth Zuzu mulai melemah ketika kapasitas baterai berada di bawah 50 persen.
Menurutnya, motor memang masih bisa menanjak, tetapi kecepatannya sangat lambat dan terasa kurang bertenaga.
Ia juga menyebut kendaraan kurang cocok digunakan untuk perjalanan jauh seperti ke kawasan Puncak karena keterbatasan infrastruktur swap baterai di daerah tersebut.
Service Center dan Customer Service Disorot
Selain masalah teknis dan baterai, layanan servis juga menjadi perhatian. Pengguna mengaku harus mengeluarkan biaya tambahan cukup besar saat motor mengalami kerusakan karena tidak tersedia layanan penjemputan unit.
Motor yang rusak harus dibawa sendiri ke service center di wilayah Jakarta Barat menggunakan jasa pengiriman seperti GoBox.
“Kalau motor rusak harus bawa sendiri, enggak ada pick up service,” katanya.
Customer service Smooth juga dinilai kurang responsif saat menangani keluhan pengguna. Meski tersedia layanan 24 jam, respons dianggap lambat dan solusi yang diberikan kurang membantu.
Tetap Dukung Motor Listrik di Indonesia
Meski menyampaikan banyak kritik, pengguna tersebut menegaskan dirinya tetap mendukung perkembangan motor listrik di Indonesia. Ia berharap berbagai kekurangan yang ada saat ini bisa menjadi evaluasi bagi produsen dan penyedia layanan baterai swap.
Menurutnya, konsep motor listrik tetap menjadi solusi penting untuk mengurangi polusi udara dan penggunaan bahan bakar fosil di masa depan.
Ia juga berharap infrastruktur kendaraan listrik di Indonesia terus berkembang agar masyarakat semakin nyaman beralih ke motor listrik untuk kebutuhan sehari-hari.
Editor : Axsha Zazhika