BLITAR - Motor listrik di Indonesia sempat digadang-gadang menjadi masa depan industri otomotif nasional. Namun, kenyataannya penjualan motor listrik justru mengalami penurunan drastis setelah subsidi dari pemerintah dihentikan. Bahkan, pasar motor listrik disebut mengalami penurunan hingga 80 persen sepanjang 2025.
Fenomena motor listrik sepi peminat ini memunculkan banyak pertanyaan di tengah gencarnya promosi kendaraan listrik dalam beberapa tahun terakhir. Padahal, pemerintah sebelumnya telah memberikan subsidi cukup besar untuk mendorong pembelian motor listrik di Indonesia.
Motor listrik di Indonesia awalnya dianggap memiliki peluang besar karena masyarakat Tanah Air dikenal sangat bergantung pada kendaraan roda dua. Harga motor yang relatif terjangkau, biaya perawatan murah, dan konsumsi energi yang efisien membuat sepeda motor menjadi alat transportasi utama jutaan orang.
Penjualan motor di Indonesia bahkan disebut bisa mencapai hampir 6 juta unit setiap tahun. Namun, ketika teknologi kendaraan listrik mulai masuk ke pasar roda dua, respons masyarakat ternyata belum sesuai harapan.
Subsidi Dicabut, Penjualan Motor Listrik Langsung Turun
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah sempat memberikan subsidi pembelian motor listrik untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik. Kebijakan itu memang sempat mendongkrak penjualan, meski belum terlalu signifikan.
Masalah mulai muncul ketika subsidi dihentikan. Penjualan motor listrik langsung mengalami penurunan tajam. Berbeda dengan mobil listrik yang penurunannya tidak terlalu drastis, pasar motor listrik justru disebut anjlok hingga 80 persen.
Baca Juga: Jarang Dibahas, Proton Exora 2009 Ternyata Punya Kabin Super Lega dan AC Super Dingin
Banyak masyarakat dinilai masih belum siap sepenuhnya beralih ke motor listrik. Salah satu penyebab utamanya adalah faktor kepraktisan yang dianggap kalah dibanding motor bensin.
Charging Lama dan SPKLU Masih Terbatas
Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, motor dipilih karena praktis dan mudah digunakan kapan saja. Ketika bensin habis, pengguna tinggal mengisi di SPBU yang tersedia hampir di setiap daerah.
Situasi berbeda terjadi pada motor listrik. Pengguna harus melakukan pengisian daya yang membutuhkan waktu cukup lama, bahkan bisa mencapai enam jam dalam sekali charging.
Selain itu, infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum atau SPKLU juga masih terbatas. Beberapa produsen memang sudah menyediakan teknologi swap battery atau tukar baterai, tetapi jumlah lokasinya masih sangat sedikit.
Hal ini membuat banyak pengguna merasa motor listrik kurang fleksibel untuk aktivitas sehari-hari, terutama perjalanan jarak jauh atau touring.
Jarak Tempuh dan Kecepatan Jadi Sorotan
Rata-rata motor listrik saat ini memiliki jarak tempuh sekitar 50 hingga 100 kilometer dalam sekali pengisian baterai. Di atas kertas, angka tersebut sebenarnya cukup untuk penggunaan harian di perkotaan.
Namun, dalam praktiknya banyak pengguna merasa jarak tempuh tersebut masih terbatas. Apalagi jika sewaktu-waktu harus melakukan perjalanan tambahan di luar rutinitas harian.
Kecepatan maksimal motor listrik juga masih dianggap kurang memuaskan oleh sebagian masyarakat. Banyak motor listrik memiliki top speed di bawah 100 kilometer per jam dan dinilai kurang nyaman untuk penggunaan jarak jauh.
Selain itu, kualitas suspensi beberapa motor listrik murah juga menjadi keluhan. Pengendara mengaku kurang nyaman saat melewati jalan tidak rata karena suspensinya terasa keras.
Harga Bekas Motor Listrik Dianggap Tidak Stabil
Masalah lain yang membuat masyarakat ragu membeli motor listrik adalah harga jual kembali yang dinilai anjlok. Bahkan, beberapa produsen disebut memberikan diskon besar-besaran terhadap produk motor listrik baru.
Contohnya terjadi pada salah satu motor listrik Honda yang awalnya dibanderol sekitar Rp50 juta hingga Rp60 juta, tetapi kemudian dijual dengan harga diskon sekitar Rp19 jutaan.
Kondisi tersebut membuat konsumen khawatir harga motor listrik bekas akan jatuh terlalu dalam.
Sistem Sewa Baterai Belum Cocok
Beberapa produsen sebenarnya mencoba menawarkan solusi melalui sistem sewa baterai. Dengan metode ini, harga motor menjadi lebih murah karena baterai tidak dibeli putus.
Namun, pengguna harus membayar biaya sewa baterai setiap bulan. Bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas membeli motor secara kredit, skema ini justru dianggap memberatkan karena harus membayar cicilan motor sekaligus biaya baterai.
Selain itu, pengguna tetap harus mengisi daya sendiri dan membayar biaya tambahan jika ingin melakukan swap battery.
Kurangnya Edukasi Jadi Kendala Besar
Pengamat menilai salah satu masalah terbesar industri motor listrik di Indonesia adalah kurangnya edukasi kepada konsumen. Banyak produsen dianggap hanya fokus menjual produk tanpa memberikan pemahaman mendalam soal manfaat motor listrik.
Padahal, edukasi dinilai menjadi kunci penting untuk membangun pasar baru. Contohnya pernah terjadi pada motor matic yang dulu juga sempat diragukan sebelum akhirnya diterima luas masyarakat Indonesia.
Karena itu, test ride dan sosialisasi manfaat motor listrik dinilai perlu diperbanyak agar masyarakat lebih memahami keunggulan kendaraan listrik dibanding motor bensin.
Editor : Axsha Zazhika