BLITAR - Saham Big Banks kembali menjadi perhatian investor pasar modal setelah harga saham bank-bank besar Indonesia mengalami penurunan tajam sepanjang tahun 2026. Meski begitu, di tengah pelemahan harga saham, dividen jumbo yang dibagikan justru memunculkan pertanyaan baru: apakah ini peluang emas atau justru sinyal bahaya bagi investor?
Berdasarkan pembahasan kanal edukasi investasi Baca Saham, empat saham bank besar yakni BCA (BBCA), Bank Mandiri (BMRI), BNI (BBNI), dan BRI (BBRI) sama-sama mengalami koreksi signifikan dari posisi harga tertingginya.
Per akhir April 2026, IHSG tercatat berada di level 6.956 atau turun 19,55 persen secara year to date. Kondisi tersebut turut menyeret saham sektor perbankan yang selama ini dikenal sebagai penopang utama indeks.
Data menunjukkan saham BBRI berada di level Rp2.990 atau turun 18 persen sepanjang 2026. Sementara BMRI berada di Rp4.390 turun 13 persen, BBCA di Rp5.850 turun 27 persen, dan BBNI di Rp3.720 melemah 14,8 persen year to date.
Harga Saham Big Banks Turun Lebih dari 40 Persen
Jika dibandingkan dengan posisi all time high, penurunan saham bank jumbo bahkan jauh lebih dalam. BBCA tercatat turun 46 persen dari level tertingginya di Rp10.950.
Sementara BMRI turun 41 persen, BBNI turun 40 persen, dan BBRI menjadi yang terdalam dengan penurunan mencapai 53 persen dari posisi tertingginya.
Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini justru memunculkan potensi capital gain besar apabila harga saham mampu kembali ke level sebelumnya.
“Bahkan saham sekelas BBCA yang dikenal anti badai tetap turun hampir 50 persen,” ungkap pembuat konten dalam videonya.
Laba Q1 2026 Masih Bertumbuh
Menariknya, di tengah koreksi harga saham, kinerja fundamental empat bank besar tersebut masih menunjukkan pertumbuhan positif pada kuartal pertama 2026.
BBCA mencatat laba Q1 2026 sebesar Rp14,6 triliun atau naik 3,8 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dianualisasi, laba BCA diproyeksikan mencapai Rp58,7 triliun hingga akhir tahun.
BMRI membukukan laba Rp15,3 triliun pada kuartal pertama 2026, naik 16,5 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan asumsi kinerja tetap stabil, laba Bank Mandiri diperkirakan mencapai Rp61,5 triliun sepanjang 2026.
Sementara itu, BBNI mencatat laba Rp5,6 triliun atau tumbuh 5,2 persen secara tahunan. Adapun BBRI diproyeksikan meraih laba Rp61,9 triliun setelah laba Q1 naik sekitar 13 persen.
Dari data tersebut, seluruh saham Big Banks masih mencatat pertumbuhan laba positif meski harga sahamnya tertekan.
PBV Makin Murah, Investor Mulai Melirik
Selain pertumbuhan laba, rasio Price to Book Value (PBV) saham bank besar juga mengalami penurunan signifikan.
BBCA kini memiliki PBV sekitar 2,7 kali, BMRI 1,3 kali, BBNI 0,8 kali, dan BBRI sekitar 1,4 kali.
Khusus BBNI, harga sahamnya bahkan sudah berada di bawah nilai modal per lembar saham perusahaan. Hal ini membuat sebagian investor mulai melihat saham bank jumbo sebagai aset yang mulai undervalued.
Dividen Jumbo Jadi Daya Tarik Utama
Salah satu faktor yang paling menarik perhatian investor adalah besarnya dividen yield yang ditawarkan saham perbankan pada 2026.
BBRI tercatat memiliki dividen yield sekitar 11,5 persen, sedangkan BMRI mencapai 10,8 persen. BBNI menawarkan yield sekitar 9,3 persen dan BBCA sekitar 5,7 persen.
Dengan harga saham yang turun cukup dalam sementara laba masih relatif stabil, yield dividen saham bank otomatis meningkat jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dalam simulasi yang dibahas, investor yang memiliki 100 ribu lembar saham BBRI berpotensi memperoleh dividen sekitar Rp34,6 juta sepanjang 2026, termasuk dividen interim dan final.
Jika dibagi rata per bulan, nominal tersebut setara pendapatan pasif sekitar Rp2,8 juta per bulan.
Strategi Reinvestasi Dividen Mulai Dilirik
Selain menunggu capital gain, investor juga mulai mempertimbangkan strategi reinvestasi dividen untuk meningkatkan jumlah aset.
Salah satu skenario yang dibahas adalah menggunakan dividen BBRI untuk membeli saham BMRI sebelum cum date dividen berikutnya.
Dengan strategi tersebut, investor berpotensi memperoleh dividen ganda dari dua saham bank berbeda dalam satu periode.
Meski demikian, pembuat video tetap mengingatkan bahwa seluruh simulasi tersebut bukan rekomendasi investasi dan tetap memiliki risiko kerugian yang harus ditanggung masing-masing investor.
Editor : Axsha Zazhika