BLITAR - Saham BBRI kembali menjadi sorotan investor setelah harga saham perbankan pelat merah itu turun drastis sepanjang tahun 2026. Meski begitu, laporan keuangan kuartal I atau Q1 2026 justru menunjukkan kinerja laba yang masih bertumbuh positif.
Dalam sebuah video analisa pasar modal yang ramai diperbincangkan investor retail, pembahasan mengenai saham BBRI menyoroti dua hal utama, yakni tekanan eksternal yang membuat harga saham jatuh dan peluang dividen besar yang masih terbuka lebar.
Per akhir April 2026, saham-saham big bank termasuk BBRI mengalami tekanan signifikan seiring melemahnya IHSG. Kondisi geopolitik global disebut menjadi salah satu pemicunya, terutama memanasnya konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang berdampak pada kenaikan harga minyak dunia.
Harga minyak mentah bahkan disebut telah menembus level USD105 per barel. Situasi tersebut membuat investor asing ramai-ramai keluar dari sektor perbankan Indonesia, termasuk saham BBRI.
Selain faktor global, tekanan terhadap saham bank juga dipicu adanya penurunan rating dari lembaga pemeringkat internasional yang membuat dana asing semakin agresif melakukan aksi jual.
“BBRI jebol ke level Rp2.990 karena kombinasi sentimen global dan keluarnya dana asing dari sektor perbankan,” ungkap pembahasan dalam video tersebut.
Laba BBRI Q1 2026 Masih Tumbuh 13 Persen
Di tengah tekanan harga saham, fundamental Bank Rakyat Indonesia justru masih menunjukkan performa positif. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi hingga Maret 2026, laba bersih BBRI tercatat mencapai Rp15,4 triliun.
Angka itu naik sekitar 13 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan laba tersebut dinilai menjadi sinyal bahwa kinerja operasional BBRI masih cukup solid meskipun pasar saham sedang bergejolak.
Jika melihat historinya, laba BBRI sempat melonjak tajam pada 2022 akibat stimulus besar-besaran yang diberikan pemerintah dan Bank Indonesia saat masa pemulihan pandemi Covid-19.
Namun setelah stimulus berkurang, pertumbuhan laba mulai melambat pada 2024 dan bahkan sempat mengalami penurunan pada 2025. Kini, kenaikan laba pada Q1 2026 dianggap menjadi tanda pemulihan baru bagi sektor perbankan nasional.
Dividen BBRI Diprediksi Bisa Tembus Rp390 per Saham
Salah satu hal yang paling menarik perhatian investor adalah potensi dividen BBRI tahun depan. Dalam analisa tersebut, apabila laba BBRI mampu mempertahankan pertumbuhan sekitar 13 persen hingga akhir tahun, maka dividen diproyeksikan meningkat signifikan.
Sebelumnya, total dividen BBRI tahun buku 2025 mencapai Rp346 per saham. Dengan asumsi laba terus naik, dividen tahun berikutnya diperkirakan bisa mencapai Rp390 per saham.
Jika dihitung menggunakan harga saham saat ini, maka potensi dividend yield BBRI bisa mendekati 13 persen. Angka itu dinilai sangat besar untuk ukuran saham perbankan.
Kondisi tersebut membuat saham BBRI tetap menarik bagi investor yang mengincar passive income dari dividen, meskipun harga saham masih berfluktuasi.
Investor Diminta Punya Mental Kuat
Meski menawarkan dividen tinggi, investasi di saham perbankan disebut bukan untuk semua orang. Dalam pembahasan tersebut ditegaskan bahwa saham bank seperti BBRI membutuhkan mental investasi yang kuat karena pergerakan harganya bisa sangat fluktuatif.
Tidak sedikit investor retail yang panik ketika mengalami floating loss beberapa persen lalu buru-buru menjual sahamnya. Padahal, bagi investor jangka panjang, penurunan harga justru sering dianggap peluang untuk mengakumulasi saham.
“Kalau mau main saham perbankan, harus punya mental baja,” ujar pembicara dalam video tersebut.
Menurutnya, investor besar justru mulai melirik sektor perbankan ketika aset mereka semakin besar. Hal itu karena bank dinilai memiliki fundamental kuat dan mampu memberikan arus dividen stabil dalam jangka panjang.
Prospek Big Bank Masih Menarik
Meski kondisi global masih penuh ketidakpastian, sektor perbankan Indonesia dinilai tetap memiliki prospek jangka panjang yang menarik. Harapan terhadap penurunan suku bunga serta stimulus likuiditas dari bank sentral juga menjadi sentimen positif bagi saham-saham big bank.
Jika kebijakan pelonggaran moneter kembali dilakukan seperti pada 2020–2021, maka sektor perbankan berpotensi kembali mengalami penguatan signifikan.
Namun investor tetap diminta berhati-hati dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi di saham BBRI maupun saham bank lainnya.
Editor : Axsha Zazhika