BLITAR - Saham bank kembali menjadi perhatian investor setelah valuasi sektor perbankan nasional mengalami penurunan cukup dalam sepanjang 2026. Di tengah tekanan global dan melemahnya rupiah, banyak investor mulai bertanya-tanya apakah kondisi ini merupakan peluang emas atau justru jebakan value trap.
Analis pasar modal Melvin Mumuni dalam sebuah video terbarunya membahas secara mendalam kondisi saham bank besar seperti BBCA dan BBRI yang saat ini dinilai berada di area diskon historis. Namun di sisi lain, ketidakpastian global masih menjadi ancaman serius bagi pergerakan saham perbankan.
“Saham bank sekarang lagi murah banget. Bahkan secara historis sudah di level diskon ekstrem. Tapi pertanyaannya, ini peluang besar atau justru value trap?” ujar Melvin dalam pembukaan videonya.
Menurutnya, banyak investor sering salah langkah ketika melihat saham turun. Tidak sedikit yang buru-buru masuk karena menganggap harga murah, padahal tekanan makro ekonomi belum sepenuhnya selesai.
Rupiah Melemah dan Asing Masih Wait and See
Melvin menjelaskan, salah satu faktor utama yang menekan saham bank adalah kondisi global yang belum stabil. Rupiah sempat melemah hingga menembus Rp17 ribu per dolar AS akibat tingginya suku bunga Amerika Serikat dan keluarnya dana asing dari emerging markets termasuk Indonesia.
Kondisi ini membuat investor asing cenderung menahan transaksi di pasar saham domestik. Padahal, saham perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI sangat dipengaruhi oleh aliran dana asing.
“Kalau asing masih wait and see, market kita juga cenderung tertahan,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa harga saham yang terlihat murah belum tentu langsung menarik untuk dibeli. Jika tekanan ekonomi global belum mereda, saham yang murah hari ini bisa saja turun lebih dalam lagi.
Musim Dividen Jadi Daya Tarik
Meski tekanan pasar masih besar, sektor perbankan mulai menarik perhatian karena memasuki musim pembagian dividen. Bank-bank besar mulai membagikan laba kepada investor dengan dividend yield yang cukup tinggi.
Selain itu, pasar juga mulai berharap adanya penurunan suku bunga ke depan. Jika hal tersebut terjadi, biaya dana bank akan lebih stabil dan penyaluran kredit berpotensi meningkat.
Kombinasi antara dividen jumbo dan peluang pemulihan ekonomi membuat saham bank kembali dilirik investor jangka panjang.
Ini Indikator Penting Saat Analisa Saham Bank
Dalam analisanya, Melvin menegaskan bahwa investor tidak perlu melihat terlalu banyak rasio ketika menilai saham bank. Ada beberapa indikator utama yang dianggap paling penting.
Pertama adalah CAR atau capital adequacy ratio yang menunjukkan kekuatan modal bank. BBCA tercatat memiliki CAR sekitar 29,9 persen, sedangkan BBRI berada di kisaran 23,5 persen.
Kedua adalah loan growth atau pertumbuhan kredit. BBRI mencatat pertumbuhan kredit sekitar 11,95 persen, lebih agresif dibanding BBCA yang berada di level 5,84 persen.
Selain itu, investor juga perlu memperhatikan DPK atau dana pihak ketiga, terutama komposisi CASA atau dana murah. BBCA disebut unggul karena memiliki CASA mencapai 84,83 persen yang membuat biaya dana lebih rendah.
“Semakin tinggi CASA, profit bank biasanya lebih stabil,” jelas Melvin.
Ia juga menyoroti pentingnya rasio NPL, LAR, CKPN, hingga BOPO untuk melihat kualitas kredit dan efisiensi operasional bank.
BBRI Menarik untuk Dividen, BBCA Unggul Kualitas
Dari sisi peluang investasi, Melvin menilai BBRI dan BBCA sama-sama menarik namun dengan karakter berbeda.
BBRI disebut unggul dari sisi dividend yield. Total dividen yang dibagikan diperkirakan mampu menghasilkan yield double digit, menjadikannya incaran investor pemburu passive income.
Selain itu, valuasi BBRI saat ini dinilai murah dengan price to book value sekitar 1,5 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historisnya.
Sementara itu, BBCA dinilai tetap menjadi saham premium dengan kualitas fundamental yang kuat. Meski PBV BBCA masih lebih mahal di kisaran 2,5 kali, valuasi tersebut dianggap masih diskon dibanding rata-rata historisnya yang berada di atas 3 kali.
“Kalau BBRI menarik karena dividennya besar dan valuasinya murah, BBCA menarik karena kualitas bisnisnya premium,” tambahnya.
Investor Diminta Jangan FOMO
Melvin mengingatkan investor agar tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena melihat harga saham turun drastis. Menurutnya, strategi investasi harus disesuaikan dengan tujuan masing-masing investor.
Investor yang mengejar cash flow dinilai lebih cocok melirik saham seperti BBRI, sementara investor yang mengincar capital gain jangka panjang dapat mempertimbangkan BBCA.
Ia juga menilai kombinasi keduanya bisa menjadi strategi optimal di tengah kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.
Editor : Axsha Zazhika