BLITAR - Pergerakan IHSG pada awal tahun 2026 diperkirakan masih berada dalam fase koreksi minor. Hal itu diungkapkan analis saham dalam tayangan FTK edisi 1 Januari 2026 yang membahas kondisi market, strategi trading, hingga prospek saham perbankan seperti BBRI.
Dalam ulasannya, analis menyebut kondisi IHSG saat ini belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat. Meski begitu, investor diminta tetap memanfaatkan momentum awal tahun untuk mengevaluasi portofolio investasi mereka.
“IHSG masih dalam proses koreksi yang wajar dan belum masuk fase koreksi besar. Momentum awal tahun ini bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki strategi investasi,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kondisi pasar saham tidak akan selalu bergerak naik. Karena itu, investor perlu meningkatkan kesiapan cash atau dana tunai untuk menghadapi peluang ketika koreksi pasar terjadi lebih dalam.
IHSG Diprediksi Masih Koreksi
Menurut analis, secara teknikal IHSG masih bergerak dalam tren pelemahan jangka pendek. Area penguatan menuju level 8.600 hingga 8.700 disebut sebagai area yang perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi resistance.
Investor yang terlalu agresif masuk pasar di tengah koreksi dinilai berisiko terjebak penurunan lanjutan. Sebaliknya, investor yang disiplin mengelola risiko dan melakukan evaluasi portofolio justru memiliki peluang lebih baik menghadapi market 2026.
Selain membahas IHSG, tayangan tersebut juga menyoroti sejumlah saham yang ramai diperbincangkan investor, termasuk saham small caps hingga saham perbankan big caps seperti BBRI dan TLKM.
Strategi Trading dan Pentingnya Manajemen Risiko
Dalam sesi konsultasi, analis menegaskan bahwa trading jangka pendek tidak hanya soal mencari keuntungan besar, tetapi juga menjaga konsistensi profit.
Ia menjelaskan bahwa banyak trader pemula sering tergoda menahan saham terlalu lama karena berharap harga terus naik. Padahal, strategi swing trading seharusnya fokus pada target profit yang sudah ditentukan sejak awal.
“Yang bisa kita kontrol dalam trading itu risk management, money management, dan disiplin stop loss,” jelasnya.
Analis juga menyebut volume transaksi menjadi indikator penting untuk membaca potensi kelanjutan kenaikan harga saham. Jika kenaikan harga diiringi volume besar, peluang tren berlanjut masih terbuka. Namun jika tekanan jual mulai meningkat, risiko koreksi juga semakin besar.
BBRI Dinilai Menarik untuk Investasi Jangka Panjang
Salah satu pembahasan yang paling banyak mendapat perhatian adalah prospek saham BBRI setelah pembagian dividen besar pada akhir 2025.
Menurut analis, penurunan harga saham setelah ex date dividen merupakan hal yang wajar terjadi di saham perbankan. Meski begitu, BBRI masih dinilai menarik untuk investasi jangka panjang karena valuasinya mulai murah dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Ia menilai harga saham BBRI saat ini sudah masuk kategori layak investasi, terutama bagi investor dengan horizon lebih dari tiga tahun.
“Kalau hanya mencari dividen 2026 saja, BBRI kurang menarik. Tapi kalau mencari capital gain jangka panjang, harga sekarang sudah cukup menarik,” katanya.
Analis memperkirakan dividend yield BBRI masih berada di kisaran 8 hingga 9 persen jika harga saham tetap berada di area saat ini. Namun ia mengingatkan bahwa investasi saham tetap memiliki risiko tinggi sehingga investor tidak boleh hanya terpaku pada dividen.
Saham Small Caps Disebut Lebih Agresif
Selain saham perbankan, analis juga membahas potensi saham small caps yang dinilai memiliki ruang kenaikan lebih besar dibanding saham big caps.
Ia mencontohkan saham PPRE yang sempat mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat setelah direkomendasikan pada area harga rendah.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa saham small caps memiliki volatilitas tinggi sehingga investor wajib menerapkan stop loss dan target profit secara disiplin.
“Saham small caps memang lebih agresif, tapi risikonya juga lebih tinggi. Jadi harus disesuaikan dengan profil risiko dan waktu yang dimiliki investor,” jelasnya.
Di akhir tayangan, analis kembali mengingatkan agar investor tidak menelan mentah-mentah setiap rekomendasi saham. Investor tetap diminta melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi di pasar modal.
Editor : Axsha Zazhika