Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

IHSG 2026 Masih Rawan Koreksi, Analis Sebut BBRI Mulai Menarik untuk Investasi Jangka Panjang, Tapi Bukan Cuma Cari Dividen

Axsha Zazhika • Sabtu, 9 Mei 2026 | 11:36 WIB
IHSG 2026 Masih Rawan Koreksi, Analis Sebut BBRI Mulai Menarik untuk Investasi Jangka Panjang, Tapi Bukan Cuma Cari Dividen (Pinterest)
IHSG 2026 Masih Rawan Koreksi, Analis Sebut BBRI Mulai Menarik untuk Investasi Jangka Panjang, Tapi Bukan Cuma Cari Dividen (Pinterest)

BLITAR - Pergerakan IHSG pada awal tahun 2026 diperkirakan masih berada dalam fase koreksi minor. Hal itu diungkapkan analis saham dalam tayangan FTK edisi 1 Januari 2026 yang membahas kondisi market, strategi trading, hingga prospek saham perbankan seperti BBRI.

Dalam ulasannya, analis menyebut kondisi IHSG saat ini belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang kuat. Meski begitu, investor diminta tetap memanfaatkan momentum awal tahun untuk mengevaluasi portofolio investasi mereka.

“IHSG masih dalam proses koreksi yang wajar dan belum masuk fase koreksi besar. Momentum awal tahun ini bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki strategi investasi,” ujarnya.

Baca Juga: Bikin Kaget! Nissan Livina Ternyata Lebih Nyaman dari Avanza, Tapi Kenapa Penjualannya Malah Kalah Telak? Ini Fakta Lengkapnya

Ia juga mengingatkan bahwa kondisi pasar saham tidak akan selalu bergerak naik. Karena itu, investor perlu meningkatkan kesiapan cash atau dana tunai untuk menghadapi peluang ketika koreksi pasar terjadi lebih dalam.

IHSG Diprediksi Masih Koreksi

Menurut analis, secara teknikal IHSG masih bergerak dalam tren pelemahan jangka pendek. Area penguatan menuju level 8.600 hingga 8.700 disebut sebagai area yang perlu diwaspadai karena berpotensi menjadi resistance.

Investor yang terlalu agresif masuk pasar di tengah koreksi dinilai berisiko terjebak penurunan lanjutan. Sebaliknya, investor yang disiplin mengelola risiko dan melakukan evaluasi portofolio justru memiliki peluang lebih baik menghadapi market 2026.

Baca Juga: Banyak Dicari tapi Dianggap Bermasalah! Nissan Grand Livina L11 Bekas Justru Jadi Rebutan di Pasar Mobil Keluarga, Ini Fakta Sebenarnya

Selain membahas IHSG, tayangan tersebut juga menyoroti sejumlah saham yang ramai diperbincangkan investor, termasuk saham small caps hingga saham perbankan big caps seperti BBRI dan TLKM.

Strategi Trading dan Pentingnya Manajemen Risiko

Dalam sesi konsultasi, analis menegaskan bahwa trading jangka pendek tidak hanya soal mencari keuntungan besar, tetapi juga menjaga konsistensi profit.

Ia menjelaskan bahwa banyak trader pemula sering tergoda menahan saham terlalu lama karena berharap harga terus naik. Padahal, strategi swing trading seharusnya fokus pada target profit yang sudah ditentukan sejak awal.

“Yang bisa kita kontrol dalam trading itu risk management, money management, dan disiplin stop loss,” jelasnya.

Baca Juga: Nissan Grand Livina Jadi Sorotan! Benarkah Mobil Keluarga Ini Tidak Layak Dimiliki atau Justru Hidden Gem di Kelas Bekas?

Analis juga menyebut volume transaksi menjadi indikator penting untuk membaca potensi kelanjutan kenaikan harga saham. Jika kenaikan harga diiringi volume besar, peluang tren berlanjut masih terbuka. Namun jika tekanan jual mulai meningkat, risiko koreksi juga semakin besar.

BBRI Dinilai Menarik untuk Investasi Jangka Panjang

Salah satu pembahasan yang paling banyak mendapat perhatian adalah prospek saham BBRI setelah pembagian dividen besar pada akhir 2025.

Menurut analis, penurunan harga saham setelah ex date dividen merupakan hal yang wajar terjadi di saham perbankan. Meski begitu, BBRI masih dinilai menarik untuk investasi jangka panjang karena valuasinya mulai murah dibanding beberapa tahun sebelumnya.

Baca Juga: Nissan Grand Livina SV Manual 2012 Bekas Rp89 Jutaan Jadi Incaran Keluarga, Kondisi Mulus Siap Pakai Bikin Kaget!

Ia menilai harga saham BBRI saat ini sudah masuk kategori layak investasi, terutama bagi investor dengan horizon lebih dari tiga tahun.

“Kalau hanya mencari dividen 2026 saja, BBRI kurang menarik. Tapi kalau mencari capital gain jangka panjang, harga sekarang sudah cukup menarik,” katanya.

Analis memperkirakan dividend yield BBRI masih berada di kisaran 8 hingga 9 persen jika harga saham tetap berada di area saat ini. Namun ia mengingatkan bahwa investasi saham tetap memiliki risiko tinggi sehingga investor tidak boleh hanya terpaku pada dividen.

Baca Juga: Suzuki Karimun 2026 Resmi Jadi Sorotan, City Car Irit dengan Desain Baru dan Harga Mulai Rp170 Jutaan

Saham Small Caps Disebut Lebih Agresif

Selain saham perbankan, analis juga membahas potensi saham small caps yang dinilai memiliki ruang kenaikan lebih besar dibanding saham big caps.

Ia mencontohkan saham PPRE yang sempat mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat setelah direkomendasikan pada area harga rendah.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa saham small caps memiliki volatilitas tinggi sehingga investor wajib menerapkan stop loss dan target profit secara disiplin.

Baca Juga: Suzuki Baleno Hatchback Bekas Dibully Soal Kenyamanan, Tapi Tetap Jadi City Car Value for Money? Ini Fakta Lengkapnya!

“Saham small caps memang lebih agresif, tapi risikonya juga lebih tinggi. Jadi harus disesuaikan dengan profil risiko dan waktu yang dimiliki investor,” jelasnya.

Di akhir tayangan, analis kembali mengingatkan agar investor tidak menelan mentah-mentah setiap rekomendasi saham. Investor tetap diminta melakukan analisis mandiri sebelum mengambil keputusan investasi di pasar modal.

Editor : Axsha Zazhika
#saham bank #Dividen BBRI #IHSG 2026 #investasi saham #bbri