BLITAR KAWENTAR - Mitsubishi Xpander pernah menjadi mobil fenomenal yang mengubah peta persaingan Low MPV di Indonesia. Namun kini, popularitas Mitsubishi Xpander mulai dipertanyakan setelah angka penjualannya terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.
Mitsubishi Xpander sempat menjadi tulang punggung penjualan Mitsubishi Motors Indonesia sejak pertama kali diluncurkan pada 2017. Desain futuristik, tampilan ala “Baby Pajero”, hingga harga kompetitif membuat mobil ini langsung mencuri perhatian konsumen Indonesia.
Namun di tengah persaingan otomotif yang semakin ketat, terutama dari mobil Korea, Cina, hingga tren kendaraan listrik, Mitsubishi Xpander disebut mulai kehilangan daya tariknya.
Xpander Pernah Ubah Brand Image Mitsubishi
Sebelum kehadiran Xpander, Mitsubishi dikenal sebagai merek mobil dengan harga relatif mahal. Nama-nama seperti Pajero Sport dan Outlander membuat brand Mitsubishi identik dengan kendaraan premium.
Kehadiran Mitsubishi Xpander mengubah semuanya. Mobil keluarga ini sukses memperluas pasar Mitsubishi ke segmen menengah dan langsung diterima masyarakat luas.
Pada tahun pertama peluncurannya, tepatnya Agustus hingga Desember 2017, Mitsubishi Xpander langsung mencatat penjualan lebih dari 13 ribu unit.
Puncak kejayaan terjadi pada 2018 ketika penjualannya melonjak hingga lebih dari 75 ribu unit. Angka tersebut menjadikan Xpander sebagai salah satu Low MPV paling laris di Indonesia.
Namun setelah itu tren penjualannya perlahan menurun.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Ukir Sejarah Dunia Balap, Dari Gunung Kidul Menuju Calon Bintang MotoGP Indonesia
Penjualan Mitsubishi Xpander Terus Menurun
Data penjualan menunjukkan Mitsubishi Xpander mulai kehilangan momentum setelah 2018. Pada 2019 penjualannya turun menjadi sekitar 62 ribu unit.
Saat pandemi Covid-19 melanda pada 2020, penjualan Xpander anjlok menjadi sekitar 26 ribu unit. Meski sempat bangkit pada 2021 dengan angka lebih dari 54 ribu unit, tren penurunan kembali terjadi di tahun-tahun berikutnya.
Pada 2022 penjualan tercatat sekitar 47 ribu unit, lalu turun lagi menjadi 39 ribu unit pada 2023.
Sementara pada 2024, Mitsubishi Xpander hanya mampu mencatat penjualan sekitar 32 ribu unit.
Bahkan pada Juni 2025, penjualan wholesales Xpander disebut hanya mencapai sekitar 1.429 unit atau turun 23,5 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Desain Dinilai Kurang Banyak Berubah
Salah satu penyebab utama turunnya popularitas Mitsubishi Xpander disebut berasal dari desain yang dianggap mulai membosankan.
Secara tampilan, perubahan Xpander dari model 2018 hingga 2024 dinilai tidak terlalu signifikan. Memang ada revisi pada lampu depan, grille, hingga desain lampu belakang LED modern.
Namun secara keseluruhan bentuk bodi mobil masih terlihat sangat mirip dengan generasi awal.
Hal serupa juga terjadi pada interior. Perubahan hanya terasa pada ornamen dan detail kecil, sementara layout kabin masih mempertahankan desain lama.
Padahal pasar otomotif Indonesia saat ini disebut lebih sensitif terhadap perubahan desain dibanding peningkatan fitur.
Baca Juga: Veda Ega Pratama Pecahkan Sejarah, Pembalap Muda Indonesia yang Siap Menembus MotoGP Dunia
Persaingan Low MPV Kini Semakin Berat
Pasar otomotif Indonesia kini jauh berbeda dibanding era awal Toyota Avanza berjaya. Jika dulu facelift minor masih cukup untuk menarik pembeli, sekarang konsumen menuntut perubahan lebih besar.
Produsen Korea dan Cina mulai agresif menghadirkan model baru dengan desain segar dan teknologi modern.
Hyundai misalnya, dinilai berani melakukan perubahan besar pada Stargazer hanya dalam waktu singkat. Tampilan terbaru mobil tersebut berubah drastis dengan desain lebih boxy dan modern.
Hal itu berbeda dengan Mitsubishi Xpander Cross yang disebut hanya memiliki perbedaan minor dibanding Xpander biasa.
Harga Xpander Dianggap Tidak Lagi Murah
Faktor lain yang dianggap mempengaruhi penjualan adalah harga Mitsubishi Xpander yang semakin tinggi.
Saat ini Xpander dibanderol mulai Rp270 jutaan hingga Rp337 jutaan tergantung tipe.
Di rentang harga tersebut, konsumen Indonesia kini punya lebih banyak pilihan. Bahkan banyak orang mulai melirik SUV bekas seperti Mitsubishi Pajero Sport atau Toyota Fortuner demi meningkatkan gengsi.
Belum lagi tren mobil listrik yang semakin berkembang sejak hadirnya Wuling dan BYD di pasar Indonesia.
Persaingan yang semakin ketat membuat Mitsubishi harus bergerak lebih cepat jika ingin mempertahankan dominasi Xpander di segmen Low MPV.
Meski demikian, Mitsubishi Xpander masih dianggap sebagai mobil keluarga yang nyaman dan relevan digunakan saat ini. Hanya saja, pasar otomotif modern menuntut inovasi lebih agresif agar sebuah model tetap diminati konsumen.
Editor : Dinar Ananda Putri