JAKARTA - Tips beli mobil bekas kini semakin banyak dicari masyarakat yang ingin memiliki kendaraan irit, nyaman, sekaligus minim biaya perawatan. Di tengah harga mobil baru yang terus naik, pasar mobil bekas menjadi pilihan utama karena menawarkan harga lebih terjangkau dengan fitur yang masih memadai.
Namun membeli mobil bekas tidak bisa hanya melihat tampilan atau harga murah semata. Konsumen juga harus memahami teknologi mesin, efisiensi bahan bakar, hingga ketersediaan spare part agar tidak menyesal di kemudian hari.
Seorang mekanik dari bengkel spesialis otomotif di Yogyakarta membagikan sejumlah tips penting sebelum membeli mobil bekas. Menurutnya, calon pembeli sebaiknya memilih mobil dengan teknologi mesin modern seperti injeksi, dual oxygen sensor, dan dual VVT-i agar konsumsi BBM lebih hemat serta performa lebih baik.
Mobil Injeksi Dinilai Lebih Responsif
Teknologi injeksi disebut menjadi syarat utama dalam memilih mobil bekas. Sistem ini dianggap jauh lebih efisien dan responsif dibanding mobil bermesin karburator.
Menurut mekanik tersebut, mobil injeksi memiliki akselerasi lebih spontan karena sistem elektronik langsung mengatur suplai bahan bakar dan udara saat pedal gas diinjak.
“Kalau mobil karburator masih menunggu kevakuman, sedangkan injeksi langsung merespons,” ujarnya.
Baca Juga: Daftar Motor Listrik Subsidi 2025, Harga Viar Neo Cuma Rp7 Jutaan hingga Honda EM1 e: Jadi Incaran
Karena itu, mobil injeksi dianggap lebih cocok digunakan untuk kondisi lalu lintas perkotaan yang membutuhkan akselerasi cepat saat menyalip atau menghadapi stop and go.
Dual Oxygen Sensor Bikin BBM Lebih Irit
Selain injeksi, calon pembeli mobil bekas juga disarankan memilih kendaraan dengan dua oxygen sensor atau standar emisi Euro 3 ke atas.
Sistem ini biasanya terdiri dari air fuel sensor dan oxygen sensor yang bekerja mengoreksi gas buang agar pembakaran mesin lebih sempurna.
Mobil dengan dua sensor tersebut memang memiliki biaya penggantian komponen lebih mahal. Namun sebagai gantinya, efisiensi bahan bakar menjadi lebih baik.
Beberapa model Nissan seperti Grand Livina generasi baru, Nissan March, Evalia, hingga Juke disebut sudah menggunakan teknologi dual sensor tersebut.
Dual VVT-i dan VTEC Jadi Nilai Tambah
Teknologi variable valve timing seperti VVT-i milik Toyota atau VTEC pada Honda juga dianggap penting dalam memilih mobil bekas.
Baca Juga: Polytron T-Rex Siap Meluncur, Motor Listrik Berkecepatan 130 Km/Jam dengan Jarak Tempuh 120 Km
Sistem ini membantu mengatur waktu buka-tutup katup mesin agar performa dan konsumsi BBM lebih optimal di berbagai putaran mesin.
Mobil dengan dual VVT-i bahkan disebut lebih irit sekaligus memiliki akselerasi lebih baik dibanding generasi sebelumnya.
Pada Toyota Avanza misalnya, mekanik tersebut menyarankan calon pembeli memilih versi dual VVT-i dibanding model lama non-VVT-i atau single VVT-i.
Meski harga beli sedikit lebih mahal, biaya operasional jangka panjang dinilai lebih hemat karena konsumsi BBM lebih efisien.
Mobil Manual Lebih Irit, Matic Lebih Nyaman
Dalam pembahasan tersebut juga dijelaskan soal perbedaan transmisi manual dan otomatis.
Mobil manual dianggap lebih hemat bahan bakar karena pengemudi memiliki kontrol penuh terhadap perpindahan gigi dan putaran mesin.
Sementara mobil matic dinilai lebih nyaman digunakan harian, terutama di perkotaan yang macet. Namun agar tetap irit, pengemudi disarankan menjaga injakan pedal gas tetap halus.
“Kalau sudah jalan 40 sampai 50 km/jam dan mobil masih bisa meluncur, enggak perlu sering-sering injak gas,” jelasnya.
Jangan Abaikan After Sales dan Spare Part
Selain teknologi mesin, faktor after sales juga disebut sangat penting saat membeli mobil bekas.
Konsumen diminta memastikan ketersediaan spare part, keberadaan bengkel resmi maupun nonresmi, serta kemudahan servis sebelum memutuskan membeli kendaraan tertentu.
Baca Juga: Polytron T-Rex Siap Meluncur, Motor Listrik Berkecepatan 130 Km/Jam dengan Jarak Tempuh 120 Km
Mobil mainstream seperti Toyota Avanza, Daihatsu Xenia, atau Nissan Grand Livina dinilai lebih aman karena jaringan bengkel dan spare part melimpah.
Sebaliknya, beberapa mobil dengan teknologi bagus tetapi jarang beredar di pasaran bisa menyulitkan saat terjadi kerusakan.
Meski demikian, mobil-mobil tersebut tetap bisa dipilih asalkan pembeli sudah mengetahui bengkel spesialis yang mampu menangani perbaikannya.
Baca Juga: Polytron T-Rex Siap Meluncur, Motor Listrik Berkecepatan 130 Km/Jam dengan Jarak Tempuh 120 Km
Harga Jual Kembali Juga Harus Dipertimbangkan
Faktor resale value atau harga jual kembali juga menjadi perhatian penting dalam membeli mobil bekas.
Mobil dengan konsumsi BBM irit, pajak terjangkau, spare part mudah, dan jaringan servis luas biasanya memiliki harga jual kembali lebih stabil.
Karena itu, sebelum membeli mobil bekas, konsumen disarankan menyesuaikan kendaraan dengan kebutuhan keluarga, biaya operasional, dan kesiapan perawatan jangka panjang agar tidak justru menjadi beban keuangan.
Editor : Novica Satya Nadianti