BLITAR KAWENTAR- Honda EM1 e Plus menjadi sorotan setelah diuji langsung dalam pemakaian harian dan pengujian jalan oleh sejumlah penguji independen otomotif. Motor listrik produksi PT Astra Honda Motor (AHM) ini disebut sebagai salah satu langkah awal Honda di segmen kendaraan listrik roda dua di Indonesia.
Dalam berbagai pengujian, Honda EM1 e Plus menunjukkan karakter yang cukup unik. Meski dibekali motor listrik berkapasitas kecil, motor ini justru mencuri perhatian karena efisiensi daya dan kesederhanaan sistemnya. Namun di sisi lain, performanya dinilai masih sangat terbatas untuk kebutuhan mobilitas yang menuntut kecepatan tinggi atau medan berat.
Pengujian yang dilakukan juga mengungkap bahwa motor ini lebih cocok digunakan untuk mobilitas jarak dekat di area perkotaan atau komplek perumahan. Hal ini membuat Honda EM1 e Plus menjadi bahan diskusi hangat di kalangan pecinta otomotif, terutama soal keseimbangan antara harga, fitur, dan kemampuan teknisnya.
Hasil Uji Jarak Tempuh dan Kecepatan
Dalam pengujian real, Honda EM1 e Plus mampu menempuh jarak sekitar 46 km dalam mode standar hingga baterai benar-benar habis. Angka ini sedikit lebih tinggi dari klaim pabrikan sekitar 41,1 km.
Sementara pada mode ECON, jarak tempuhnya bisa mencapai sekitar 53,2 km, menjadikannya lebih efisien untuk pemakaian santai. Namun konsekuensinya, kecepatan menjadi sangat terbatas.
Top speed motor ini berada di kisaran 48–52 km/jam pada mode standar, dan hanya sekitar 32–33 km/jam pada mode ECON. Kondisi ini membuat akselerasi terasa lambat, terutama di jalan kosong atau saat ingin menyalip kendaraan lain.
Waktu Pengisian dan Konsumsi Baterai
Soal pengisian daya, Honda EM1 e Plus membutuhkan waktu sekitar 6 jam untuk pengisian dari 0% hingga 100%. Sementara jika hanya mengisi dari 25% ke 75%, waktu yang dibutuhkan sekitar 2,7 jam.
Pengujian juga menunjukkan hasil yang konsisten dengan klaim pabrikan. Charger bawaan berdaya sekitar 400 watt membuat proses pengisian relatif aman untuk listrik rumah tangga, meski tetap membutuhkan waktu lama.
Namun menariknya, biaya operasional motor ini sangat rendah. Berdasarkan perhitungan, biaya per kilometer hanya sekitar Rp40, jauh lebih hemat dibanding motor bensin konvensional.
Performa, Tanjakan, dan Penggunaan Harian
Dari sisi performa, Honda EM1 e Plus menunjukkan keterbatasan ketika menghadapi tanjakan curam. Pada kondisi jalan menanjak sekitar 12 derajat, motor masih bisa melaju, namun dengan kecepatan sangat rendah, bahkan turun hingga 8 km/jam.
Ketika diuji berboncengan, motor ini mengalami kesulitan lebih besar hingga akhirnya berhenti dan menampilkan indikator overheat atau “kura-kura”. Hal ini menunjukkan keterbatasan daya motor yang hanya sekitar 1,7 kW atau setara 2,3 hp.
Namun di sisi lain, untuk jalan datar dan pemakaian dalam kota, motor ini cukup nyaman. Suspensi dinilai empuk, handling ringan, dan bobot hanya sekitar 94 kg membuatnya mudah dikendalikan oleh pemula.
Harga dan Kesimpulan
Dari sisi harga, Honda EM1 e Plus berada di kisaran Rp40 juta sebelum subsidi. Dengan subsidi pemerintah, harga bisa turun signifikan hingga sekitar Rp33 juta tergantung wilayah.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai harga tersebut masih cukup tinggi jika dibandingkan dengan motor listrik lain di kelasnya yang menawarkan performa dan fitur lebih lengkap.
Secara keseluruhan, Honda EM1 e Plus cocok untuk pengguna yang membutuhkan kendaraan listrik simpel untuk jarak dekat, bukan untuk perjalanan jauh atau medan berat. Motor ini lebih menekankan efisiensi, kenyamanan, dan kemudahan penggunaan dibanding performa tinggi.
Editor : Cholifatun Nisak