Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Suzuki Ertiga Hybrid Disebut Hybrid Palsu, Ternyata Ini Fakta Teknologi SHVS yang Bikin Konsumen Salah Paham

Muhamad Ahsanul Wildan • Kamis, 14 Mei 2026 | 12:30 WIB
Suzuki Ertiga Hybrid disebut hybrid palsu. Ini fakta teknologi SHVS dan alasan harganya lebih murah. (Pinterest)
Suzuki Ertiga Hybrid disebut hybrid palsu. Ini fakta teknologi SHVS dan alasan harganya lebih murah. (Pinterest)

BLITAR KAWENTAR - Istilah “mobil hybrid” beberapa tahun terakhir menjadi magnet besar di industri otomotif.

Banyak produsen berlomba menghadirkan kendaraan berlabel hybrid karena dianggap lebih irit bahan bakar, modern, dan ramah lingkungan.

Namun, muncul perdebatan saat publik membahas Suzuki Ertiga Hybrid yang dinilai sebagian orang sebagai “hybrid palsu”.

Perdebatan itu ramai di media sosial hingga forum otomotif. Banyak konsumen membandingkan Suzuki Ertiga Hybrid dengan mobil full hybrid seperti Toyota Innova Zenix atau Yaris Cross yang mampu mengandalkan motor listrik lebih dominan.

Padahal, secara teknis Suzuki memang menggunakan teknologi hybrid.

Hanya saja, sistem yang dipakai berbeda kelas dibanding hybrid konvensional yang selama ini dikenal masyarakat.

Dalam dunia otomotif, mobil hybrid merupakan kendaraan yang memakai dua sumber tenaga, yakni mesin pembakaran internal dan motor listrik.

Teknologi ini bertujuan meningkatkan efisiensi bahan bakar sekaligus menekan emisi gas buang.

Secara umum, teknologi hybrid dibagi menjadi tiga kategori, yakni full hybrid, plug in hybrid (PHEV), dan mild hybrid.

Suzuki Ertiga Hybrid sendiri masuk kategori mild hybrid melalui teknologi Smart Hybrid Vehicle by Suzuki (SHVS).

Baca Juga: Luncurkan Event Aku dan Bus Sekolah: Satukan Tekad Perhubungan Hebat Periode Mei-Juni 2026, Kolaborasi Dishub Kabupaten Blitar dengan Jawa Pos Radar Blitar

Teknologi SHVS Jadi Sorotan

Teknologi SHVS menggunakan dua komponen utama, yakni Integrated Starter Generator (ISG) dan baterai tambahan.

Sistem ini membantu akselerasi awal, menghaluskan fitur engine start-stop, serta menyimpan energi saat deselerasi.

Pada Suzuki Ertiga Hybrid, terdapat dua baterai yang digunakan, yakni baterai konvensional 12 volt dan baterai lithium-ion kecil yang ditempatkan di bawah kursi penumpang.

Namun, berbeda dengan full hybrid, sistem SHVS tidak memungkinkan mobil berjalan sepenuhnya menggunakan tenaga listrik. Inilah yang membuat sebagian konsumen merasa ekspektasinya tidak sesuai dengan kenyataan.

Banyak pengguna menganggap label “hybrid” identik dengan mobil yang bisa melaju tanpa bahan bakar dalam kondisi tertentu. Faktanya, teknologi mild hybrid hanya memberi bantuan ringan terhadap kerja mesin bensin.

Kenapa Harga Ertiga Hybrid Lebih Murah ?

Salah satu alasan Suzuki Ertiga Hybrid ramai dibicarakan adalah harga jualnya yang jauh lebih murah dibanding mobil hybrid lain.

Saat banyak mobil hybrid dibanderol di atas Rp400 juta, Ertiga Hybrid dijual di bawah Rp300 juta.

Kondisi itu memunculkan pertanyaan publik mengenai kualitas teknologi hybrid yang digunakan Suzuki.

Secara teknis, harga murah tersebut memang masuk akal. Teknologi mild hybrid memiliki komponen yang jauh lebih sederhana dibanding full hybrid atau plug-in hybrid.

Sebagai gambaran, harga baterai Toyota Innova Zenix disebut berada di kisaran Rp40 jutaan. Sementara Suzuki mengklaim baterai sistem SHVS hanya sekitar Rp14 jutaan karena kapasitas dan perannya lebih kecil.

Karena itu, banyak pengamat otomotif menilai tidak realistis jika berharap Ertiga Hybrid memiliki kemampuan setara mobil hybrid premium dengan harga jauh lebih murah.

Label Hybrid Dinilai Kurang Transparan

Meski tidak dianggap berbohong secara teknis, Suzuki dinilai kurang terbuka dalam edukasi teknologi kepada konsumen awam.

Sebab, promosi yang terlalu menonjolkan kata “hybrid” membuat sebagian masyarakat mengira teknologi SHVS setara full hybrid.

Di situs resmi Suzuki, istilah hybrid memang lebih dominan dibanding penjelasan detail mengenai mild hybrid. Akibatnya, muncul kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Banyak konsumen kemudian merasa konsumsi BBM Ertiga Hybrid tidak berbeda jauh dibanding mobil bensin biasa. Sebagian juga menganggap performa mobil tidak mengalami perubahan signifikan.

Padahal, Suzuki mengklaim teknologi SHVS mampu meningkatkan efisiensi bahan bakar sekitar 5 hingga 10 persen serta membuat sistem start-stop mesin lebih halus.

Dari sisi bisnis, penggunaan label hybrid juga dinilai mampu meningkatkan citra modern dan ramah lingkungan pada produk Suzuki. Selain itu, branding hybrid dianggap membuat kenaikan harga kendaraan terasa lebih masuk akal di mata konsumen.

Pada akhirnya, polemik Suzuki Ertiga Hybrid bergantung pada sudut pandang masing-masing konsumen. Secara teknis mobil ini memang hybrid, tetapi berada di level paling ringan dalam teknologi elektrifikasi kendaraan.

Baca Juga: Luncurkan Event Aku dan Bus Sekolah: Satukan Tekad Perhubungan Hebat Periode Mei-Juni 2026, Kolaborasi Dishub Kabupaten Blitar dengan Jawa Pos Radar Blitar

Editor : Muhamad Ahsanul Wildan
#Suzuki Ertiga Hybrid #hybrid palsu #teknologi SHVS #mild hybrid #mobil hybrid