BLITAR KAWENTAR - Suzuki Ertiga Hybrid kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah banyak warganet menyebut mobil tersebut sebagai “hybrid palsu”.
Label itu muncul karena teknologi hybrid yang digunakan dianggap berbeda jauh dibanding mobil hybrid lain seperti Toyota Innova Zenix atau Yaris Cross.
Padahal, tren mobil hybrid dalam beberapa tahun terakhir memang semakin populer di industri otomotif.
Banyak pabrikan berlomba menghadirkan kendaraan ramah lingkungan dengan konsumsi bahan bakar lebih irit serta teknologi yang lebih modern.
Suzuki pun ikut masuk ke pasar tersebut lewat Ertiga Hybrid yang dibanderol di bawah Rp300 juta.
Harga ini jauh lebih murah dibanding mayoritas mobil hybrid lain yang rata-rata dijual di atas Rp400 juta.
Hal itulah yang kemudian memunculkan pertanyaan besar di kalangan konsumen, apakah Suzuki Ertiga Hybrid benar-benar hybrid ?
Mengenal Teknologi SHVS di Suzuki Ertiga Hybrid
Secara teknis, Suzuki memang tidak berbohong menyebut Ertiga sebagai mobil hybrid.
Sebab kendaraan tersebut memakai sistem Smart Hybrid Vehicle by Suzuki atau SHVS yang termasuk kategori mild hybrid.
Dalam dunia otomotif, mobil hybrid dibagi menjadi tiga jenis, yakni full hybrid, plug in hybrid (PHEV), dan mild hybrid (MHEV). Nah, Ertiga Hybrid masuk ke kategori mild hybrid yang teknologinya paling sederhana.
Sistem SHVS pada Ertiga menggunakan Integrated Starter Generator (ISG) dan dua baterai. Komponen ISG berfungsi membantu akselerasi awal, menghaluskan fitur engine start-stop, serta menyimpan energi saat deselerasi.
Sementara itu, Ertiga Hybrid memakai baterai konvensional lead acid 55 Ah 12 volt dan baterai lithium-ion 6 Ah 12 volt yang ditempatkan di bawah kursi penumpang.
Namun berbeda dengan full hybrid, mobil ini tidak bisa berjalan hanya menggunakan tenaga listrik. Motor listrik pada SHVS juga tidak memiliki tenaga besar untuk menggerakkan mobil secara mandiri.
Kenapa Banyak yang Menyebut Hybrid Palsu ?
Istilah “hybrid palsu” muncul karena ekspektasi masyarakat terhadap mobil hybrid sudah terlanjur identik dengan teknologi canggih yang bisa berjalan menggunakan tenaga listrik sepenuhnya.
Banyak konsumen awam mengira Suzuki Ertiga Hybrid memiliki sistem serupa Toyota Innova Zenix Hybrid. Padahal teknologi yang dipakai sangat berbeda.
Di sisi lain, Suzuki dinilai terlalu menonjolkan kata “hybrid” dalam pemasaran tanpa menjelaskan secara detail bahwa teknologi yang digunakan hanyalah mild hybrid.
Akibatnya, muncul kesalahpahaman di masyarakat. Tidak sedikit pengguna yang merasa konsumsi BBM Ertiga Hybrid masih biasa saja dan performanya tidak jauh berbeda dibanding mobil bermesin konvensional.
Meski begitu, Suzuki sebenarnya tidak pernah mengklaim mobil tersebut bisa berjalan dengan tenaga listrik murni.
Pabrikan asal Jepang itu juga tetap menjelaskan penggunaan teknologi SHVS pada materi promosi mereka.
Harga Murah Jadi Kunci Utama
Jika melihat dari sisi harga, penggunaan teknologi mild hybrid sebenarnya cukup masuk akal.
Sebab menghadirkan full hybrid dengan harga di bawah Rp300 juta hampir mustahil dilakukan saat ini.
Harga baterai mobil full hybrid saja bisa mencapai puluhan juta rupiah. Sebagai gambaran, baterai Toyota Innova Zenix Hybrid disebut berada di kisaran Rp40 jutaan.
Sedangkan Suzuki mengklaim harga baterai Ertiga Hybrid hanya sekitar Rp14 jutaan. Perbedaan harga tersebut terjadi karena kapasitas dan fungsi baterainya jauh lebih kecil dibanding full hybrid.
Karena itu, banyak pengamat menilai strategi Suzuki lebih berorientasi pada efisiensi biaya dan pencitraan ramah lingkungan. Dengan label hybrid, Suzuki bisa menjual mobil lebih mahal dibanding versi biasa, tetapi tetap berada di harga kompetitif.
Konsumen Harus Paham Jenis Hybrid
Pada akhirnya, polemik Suzuki Ertiga Hybrid lebih banyak dipicu kurangnya edukasi soal jenis teknologi hybrid kepada masyarakat.
Secara regulasi dan teknis, Ertiga memang sah disebut mobil hybrid. Namun secara persepsi publik, banyak yang berharap teknologi hybrid berarti mobil bisa melaju menggunakan tenaga listrik seperti full hybrid.
Suzuki sendiri mengklaim teknologi SHVS mampu meningkatkan efisiensi BBM sekitar 5 hingga 10 persen serta membuat proses start-stop mesin lebih halus.
Karena itu, calon konsumen disarankan memahami lebih dulu jenis teknologi hybrid sebelum membeli kendaraan.
Sebab tidak semua mobil hybrid memiliki sistem dan kemampuan yang sama.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan