JAKARTA - Hanya berselang satu bulan setelah meluncurkan varian regulernya, Vivo Indonesia kembali menggebrak pasar mid-range dengan memperkenalkan Vivo V60 Lite. Sesuai namanya, smartphone ini diposisikan sebagai versi lebih ekonomis dengan selisih harga mencapai Rp2 juta lebih murah dibandingkan sang kakak. Menariknya, meski menyandang embel-embel "Lite", ponsel ini membawa kejutan besar di sektor performa storage yang justru membuat versi regulernya melongo.
Kesan pertama saat membuka kotak penjualan Vivo V60 Lite langsung tertuju pada evolusi desain radikal di bagian estetikanya. Vivo menanggalkan modul kamera triple versi reguler dan menggantinya dengan setup dua kamera belakang berdesain vertikal dalam wadah kapsul oval. Desain bodi belakang ini secara sekilas sangat identik dengan rupa iPhone base model terbaru. Langkah "cari aman" ini dipadukan dengan ciri khas ikonik Vivo, yakni Aura Light LED berbentuk cincin di sebelah kamera utama 50 MP dan lensa ultrawide 8 MP.
Kejutan paling menarik dari Vivo V60 Lite justru terletak pada spesifikasi ruang penyimpanannya. Varian dasar yang dibanderol dengan harga Rp4,9 juta ini membawa RAM 8 GB dan internal 256 GB. Namun, tidak seperti versi reguler yang sempat dikritik karena masih menggunakan UFS 2.2, Vivo V60 Lite justru sudah dibekali teknologi UFS 3.1 yang jauh lebih modern dan kencang. Dengan kecepatan baca data yang lebih superior, proses transfer file dan loading aplikasi pada ponsel Rp4 jutaan ini terasa sangat instan.
Debut Dimensity 7360 Pertama di Indonesia
Untuk urusan dapur pacu, Vivo V60 Lite memercayakan performanya pada chipset MediaTek Dimensity 7360 dengan fabrikasi modern. Chipset ini tercatat sebagai yang pertama kali hadir di pasar smartphone Indonesia. Secara teknis, Dimensity 7360 merupakan hasil penyempurnaan dari arsitektur Dimensity 7300 yang sudah terkenal efisien, namun kini dioptimalkan lewat tuning software yang lebih matang dari MediaTek.
Uji Performa Game Kompetitif
Saat diuji menggunakan aplikasi benchmark baterai dan performa Antutu versi 11, smartphone ini berhasil menorehkan skor impresif di kisaran Rp900.000-an poin. Ketika diguyur performa nyata untuk bermain game kompetitif seperti Mobile Legends, kombinasi hardware ini sanggup membuka setelan grafis tinggi dengan frame rate stabil di 90 fps tanpa kendala. Untuk game berat sekelas Genshin Impact pada setelan grafis Medium, performa mengalir lancar di angka 30 hingga 40 fps, standar performa kelas menengah yang sangat andal untuk kebutuhan harian.
Kelebihan mutlak yang diwarisi langsung dari versi reguler ke Vivo V60 Lite adalah kapasitas daya tahannya. Vivo sukses membenamkan baterai monster berkapasitas 6500 mAh ke dalam bodi yang super ramping. Dengan ketebalan hanya 7,6 mm dan bobot ringan 194 gram, ponsel ini sangat nyaman dioperasikan dengan satu tangan. Sektor pengisian daya juga tetap mumpuni berkat teknologi 90W Flash Charge yang sudah disertakan langsung dalam paket penjualan, lengkap dengan kabel data type-A ke type-C dan casing silikon bawaan.
Layar AMOLED 120 Hz Berfitur AI
Beralih ke sektor visual, smartphone ini mengusung panel layar AMOLED seluas 6,77 inci beresolusi Full HD Plus dengan refresh rate 120 Hz. Layarnya tergolong sangat cerah dan tajam saat dioperasikan langsung di bawah terik matahari. Untuk antarmuka, ponsel ini mengadopsi Funtouch OS berbasis Android terbaru yang sudah dilengkapi fitur kecerdasan buatan, termasuk AI Eraser untuk menghapus objek foto yang mengganggu secara rapi via koneksi internet, serta fitur AI Four Seasons.
Tentu saja, dengan harga yang dipotong Rp2 juta, ada beberapa kompromi yang harus diterima konsumen pada Vivo V60 Lite. Ponsel ini kehilangan lensa telefoto periskop legendaris ZEISS milik versi reguler. Selain itu, sertifikasi ketahanan airnya disesuaikan menjadi tahan cipratan saja, bukan untuk ditenggelamkan ke dalam air. Meski begitu, dengan kehadiran speaker stereo, NFC multifunction, dan memori kencang UFS 3.1, Vivo V60 Lite menjadi pilihan paling rasional bagi konsumen yang mencari performa seimbang tanpa menguras kantong.
Editor : Natasha Eka Safrina