Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Nissan Grand Livina Bekas Masih Layak Dibeli? Ini Penyakit, Biaya Spare Part, dan Kelebihannya yang Bikin Banyak Orang Tetap Cari

M. Helmi Nurhisam • Minggu, 17 Mei 2026 | 18:27 WIB
Nissan Grand Livina bekas masih diminati. Simak penyakit khas, biaya spare part, hingga kelebihan mobil keluarga ini.(pinterest)
Nissan Grand Livina bekas masih diminati. Simak penyakit khas, biaya spare part, hingga kelebihan mobil keluarga ini.(pinterest)

Blitar Kawentar – Nama Nissan Grand Livina masih menjadi salah satu mobil bekas yang cukup banyak diburu di pasar Indonesia. Meski usianya sudah tidak muda lagi, Nissan Grand Livina tetap menarik perhatian karena dikenal nyaman, kabinnya lega, dan harga bekasnya kini semakin terjangkau.

Namun di balik kenyamanan tersebut, Nissan Grand Livina juga memiliki sejumlah penyakit khas yang sering dikeluhkan pemiliknya. Mulai dari mesin ngelitik, coil bocor, hingga potensi overheat menjadi perhatian utama calon pembeli mobil bekas.

Bagi masyarakat dengan budget terbatas, Nissan Grand Livina sering masuk daftar pertimbangan karena menawarkan kenyamanan ala sedan dalam bentuk MPV keluarga. Apalagi mobil ini mampu mengangkut hingga tujuh penumpang dan bersaing langsung dengan Toyota Avanza, Honda Mobilio, hingga Suzuki Ertiga.

Penyakit Khas Nissan Grand Livina

Grand Livina generasi pertama atau L10 menggunakan mesin 1.498 cc 4 silinder dengan tenaga sekitar 100 PS. Secara performa sebenarnya cukup baik, tetapi mobil ini dikenal memiliki suara mesin ngelitik, terutama pada unit berusia tua.

Baca Juga: Nissan Grand Livina Highway Star 2017 Masih Jadi MPV Rasa Sedan, Desain Wagon dan Kenyamanannya Bikin Susah Move On

Masalah tersebut umumnya disebabkan filter udara kotor, throttle body bermasalah, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai rekomendasi, hingga katup EGR yang mulai kotor. Pada generasi L11, keluhan ngelitik mulai berkurang karena sistem EGR sudah tidak digunakan lagi.

Selain itu, Grand Livina juga dikenal kurang bertenaga, terutama pada varian matik. Banyak pengguna menilai akselerasi mobil ini kalah dibanding rival sekelasnya seperti Honda Mobilio.

Masalah berikutnya yang cukup sering muncul adalah coil bocor. Gejalanya mesin terasa pincang dan performa mobil menurun. Walaupun tergolong kerusakan ringan, kondisi ini cukup mengganggu terutama saat kendaraan dipakai perjalanan jauh.

Keluhan lain yang cukup terkenal adalah overheat. Nissan Grand Livina memiliki suhu kerja mesin yang relatif lebih panas dibanding beberapa mobil Jepang lain. Jika sistem pendinginan tidak dijaga dengan baik, risiko overheat bisa muncul dan berujung pada kerusakan mesin.

Baca Juga: Harga Mobil Bekas Nissan Livina 2019-2022 Terbaru, MPV Kembar Xpander Mulai Rp158 Juta

Tidak hanya itu, bagian heat insulator knalpot juga disebut menjadi salah satu titik lemah. Materialnya dapat mengering dan berpotensi terbakar ketika menempel pada header knalpot.

Kaki-Kaki dan Spare Part Jadi Sorotan

Selain mesin, sektor kaki-kaki juga kerap menjadi keluhan pemilik Grand Livina. Ball joint yang aus dapat menyebabkan bagian kaki-kaki terasa tidak stabil bahkan berisiko terlepas dari dudukannya jika dibiarkan terlalu lama.

Meski demikian, banyak pengguna menganggap kerusakan tersebut lebih dipengaruhi faktor usia kendaraan. Sebab, Grand Livina generasi awal sudah beredar sejak 2007, sedangkan generasi L11 mulai hadir pada 2013.

Artinya, sebagian besar unit yang beredar saat ini memang sudah masuk kategori mobil tua. Namun menariknya, masih cukup banyak unit Grand Livina yang mampu bertahan tanpa overhaul mesin meski usia kendaraan sudah di atas 10 tahun.

Persoalan lain yang sering dibahas adalah harga spare part Nissan yang dianggap lebih mahal dibanding mobil Jepang lain. Beberapa komponen sensor bahkan memiliki harga jauh di atas kompetitor.

Tak hanya mahal, spare part original juga kadang sulit ditemukan dan harus inden di dealer resmi. Hal tersebut terjadi karena jaringan dealer Nissan saat ini tidak sebanyak beberapa tahun lalu.

Meski begitu, pemilik masih bisa memanfaatkan spare part aftermarket yang kini cukup banyak tersedia di pasaran.

Nyaman Dipakai Harian, Tapi AC Belakang Kurang Maksimal

Di luar berbagai kekurangan tadi, Nissan Grand Livina tetap punya nilai lebih yang sulit disaingi. Kenyamanan suspensinya menjadi salah satu alasan utama mobil ini masih diminati.

Banyak pengguna menyebut karakter suspensinya terasa seperti sedan. Handling juga cukup stabil untuk ukuran MPV keluarga.

Namun Grand Livina punya kekurangan pada sistem pendingin kabin. AC mobil ini dinilai kurang maksimal untuk penumpang baris ketiga karena tidak menggunakan double blower seperti beberapa rivalnya.

Selain itu, suara dari luar kabin juga cukup mudah masuk sehingga banyak pemilik menambahkan peredam ekstra agar kabin lebih senyap.

Untuk pilihan generasi, L10 dinilai lebih kuat karena masih menggunakan transmisi otomatis konvensional AT. Sedangkan L11 tampil lebih modern, tetapi memakai CVT yang dianggap lebih sensitif jika perawatan kurang baik.

Kesimpulannya, Nissan Grand Livina masih layak dibeli sebagai mobil bekas keluarga selama pemilik siap melakukan perawatan rutin. Mobil ini cocok bagi pengguna yang mengutamakan kenyamanan, tetapi kurang direkomendasikan untuk mereka yang ingin kendaraan minim perawatan dan mudah mencari spare part.

Editor : M. Helmi Nurhisam
#Nissan Grand Livina