JAKARTA - Nissan Grand Livina bekas kembali menjadi perbincangan di kalangan pecinta mobil second. Mobil MPV yang sempat populer di Indonesia itu disebut memiliki kenyamanan di atas rivalnya, Toyota Avanza dan Daihatsu Xenia. Namun di balik kenyamanan tersebut, ternyata ada sejumlah kelemahan khas yang wajib diketahui calon pembeli.
Dalam sebuah obrolan otomotif di YouTube, seorang mekanik bengkel mengungkap pengalaman panjangnya menggunakan dan merawat Nissan Grand Livina. Ia menilai banyak orang terlalu fokus pada kekurangan Livina, padahal mobil ini punya banyak kelebihan yang sering terlupakan.
Menurutnya, salah satu masalah paling sering ditemui pada Nissan Grand Livina adalah gejala “ngedrop” saat akselerasi di putaran bawah. Hal itu terjadi ketika pengemudi menginjak gas pada momentum yang tidak tepat, baik di transmisi manual maupun matik.
Baca Juga: Gesits Raya Motor Listrik Jadi Sorotan, Desain Modern dan Biaya Hemat Bikin Masyarakat Mulai Beralih
“Kalau timing ngegas sama posisi gigi enggak pas, mobil jadi ngeden dan terasa enggak jalan,” ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan kondisi tersebut bukan sepenuhnya kelemahan, melainkan karakter bawaan mobil. Pengemudi hanya perlu memahami teknik berkendara yang sesuai agar performa tetap nyaman digunakan harian.
Penyakit Khas Nissan Grand Livina
Selain masalah akselerasi bawah, Nissan Grand Livina juga dikenal memiliki gejala mesin ngelitik. Bahkan, menurut mekanik tersebut, suara ngelitik bisa muncul terus-menerus jika perawatan kurang maksimal.
Namun ia menjelaskan, kondisi itu masih bisa diminimalisir dengan servis rutin dan penggunaan bahan bakar yang tepat. Beberapa langkah yang disarankan antara lain membersihkan throttle body, EGR, intake, hingga menggunakan BBM minimal RON 92.
“Kalau mau meminimalisir ngelitik, throttle body dan intake wajib dibersihkan. Oli mesin juga jangan pakai yang palsu,” katanya.
Tak hanya itu, komponen koil juga disebut menjadi salah satu titik lemah Grand Livina. Kebocoran pada selongsong koil kerap memicu gangguan pengapian. Beruntung, jika kerusakan hanya terjadi pada bagian selongsong, biaya perbaikannya masih relatif terjangkau.
Masalah lain yang cukup sering dikeluhkan pemilik adalah sektor kaki-kaki yang dianggap lebih lemah dibanding rival sekelasnya. Tetapi menurutnya, kelemahan itu sebanding dengan kenyamanan berkendara yang ditawarkan mobil ini.
Nyaman Dipakai Jarak Jauh
Di balik berbagai kekurangannya, Nissan Grand Livina disebut unggul dalam hal kenyamanan kabin. Bahkan mobil ini dijuluki sebagai “minibus rasa sedan” karena bantingan suspensinya lebih empuk dibanding Avanza dan Xenia.
Mekanik tersebut mengaku pernah melakukan perjalanan jauh menggunakan Grand Livina dari Bogor ke Banjar dan merasakan kenyamanan signifikan selama perjalanan.
Baca Juga: Momentum Harkitnas 2026, Wali Kota Blitar Ajak Tunas Bangsa Terus Berkarya
“Naik Livina itu nyaman banget. Kedap, irit, AC dingin sampai belakang,” ungkapnya.
Kelebihan lain yang menjadi sorotan adalah konsumsi bahan bakar yang irit. Dalam pengalaman touring dari Semarang ke Bogor, Grand Livina matik disebut lebih hemat dibanding Xenia manual yang berjalan bersamaan sepanjang perjalanan.
Ia menyebut mobilnya hanya menghabiskan sekitar Rp260 ribu untuk bensin, sedangkan kendaraan lain mengisi hingga Rp300 ribuan dalam rute serupa.
Grand Livina Bekas Masih Layak Dibeli?
Meski banyak orang takut membeli Nissan Grand Livina bekas karena isu sparepart mahal dan penyakit khas mesin, mekanik tersebut justru merekomendasikan mobil ini untuk konsumen dengan budget terbatas yang menginginkan kenyamanan.
Menurutnya, harga sparepart Nissan memang relatif lebih mahal dibanding Toyota, tetapi kualitasnya juga dianggap sebanding. Selain itu, suku cadang aftermarket kini juga mulai banyak tersedia di pasaran.
Ia bahkan menyarankan konsumen lebih memilih Grand Livina dibanding Avanza jika prioritas utama adalah kenyamanan berkendara.
“Kalau mau nyaman, jangan beli Avanza-Xenia. Livina enggak bakal bikin nyesel,” katanya.
Dalam diskusi tersebut juga muncul pembahasan mengenai mobil-mobil Nissan lain yang dianggap “terlupakan” tetapi sebenarnya punya kualitas bagus, seperti Nissan Juke. Mobil itu dinilai kurang diminati karena desain unik, padahal kenyamanan dan handling-nya cukup baik.
Baca Juga: Hadapi Dampak Kemarau Panjang El Nino, Petani di Blitar Mulai Rombak Pola Tanam
Konten otomotif seperti ini dinilai menarik karena memberikan sudut pandang bengkel dan pengalaman langsung pengguna, bukan sekadar ulasan spesifikasi di atas kertas. Calon pembeli mobil bekas pun bisa mendapatkan gambaran lebih realistis mengenai plus minus kendaraan incaran mereka sebelum memutuskan membeli.
Editor : Dyah Wulandari