BLITAR KAWENTAR - Polemik baterai motor listrik Polytron Fox-R kembali menjadi sorotan publik. Setelah sempat viral keluhan pengguna soal baterai yang dianggap cepat drop, kini sebuah pengujian kapasitas baterai dilakukan secara langsung untuk mengetahui performa riil motor listrik tersebut.
Pengujian itu dibagikan melalui kanal YouTube Dulteknik. Dalam video tersebut, sang kreator mencoba mengukur kapasitas asli baterai Polytron Fox-R milik pelanggan yang baru digunakan sekitar 2.000 kilometer.
Hasil tes baterai Polytron Fox-R itu langsung memancing perhatian. Pasalnya, dari klaim kapasitas 52 Ah, baterai yang diuji hanya menunjukkan angka sekitar 49,14 Ah atau setara sekitar 94 persen dari kapasitas awal.
Viral Keluhan Baterai Polytron Fox-R
Belakangan ini, sejumlah pengguna Polytron Fox-R mengeluhkan performa baterai yang dianggap mulai menurun meski usia pemakaian masih tergolong baru.
Keluhan tersebut membuat banyak pengguna mempertanyakan standar garansi dan klaim penggantian baterai dari pihak Polytron.
Dalam video tersebut, Dulteknik menyebut hingga kini masih banyak pengguna yang belum memahami detail parameter klaim baterai ketika kapasitas turun hingga 80 persen.
“80 persen itu acuannya apa? Apakah dari kapasitas asli baterai, kemampuan sel, atau jarak tempuhnya?” ujar pembawa acara dalam video tersebut.
Menurutnya, jika parameter diukur berdasarkan jarak tempuh, maka hasilnya akan sulit dijadikan patokan karena dipengaruhi banyak faktor.
Jarak Tempuh Tak Bisa Jadi Acuan
Dalam penjelasannya, Dulteknik menyebut penurunan jarak tempuh motor listrik bisa dipengaruhi banyak hal. Mulai dari bobot pengendara, kondisi jalan, gaya berkendara, hingga setelan rem yang terlalu mencengkeram.
Karena itu, pengujian kapasitas riil baterai dianggap menjadi cara paling objektif untuk mengetahui kondisi kesehatan baterai atau state of health (SOH).
Unit Polytron Fox-R yang diuji sendiri masih tergolong baru dengan odometer sekitar 2.057 kilometer. Motor tersebut kemudian dites menggunakan alat discharge khusus tanpa membongkar baterai dari unit motor.
Baterai Dikuras Sampai Habis
Pengujian dilakukan dengan metode discharge atau pengurasan daya baterai hingga habis total. Motor diuji dalam kondisi baterai penuh 100 persen sebelum akhirnya dikuras menggunakan arus 20 ampere.
Dalam proses tersebut, alat akan membaca total kapasitas energi yang berhasil dikeluarkan dari baterai.
“Kalau klaimnya 52 Ah, maka nanti kita lihat kapasitas riilnya berapa,” jelasnya.
Pengujian berlangsung sekitar dua hingga tiga jam hingga baterai benar-benar habis. Tegangan cutoff ditentukan di angka 60 volt karena baterai Polytron Fox-R menggunakan konfigurasi 23 sel.
Hasil Tes Baterai Polytron Fox-R
Setelah proses pengujian selesai, hasil akhir menunjukkan kapasitas baterai yang terbaca berada di angka 49,14 Ah.
Artinya, kapasitas riil baterai tersebut berada di kisaran 94 persen dari klaim awal 52 Ah.
“Kalau dihitung, berarti kapasitas baterainya tinggal sekitar 94 persen,” ungkapnya.
Meski demikian, Dulteknik menegaskan dirinya tidak bermaksud menjatuhkan produk tertentu. Ia hanya ingin memberikan gambaran kepada masyarakat terkait kapasitas nyata baterai Polytron Fox-R berdasarkan hasil pengujian langsung.
Belum Ada Penjelasan Resmi Soal SOH
Salah satu hal yang masih menjadi tanda tanya adalah parameter resmi klaim garansi baterai dari Polytron.
Dalam video tersebut disebutkan, hingga kini belum ada penjelasan rinci apakah batas 80 persen yang menjadi syarat klaim garansi dihitung berdasarkan kapasitas riil baterai, kesehatan sel, atau parameter lainnya.
Padahal, informasi tersebut dinilai penting agar konsumen memahami standar penurunan performa baterai yang masih dianggap normal.
Pengujian seperti ini juga dinilai bisa menjadi referensi awal bagi pengguna motor listrik lain untuk memahami kondisi baterai kendaraan mereka setelah dipakai beberapa waktu.
Meski hasilnya menunjukkan penurunan kapasitas, angka 94 persen sebenarnya masih tergolong cukup baik untuk baterai yang sudah digunakan ribuan kilometer.
Namun polemik baterai Polytron Fox-R diprediksi masih akan terus menjadi perhatian publik hingga ada penjelasan resmi yang lebih detail dari pihak produsen.
Editor : Fadhilah Salsa Bella