JAKARTA - Nissan Grand Livina bekas masih menjadi salah satu mobil keluarga yang cukup diminati di pasar mobil second Indonesia. Harga yang kini semakin murah membuat Low MPV ini sering dibandingkan dengan Toyota Avanza, Honda Mobilio, hingga mobil LCGC bekas.
Namun di balik kenyamanannya, Nissan Grand Livina juga dikenal memiliki sejumlah penyakit khas yang membuat banyak calon pembeli ragu. Mulai dari mesin ngelitik, CVT rawan rusak, hingga spare part mahal dan sulit dicari.
Lantas, apakah Nissan Grand Livina benar-benar mobil penyakitan atau hanya faktor usia kendaraan?
Penyakit Khas Nissan Grand Livina
Salah satu masalah paling sering muncul pada Nissan Grand Livina generasi L10 adalah suara mesin ngelitik. Mobil dengan mesin 1.500 cc tersebut memang dikenal sering mengeluarkan bunyi kasar saat langsam atau putaran bawah.
Penyebabnya cukup beragam, mulai dari filter udara kotor, throttle body kotor, penggunaan BBM tidak sesuai rekomendasi, hingga EGR yang bermasalah.
Meski terdengar mengganggu, kondisi itu disebut bukan kerusakan fatal. Bahkan banyak pengguna menilai suara ngelitik pada Grand Livina L10 sudah menjadi karakter yang sulit dihilangkan sepenuhnya.
“Kalau ditambah gas biasanya suara ngelitik hilang,” ujar reviewer dalam video ulasannya.
Berbeda dengan generasi L10, Nissan Grand Livina L11 disebut sudah mengalami perbaikan sehingga gejala ngelitik lebih minim.
Tenaga Mesin Dinilai Lemot
Selain masalah ngelitik, Grand Livina juga sering mendapat kritik karena performanya yang dianggap kurang responsif, terutama versi matik.
Jika dibandingkan Honda Mobilio, akselerasi awal Grand Livina dinilai kalah cepat. Bahkan versi L11 dengan transmisi CVT disebut terasa lebih lambat dibanding rival di kelas yang sama.
Namun karakter mobil berubah saat kecepatan sudah melewati 60 km per jam. Di kecepatan menengah hingga tinggi, Grand Livina justru terasa nyaman dan stabil digunakan untuk perjalanan jauh.
CVT dan Koil Jadi Sorotan
Kekurangan lain yang sering dikeluhkan pengguna adalah transmisi CVT pada Grand Livina L11. Transmisi ini dianggap lebih sensitif dibanding transmisi otomatis konvensional.
Meski begitu, masalah CVT biasanya muncul akibat perawatan yang kurang maksimal, terutama keterlambatan penggantian oli transmisi.
Selain CVT, Nissan Grand Livina juga terkenal sering mengalami koil bocor. Gejalanya mesin terasa pincang dan tenaga mendadak hilang saat digunakan.
“Masalahnya sebenarnya sepele, tapi cukup ngeselin kalau muncul di tengah perjalanan,” katanya.
Rawan Overheat dan Kaki-Kaki Bermasalah
Grand Livina juga dikenal memiliki suhu kerja mesin lebih panas dibanding mobil Jepang lain. Suhu normal mesin bisa berada di kisaran 85 hingga 99 derajat Celcius.
Kasus overheat cukup sering ditemukan, terutama pada unit yang kurang terawat. Bahkan ada kasus heat insulator knalpot terbakar karena material peredam panas yang digunakan Nissan dianggap mudah terbakar.
Selain mesin, sektor kaki-kaki juga menjadi perhatian. Ball joint Grand Livina disebut cukup sering rusak hingga copot dari dudukannya jika tidak rutin dicek.
Apakah Grand Livina Tidak Awet?
Meski memiliki banyak penyakit khas, bukan berarti Nissan Grand Livina adalah mobil yang tidak awet. Reviewer menilai sebagian besar masalah muncul karena usia kendaraan yang sudah tua.
Grand Livina generasi pertama L10 hadir sejak 2007, sedangkan generasi L11 mulai dipasarkan pada 2013. Artinya, unit termuda Grand Livina saat ini sudah berusia lebih dari tujuh tahun.
“Mobil tua rusak itu wajar. Yang penting masih banyak Grand Livina yang sampai sekarang belum overhaul,” jelasnya.
Dengan perawatan rutin dan penggunaan yang benar, Grand Livina dinilai tetap bisa menjadi mobil keluarga yang nyaman dan tahan lama.
Spare Part Mahal dan Dealer Mulai Langka
Salah satu hal yang paling sering dikeluhkan pemilik Nissan Grand Livina adalah harga spare part original yang relatif mahal.
Beberapa komponen seperti sensor oksigen bahkan bisa mencapai jutaan rupiah di dealer resmi. Selain mahal, ketersediaan spare part juga kerap menjadi masalah karena harus inden cukup lama.
Kondisi ini terjadi karena jaringan dealer Nissan di Indonesia sudah tidak sebanyak dulu.
Namun untungnya, saat ini spare part aftermarket Grand Livina sudah mulai banyak tersedia di pasaran sehingga pemilik memiliki alternatif lebih murah.
Masih Layak Dibeli?
Meski punya beberapa kelemahan, Nissan Grand Livina tetap dianggap layak dibeli, terutama bagi konsumen yang mencari mobil keluarga nyaman dengan harga terjangkau.
Baca Juga: Review Jujur Polytron Fox-R Setelah 1 Minggu Dipakai, Suspensi Keras hingga Footstep Bikin Pegal
Suspensi empuk, handling stabil, dan kabin lega menjadi nilai jual utama mobil ini. Bahkan banyak pengguna menyebut Grand Livina terasa seperti sedan dalam bentuk MPV.
Namun calon pembeli disarankan memahami karakter mobil ini sebelum membeli. Jika hanya ingin mobil yang minim perawatan, Grand Livina mungkin bukan pilihan terbaik.
“Tapi kalau tahu cara merawatnya, mobil ini sangat recommended,” tutup reviewer.
Baca Juga: Review Jujur Polytron Fox-R Setelah 1 Minggu Dipakai, Suspensi Keras hingga Footstep Bikin Pegal
Editor : Dyah Wulandari