BLITAR KAWENTAR - Motor listrik Maka Motors Cavalry mulai ramai dibicarakan pecinta otomotif Tanah Air. Mengusung slogan “motor paling enak”, banyak orang penasaran apakah performa dan kenyamanan motor listrik lokal ini benar-benar sebaik klaimnya.
Dalam pengujian yang dilakukan kanal Otomotif TV, Maka Cavalry ternyata memang menawarkan banyak keunggulan, terutama dari sisi performa, handling, hingga kenyamanan berkendara. Namun di balik itu, masih ada beberapa catatan yang dianggap perlu diperbaiki.
Motor listrik Maka Cavalry sendiri dibekali baterai lithium ferro phosphate berkapasitas 4 kWh dan motor listrik hub drive berkekuatan 4 kW dengan tenaga puncak mencapai 9 kW atau setara 12 HP. Yang paling menarik adalah torsinya yang mencapai 251 Nm.
Dua Riding Mode dengan Karakter Berbeda
Maka Cavalry memiliki dua mode berkendara utama, yakni HT atau High Torque dan HR atau High Regen.
Mode HT menjadi karakter yang paling disukai karena menawarkan akselerasi responsif dan performa agresif. Meski tarikan awal terasa cukup kalem, setelah motor berjalan performanya langsung terasa ringan dan responsif.
Saat digunakan menyalip atau melewati tanjakan, motor terasa sangat enteng. Bahkan penguji menyebut sensasi berkendaranya benar-benar nyaman dan sesuai slogan “motor paling enak”.
Dalam pengujian, top speed Maka Cavalry di mode HT berhasil mencapai 108 km/jam, sedikit lebih tinggi dari klaim resmi 105 km/jam. Akselerasinya juga diklaim tidak jauh berbeda dibanding Honda PCX 160 RoadSync.
Namun kelemahan mode HT adalah tidak adanya efek regenerative braking. Saat gas ditutup, motor terasa ngeloyor seperti motor manual yang koplingnya ditarik sehingga deselerasi sepenuhnya bergantung pada rem.
Mode HR Lebih Irit tapi Kurang Nyaman
Sementara itu, mode HR atau High Regen difokuskan untuk efisiensi daya baterai. Mode ini menghadirkan efek regenerative braking sangat besar demi memperpanjang jarak tempuh.
Sayangnya, karakter tersebut justru dianggap kurang nyaman. Saat gas ditutup, engine brake terasa terlalu kuat hingga motor seperti tertahan mendadak.
Efeknya membuat motor terasa “ngayun” saat berkendara. Selain itu, akselerasi di mode HR juga jauh lebih lambat dibanding mode HT.
Kecepatan maksimal mode HR dibatasi hanya sekitar 70 km/jam. Bahkan ketika baterai mulai menipis di bawah 11 persen, kecepatan motor turun menjadi 40 km/jam dan saat indikator kura-kura muncul, top speed hanya tersisa sekitar 32 km/jam.
Jarak Tempuh Tembus 120 Kilometer
Soal daya jelajah, Maka Cavalry mencatat hasil cukup impresif. Dalam pengujian agresif menggunakan mode HT, motor mampu menempuh sekitar 91 kilometer dalam sekali pengisian daya.
Sementara di mode HR yang lebih hemat energi, jarak tempuh meningkat hingga sekitar 112 kilometer.
Pabrikan sebenarnya mengklaim motor ini mampu mencapai 160 kilometer. Namun angka tersebut hanya bisa dicapai jika motor digunakan dengan kecepatan rata-rata sekitar 25 km/jam.
Meski begitu, hasil nyata 90 hingga 120 kilometer tetap dianggap sangat baik untuk penggunaan harian maupun touring jarak dekat.
Baca Juga: Korupsi Dana Kredit Ratusan Juta, Eks Dirut BPR Kota Blitar Resmi Ditahan Kejaksaan
Pengisian Daya dan Fast Charging
Karena menggunakan baterai besar 4 kWh, pengisian daya Maka Cavalry membutuhkan waktu cukup lama.
Menggunakan charger bawaan berdaya 500 watt, pengisian penuh membutuhkan waktu sekitar delapan jam. Namun pengguna tidak perlu khawatir listrik rumah turun karena daya charger tergolong kecil.
Maka juga menyediakan fasilitas fast charging di dealer resmi. Dalam pengujian disebutkan pengisian selama 12 menit dapat menambah jarak tempuh sekitar 20 kilometer.
Handling dan Suspensi Jadi Nilai Jual
Selain performa, salah satu keunggulan utama Maka Cavalry adalah kenyamanan berkendara. Posisi duduknya disebut mirip Honda ADV 160 dan Honda PCX 160 dengan ergonomi santai khas skutik premium.
Handling motor juga dinilai sangat nurut saat bermanuver. Ban Maxxis soft compound membuat grip terasa lengket di jalan.
Suspensi belakang disebut sangat nyaman dan empuk, sementara suspensi depan terkadang terasa terlalu lembut hingga mudah bottoming saat menghantam lubang besar atau polisi tidur dengan kecepatan tinggi.
Fitur Masih Tergolong Basic
Meski dijual sekitar Rp35,85 juta on the road Jakarta, fitur Maka Cavalry masih tergolong standar.
Motor ini belum menggunakan sistem keyless, ABS, maupun konektivitas aplikasi smartphone. Speedometer digitalnya juga dianggap sederhana meski tetap informatif.
Namun seluruh pencahayaan sudah LED dan tersedia fitur menarik seperti tombol mundur, USB charger, serta dudukan khusus holder ponsel di setang.
Bagasi 20 liter di bawah jok juga cukup lega untuk menyimpan charger, jas hujan, hingga perlengkapan harian.
Finishing Jadi Catatan Penting
Dari sisi build quality, bagian komponen logam seperti pelek, suspensi, dan lengan ayun dinilai cukup baik dengan finishing rapi.
Namun beberapa panel bodi plastik masih memiliki celah yang kurang presisi dan terlihat agak renggang di beberapa bagian.
Meski begitu, dengan kombinasi performa tinggi, handling nyaman, dan jarak tempuh jauh, Maka Cavalry tetap dinilai menjadi salah satu motor listrik lokal paling menarik di kelasnya saat ini.
Baca Juga: Motor Listrik Zongsen IS5 Meluncur, Jarak Tempuh Tembus 300 Km dan Isi Daya 40 Menit Jadi Sorotan
Editor : Fadhilah Salsa Bella