JAKARTA - Touring motor listrik dari Jakarta ke Bali sejauh 1.333 kilometer berhasil dilakukan kreator otomotif Jodi Motovlog HD bersama Mario Iroth menggunakan Polytron Fox Air. Perjalanan ekstrem tersebut langsung mencuri perhatian karena membuktikan motor listrik ternyata bisa dipakai touring jarak jauh, meski penuh tantangan soal baterai dan titik pengisian daya.
Perjalanan ini bahkan disebut akan diabadikan sebagai rekor MURI. Jodi mengaku sengaja mengambil rute jauh untuk menguji kemampuan motor listrik dalam penggunaan touring lintas kota. Dalam video yang diunggah di YouTube, keduanya memulai perjalanan dari Jakarta menuju Bali dengan target hari pertama mencapai Cirebon sejauh sekitar 240 kilometer.
“Ini touring perdana gue pakai motor listrik dan langsung Jakarta-Bali,” ujar Jodi dalam vlognya.
Baca Juga: Ini Penampakan Hewan Kurban di Blitar Hasil Bantuan Presiden Prabowo Subianto
Sejak awal, keduanya sudah mempersiapkan motor dengan mengganti ban menggunakan Michelin Pilot Street 2 untuk meningkatkan handling selama perjalanan jauh. Ban tersebut dipilih karena dianggap lebih cocok untuk karakter skuter listrik dan touring jarak jauh.
Persiapan Touring Motor Listrik Jadi Sorotan
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah proses penggantian ban belakang Polytron Fox Air. Jodi menjelaskan prosesnya jauh lebih rumit dibanding motor biasa karena roda belakang sudah menyatu dengan dinamo motor listrik.
Ia memperlihatkan bagaimana mekanik harus membuka beberapa bagian bodi dan kabel sebelum roda belakang bisa dilepas. Menurutnya, mekanik yang terbiasa menangani motor Eropa atau Jepang biasanya lebih mudah memahami sistem tersebut.
Baca Juga: SMKN 1 Kademangan Blitar Kembali Gelar Job Fair 2026, Buka Ribuan Lowongan Pekerjaan
“Kalau ban depan gampang seperti motor biasa, tapi belakangnya agak ribet karena nyatu sama dinamo,” jelasnya.
Jodi juga menekankan pentingnya memilih ban yang tepat untuk touring motor listrik. Michelin Pilot Street 2 disebut membuat handling lebih presisi dan nyaman saat melintasi jalur Pantura.
Selain itu, keduanya membawa banyak perlengkapan mulai dari charger, tas touring, drone, hingga perlengkapan dokumentasi. Mario Iroth bahkan membawa tas touring berkapasitas 40 liter untuk perjalanan lintas pulau tersebut.
Tantangan Baterai dan Charging Jadi Ujian Utama
Masalah utama touring motor listrik ternyata bukan soal tenaga, melainkan manajemen baterai dan lokasi charging. Dalam perjalanan menuju Karawang, motor Mario mengalami konsumsi baterai lebih boros akibat roda belakang yang terasa seret setelah penggantian ban.
Akibatnya, baterai motor Mario turun drastis hingga tersisa 14 persen, sedangkan motor Jodi masih berada di angka 38 persen. Mereka akhirnya berhenti di bengkel untuk melakukan pengecekan sekaligus mengisi daya sementara.
“Baru hari pertama challengenya sudah ada,” kata Jodi.
Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan menuju SPKLU PLN di Cikampek. Di sana, Jodi menjelaskan langkah-langkah charging motor listrik menggunakan aplikasi PLN Mobile.
Pengguna harus memilih menu electric vehicle, mencari lokasi SPKLU, lalu memilih jenis charger AC Mini Plus. Pembayaran bisa dilakukan langsung menggunakan dompet digital seperti GoPay.
Menariknya, biaya charging disebut sangat murah. Dengan pembelian 5 KWH listrik, biaya yang keluar hanya sekitar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu tergantung pemakaian. Kapasitas baterai Polytron Fox Air sendiri berada di angka 3,75 KWH.
“Murah banget sih, enggak nyampe Rp15 ribu,” ungkap Mario.
Jodi juga menggunakan adaptor fast charging prototipe dari Polytron yang membuat pengisian dari 50 persen ke 100 persen hanya memakan waktu sekitar 30 menit.
Hampir Kehabisan Baterai di Pantura hingga Tiba di Cirebon
Drama terbesar terjadi saat perjalanan menuju Jatibarang, Indramayu. Setelah beberapa kali gagal menemukan lokasi charging yang cocok, baterai motor Mario tersisa hanya 5 persen dengan estimasi jarak yang nyaris tidak cukup menuju SPKLU terdekat.
Keduanya akhirnya memutuskan bertukar motor karena gaya berkendara Jodi dianggap lebih hemat baterai dibanding Mario yang terbiasa mengendarai motor adventure.
Dengan kecepatan konstan sekitar 20-25 km/jam dan penggunaan mode hemat, mereka akhirnya berhasil mencapai SPKLU Jatibarang dengan sisa baterai hanya 2 persen.
“Perasaannya kayak roller coaster, antara sampai atau enggak,” kata Jodi.
Setelah charging penuh sambil makan malam dan menonton MotoGP, perjalanan dilanjutkan menuju hotel di Cirebon. Mereka tiba dengan kondisi baterai yang masih aman dan menemukan fasilitas fast charging di penginapan.
Meski penuh tantangan, Jodi menilai pengalaman touring motor listrik justru menghadirkan sensasi baru yang berbeda dibanding touring motor bensin.
“Rasanya kayak pertama kali touring lagi, tantangannya nyata,” ujarnya.
Perjalanan Jakarta-Bali menggunakan motor listrik ini pun menjadi pembuktian bahwa kendaraan listrik kini mulai layak digunakan untuk perjalanan jauh, asalkan pengendara memahami manajemen baterai dan titik pengisian daya.
Editor : Divka Vance Yandriana