BLITAR KAWENTAR - Touring motor listrik Jakarta-Bandung menggunakan Polytron Fox Air menjadi sorotan setelah seorang motovlogger nekat melakukan perjalanan jarak jauh tanpa mode hemat baterai. Dalam perjalanan sejauh lebih dari 200 kilometer itu, motor listrik justru dipacu “gaspol” di jalur arteri hingga tanjakan Puncak sambil menguji kemampuan baterai dan fast charging.
Perjalanan dimulai pada Jumat, 5 September, menggunakan Polytron Fox Air dengan kondisi baterai penuh 100 persen dan odometer di angka 5.800 kilometer. Touring ini sekaligus menjadi pengalaman pertama sang rider melakukan perjalanan jauh memakai motor listrik.
Berbeda dari pengguna motor listrik kebanyakan yang mengutamakan mode eco, touring kali ini justru dilakukan dengan gaya agresif. Kecepatan rata-rata dijaga di kisaran 60-70 km/jam dengan mode drive tanpa pembatasan akselerasi berlebihan.
“Pokoknya kali ini saya enggak mau eco driving. Kita gaspol terus selama masih memungkinkan,” ujar rider dalam videonya.
Baca Juga: Rekomendasi Mobil 50 Jutaan yang Masih Layak Dibeli, Murah, Irit, dan Nyaman untuk Aktivitas Harian
Touring Motor Listrik Jakarta-Bandung Dimulai dengan Persiapan Lengkap
Sebelum perjalanan dimulai, sejumlah perlengkapan touring disiapkan secara detail. Mulai dari tas perlengkapan pribadi, sarung tangan, tripod, GoPro, intercom, hingga perlengkapan charging motor listrik.
Bagian paling penting dalam touring motor listrik ini adalah fast charger dan converter charging. Charger khusus tersebut memungkinkan pengisian baterai jauh lebih cepat dibanding charger standar bawaan motor.
Menurut rider, charger standar Polytron Fox Air membutuhkan waktu sekitar lima jam untuk mengisi daya dari 0 hingga 100 persen. Sementara fast charger mampu memangkas waktu charging menjadi hanya sekitar 30 menit hingga satu jam dari kondisi baterai 50 persen menuju penuh.
“Kalau touring nunggu lima jam buat charging bisa capek duluan,” katanya.
Perjalanan dimulai pukul 11.00 siang dari Jakarta Barat menuju Bogor hingga kawasan Puncak. Dalam kondisi jalan arteri, motor mampu melaju stabil di kecepatan 66 km/jam dengan konsumsi baterai yang masih tergolong normal.
Namun tantangan mulai terasa ketika memasuki jalur menanjak menuju Puncak. Rider menyebut konsumsi baterai meningkat drastis karena motor harus mengeluarkan torsi lebih besar untuk melewati tanjakan.
Tanjakan Puncak Bikin Baterai Motor Listrik Lebih Boros
Performa Polytron Fox Air diuji habis-habisan di jalur Puncak. Dengan kondisi motor membawa top box dan perlengkapan touring, motor tetap dipacu dalam mode drive tanpa bantuan sport mode di sebagian besar perjalanan.
Meski begitu, rider mengaku konsumsi baterai berubah drastis saat melewati tanjakan panjang. Jika sebelumnya 55 persen baterai mampu menempuh sekitar 60 kilometer di jalur datar, kini jarak tempuh hanya berkisar 35 kilometer.
“Kalau nanjak ternyata makan baterai banget karena torsinya harus lebih besar,” ujarnya.
Selain baterai yang cepat terkuras, kestabilan sasis juga menjadi catatan tersendiri. Meski shockbreaker depan dan belakang sudah dimodifikasi menggunakan komponen aftermarket, getaran pada setang masih terasa saat motor dipacu di kecepatan tinggi.
Di sisi lain, perjalanan tetap terasa menyenangkan karena torsi instan motor listrik membuat akselerasi tetap responsif di tanjakan. Bahkan rider beberapa kali melakukan overtaking kendaraan lain saat kondisi jalan memungkinkan.
Selama perjalanan, pengisian daya dilakukan di sejumlah SPKLU PLN seperti UP3 Bogor, PLN Cimacan, hingga PLN Raja Mandala. Biaya charging juga terbilang murah. Untuk pengisian sekitar 2,1 kWh, rider hanya mengeluarkan biaya sekitar Rp14 ribu dengan sisa saldo pengembalian di aplikasi PLN Mobile.
Hujan Deras dan Charging Jadi Tantangan Touring Motor Listrik
Tantangan terbesar touring motor listrik Jakarta-Bandung muncul ketika perjalanan memasuki wilayah Cianjur hingga Cipatat. Hujan deras mengguyur jalur pegunungan dengan visibilitas yang sangat minim.
Kondisi tersebut membuat rider harus beberapa kali berhenti karena perangkat kamera dan kabel audio mulai kemasukan air. Meski demikian, motor listrik justru dianggap lebih aman saat melewati genangan karena tidak memiliki ruang mesin seperti motor bensin.
“Nilai positif motor listrik itu enggak khawatir mesin kemasukan air,” katanya.
Namun ada satu kelemahan penting yang diakui rider, yakni proses charging tidak bisa dilakukan saat kondisi hujan tanpa pelindung memadai. Saat berhenti di PLN Raja Mandala, proses pengisian bahkan harus beberapa kali diulang karena charger terkena air hujan.
Rider pun meminta fasilitas SPKLU untuk motor listrik dilengkapi kanopi agar pengguna lebih nyaman saat charging dalam kondisi hujan maupun panas.
Perjalanan akhirnya berakhir di kawasan Bandung pada pukul 22.00 WIB. Total perjalanan dari Jakarta Barat menuju Bandung ditempuh selama hampir 11 jam dengan beberapa kali charging dan istirahat di SPKLU PLN.
Meski penuh tantangan, touring motor listrik ini membuktikan kendaraan listrik roda dua mulai mampu diandalkan untuk perjalanan jarak jauh asalkan pengendara memahami pola konsumsi baterai dan titik pengisian daya.
Editor : Fadhilah Salsa Bella