BLITAR KAWENTAR - Rekor perjalanan Jakarta Bandung naik motor listrik menggunakan Polytron Fox Air akhirnya berhasil dipangkas menjadi hanya delapan jam lewat jalur Jonggol. Perjalanan sejauh hampir 190 kilometer itu tetap penuh tantangan karena rider harus menghadapi hujan deras, jalan bergelombang, hingga tanjakan ekstrem jalur truk menuju Cipatat.
Perjalanan dilakukan kreator otomotif Koko Serba Bisa untuk memecahkan personal best record touring motor listrik Jakarta-Bandung. Sebelumnya, perjalanan serupa melalui jalur Puncak membutuhkan waktu hingga 11 jam akibat kemacetan long weekend, proses charging yang belum efisien, hingga hujan deras sepanjang perjalanan.
Kali ini, rider mencoba strategi baru dengan memilih jalur Jonggol-Cipatat yang dinilai lebih landai dan efisien untuk konsumsi baterai motor listrik Polytron Fox Air.
Jalur Jonggol Jadi Kunci Rekor Jakarta Bandung Motor Listrik
Perjalanan dimulai dari Jakarta Barat menuju Bandung dengan target waktu tempuh enam jam. Rider berangkat menggunakan Polytron Fox Air yang sudah dimodifikasi melalui proses remap untuk meningkatkan performa motor saat touring jarak jauh.
Sebelum memulai perjalanan, pengisian daya dilakukan di Service Center Polytron Pondok Indah yang memiliki empat slot fast charging gratis. Menurut rider, waktu pagi menjadi momen terbaik untuk charging karena lokasi biasanya masih sepi.
“Kalau mau ngecas fast charging gratisan di service center Polytron Pondok Indah bisa waktu pagi, masih kosong,” ujarnya.
Checkpoint pertama dilakukan di PLN ULP Jonggol. Setelah menempuh perjalanan sekitar 61 kilometer, baterai motor tersisa 47 persen. Pengisian daya dari 50 persen hingga penuh membutuhkan waktu sekitar 50 menit menggunakan fast charging 30 ampere.
Dari Jonggol, perjalanan dilanjutkan menuju Cipatat dan Rajamandala. Jalur ini dipilih karena dinilai lebih efektif dibanding rute Puncak yang memiliki tanjakan lebih curam dan kemacetan lebih padat.
“Kalau versus jalur Puncak, jalur Jonggol relatif lebih landai tanjakan dan turunannya,” katanya.
Hujan Deras dan Jalan Rusak Jadi Tantangan Berat Touring EV
Meski jalur Jonggol dinilai lebih efisien, perjalanan tetap tidak mudah. Rider harus menghadapi kondisi jalan bergelombang akibat jalur truk berat, aspal rusak, hingga hujan deras sepanjang perjalanan menuju Bandung.
Di sejumlah titik, jalanan beton rusak membuat motor harus melaju perlahan. Bahkan rider beberapa kali menghindari lubang besar, batu berjatuhan dari truk, hingga genangan air yang cukup dalam.
“Aduh, gila bolongnya,” ucap rider saat melewati jalur rusak menuju Cipatat.
Kondisi semakin sulit saat hujan deras mulai turun memasuki kawasan Ciranjang hingga Rajamandala. Meski begitu, motor listrik disebut tetap aman melintasi genangan karena tidak memiliki throttle body seperti motor bensin.
Namun rider tetap mengingatkan pentingnya pengecekan rutin pada bagian BLDC atau dinamo roda belakang motor listrik setelah sering terkena hujan.
“Motor listrik enggak khawatir kemasukan air, cuma BLDC roda penggerak harus dicek rutin,” jelasnya.
Perjalanan juga memperlihatkan efisiensi baterai yang cukup baik. Saat menempuh hampir 40 kilometer jalur tanjakan dan turunan Jonggol, konsumsi baterai tercatat hanya sekitar 43 persen.
Angka itu jauh lebih baik dibanding jalur Puncak yang sebelumnya menghabiskan hingga 60 persen baterai hanya untuk perjalanan 35 kilometer.
Strategi Charging dan Remap Jadi Faktor Penentu
Selain pemilihan rute, rider menyebut strategi charging menjadi faktor utama keberhasilan memangkas waktu perjalanan Jakarta-Bandung menggunakan motor listrik.
Dalam perjalanan kali ini, pengisian daya hanya dilakukan dua kali, yakni di PLN ULP Jonggol dan PLN Rajamandala. Bahkan menurut rider, pengguna motor listrik yang tinggal lebih dekat dari Jakarta bisa saja hanya membutuhkan satu kali charging.
Di Rajamandala, pengisian dilakukan saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Rider menyebut charging saat cuaca dingin justru lebih nyaman karena motor tidak mudah mengalami overheat atau E1.
“Kalau ngecas hujan enak karena enggak akan E1,” katanya.
Selain itu, proses remap pada Polytron Fox Air disebut sangat membantu performa touring. Dengan remap, motor mampu mencapai top speed hingga 80 kilometer per jam di mode drive tanpa membuat konsumsi baterai terlalu boros.
Menurut rider, penggunaan mode sport terus-menerus memang memberi tenaga besar, tetapi dapat mempercepat baterai habis. Karena itu ia lebih sering mengombinasikan mode Drive dan Sport sesuai kondisi jalan.
Perjalanan akhirnya berakhir di kawasan Pasteur, Bandung, sekitar pukul 15.00 WIB. Meski gagal mencapai target enam jam, rider sukses memangkas waktu tempuh menjadi sekitar delapan jam, lebih cepat tiga jam dibanding perjalanan sebelumnya.
Ia optimistis rekor tersebut masih bisa dipangkas jika kondisi cuaca cerah dan waktu keberangkatan lebih pagi.
Baca Juga: Touring Motor Listrik Jakarta-Bandung Gaspol Jadi Sorotan, Polytron Fox Air Digeber Tanpa Mode Eco
Editor : Dinar Ananda Putri