BLITAR KAWENTAR - Touring Polytron Fox 350 ke Puncak membuktikan motor listrik kini bukan lagi sekadar kendaraan perkotaan. Dalam uji jalan sejauh lebih dari 50 kilometer dengan beban mencapai 180 kilogram, Polytron Fox 350 tetap mampu menaklukkan tanjakan panjang menuju Puncak Pass tanpa kehilangan tenaga secara signifikan.
YouTuber Muhammad Rizki mencoba langsung kemampuan motor listrik Polytron Fox 350 bersama istrinya melalui jalur Tajur hingga Puncak, Bogor. Perjalanan dimulai dengan kondisi baterai 100 persen dan odometer di angka 400 kilometer.
Touring Polytron Fox 350 ini sekaligus menjadi pembuktian bahwa motor listrik masih bisa dipakai touring jarak jauh dan melewati jalur ekstrem, meski harus menghadapi tanjakan panjang serta kondisi lalu lintas padat akhir pekan.
Touring Polytron Fox 350 Dimulai dari Bogor hingga Puncak Pass
Perjalanan menuju Puncak dimulai lewat jalur Tajur yang dikenal memiliki tanjakan panjang dan kontur jalan cukup berat. Dalam perjalanan awal sejauh 32 kilometer menuju Gadog, baterai motor tersisa 57 persen.
“Karena bobot kita berat dan jalannya nanjak terus, baterainya jadi lebih boros,” ujar Rizki dalam videonya.
Ia menjelaskan sejak awal motor digunakan dalam mode D untuk menjaga efisiensi baterai. Namun saat mulai memasuki jalur tanjakan Puncak, mode S akhirnya dipakai karena tenaga motor terasa lebih responsif.
Menurut Rizki, mode S membuat tenaga Polytron Fox 350 terasa “lebih terbuka” ketika melewati tanjakan curam. Bahkan motor masih mampu menggunakan fitur cruise control saat menanjak dengan kecepatan stabil di kisaran 30–40 km/jam.
Dalam pengujian tersebut, Polytron Fox 350 digunakan berboncengan dengan total bobot sekitar 180 kilogram. Meski demikian, motor tetap mampu menyalip kendaraan lain di jalur tanjakan tanpa kehilangan tenaga.
Baterai dan Performa Jadi Sorotan saat Touring Motor Listrik
Touring Polytron Fox 350 juga menguji seberapa kuat konsumsi baterai saat dipakai di jalur pegunungan. Setelah melakukan pengisian daya di PLN Cipayung hingga 88 persen, motor kembali digunakan menuju Puncak Pass.
Hasilnya, baterai tersisa sekitar 41 persen saat tiba di kawasan Puncak Pass. Artinya, sekitar 40 persen baterai digunakan untuk perjalanan tanjakan panjang dengan beban berat.
“Tenaganya cukup banget buat gua berdua sama istri yang total bobotnya hampir 180 kilogram,” kata Rizki.
Selama perjalanan, indikator merah bertanda huruf “M” beberapa kali muncul di panel instrumen. Rizki menduga indikator tersebut menandakan suhu dinamo atau controller mulai panas akibat tanjakan panjang.
Meski begitu, tidak ada penurunan performa yang dirasakan. Kecepatan motor tetap stabil dan tenaga tidak mengalami pengurangan saat menanjak.
Motor listrik ini juga memanfaatkan regenerative braking saat jalur turunan. Rizki mengaku persentase baterai sempat bertambah satu persen ketika turun dari Puncak menuju Cipanas tanpa membuka throttle.
Selain tenaga, kenyamanan riding position juga menjadi poin positif. Dengan tinggi badan 179 cm, Rizki menyebut posisi duduk dan dek kaki Polytron Fox 350 terasa nyaman untuk perjalanan jauh.
Infrastruktur Charging Masih Jadi Tantangan Touring Motor Listrik
Meski touring Polytron Fox 350 berjalan lancar, Rizki mengakui infrastruktur pengisian daya masih menjadi perhatian utama pengguna motor listrik di Indonesia.
Dalam perjalanan tersebut, ia sempat melakukan charging selama sekitar dua jam sebelum kembali melanjutkan perjalanan ke atas Puncak. Penggunaan charger fast charging 30 ampere disebut jauh lebih membantu dibanding charger standar.
“Kalau jalan jauh begini memang lebih enak pakai fast charging, nunggunya enggak terlalu lama,” ujarnya.
Rizki juga menilai motor listrik saat ini sudah cukup mumpuni untuk touring ringan maupun perjalanan luar kota. Namun pengguna tetap harus memperhitungkan lokasi charging sebelum berangkat.
Di sisi lain, fitur-fitur Polytron Fox 350 seperti cruise control dan mode berkendara dinilai sangat membantu di jalur menanjak. Bahkan motor masih stabil digunakan dalam kondisi kabut tebal dan kemacetan khas jalur Puncak saat akhir pekan.
Touring ini akhirnya menjadi pembuktian bahwa motor listrik bukan hanya cocok untuk mobilitas harian di perkotaan. Dengan perencanaan yang tepat, motor listrik juga mampu diajak touring ke daerah pegunungan seperti Puncak.
“Polytron Fox 350 ternyata kuat nanjak dan masih nyaman dipakai touring berdua,” tutup Rizki.
Editor : Dinar Ananda Putri