BLITAR KAWENTAR - Perjalanan solo riding Jakarta-Dieng dengan motor dua tak kembali mencuri perhatian setelah seorang YouTuber otomotif membagikan pengalaman touring sejauh lebih dari 400 kilometer menuju dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Perjalanan itu tidak hanya menyuguhkan panorama pegunungan dan kabut khas Dieng, tetapi juga menjadi momen melawan trauma setelah lima tahun vakum solo touring.
Perjalanan dimulai dari Jakarta pukul 05.00 pagi menggunakan motor bernama “Kancil”. Sang rider sengaja berangkat lebih awal untuk menghindari kemacetan di kawasan Bekasi, Karawang, hingga Cikarang yang disebut bisa memakan waktu hingga empat jam jika terlambat keluar dari Jabodabek.
Di awal perjalanan, kendala langsung muncul ketika motor kehabisan bensin sebelum mencapai SPBU. “Perjalanan baru dimulai sudah ketemu orang baik,” ujarnya setelah mendapat bantuan pengendara lain yang memberikan bensin darurat di kawasan Jakarta.
Keyword utama “solo riding Jakarta Dieng” langsung menjadi inti perjalanan yang dibagikan sepanjang vlog tersebut.
Perjalanan Panjang Lewat Pantura Hingga Jalur Guci
Rute solo riding Jakarta-Dieng ini melewati jalur Pantura dengan titik lintasan Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon, Brebes, hingga masuk jalur pegunungan Guci menuju Wonosobo.
Sepanjang perjalanan, rider beberapa kali berhenti untuk mengisi bahan bakar. Dalam catatannya, motor dua tak tersebut mengonsumsi sekitar 5 liter bensin untuk jarak 100 kilometer atau setara 20 kilometer per liter.
“Untuk mesin dua tak segini, 20 kilometer per liter itu lumayan irit,” katanya.
Perjalanan juga diwarnai pengalaman khas Pantura seperti jalan bergelombang, tambalan aspal, truk besar, hingga kondisi jalan licin akibat sayuran yang dibuang di pasar tradisional.
Di Cirebon, rider sempat berhenti untuk menikmati kuliner khas empal gentong dan sate lontong sebelum melanjutkan perjalanan menuju Jawa Tengah. Ia mengaku sengaja memilih perjalanan siang agar bisa menikmati panorama jalur pegunungan dengan lebih jelas.
Setelah keluar dari Brebes, Google Maps mengarahkan perjalanan menuju jalur Guci. Jalur ini justru menjadi salah satu bagian favorit selama touring karena menyuguhkan hutan pinus, tanjakan panjang, dan suasana pegunungan yang sejuk.
“Enggak nyesal sama sekali lewat jalur Guci ini karena mata benar-benar ke-refresh,” ungkapnya.
Panorama Dieng dan Jalur Pegunungan Jadi Daya Tarik Utama
Memasuki kawasan Wonosobo hingga Dieng, suasana berubah drastis. Udara dingin, kabut tebal, dan hamparan pertanian di lereng bukit membuat perjalanan terasa seperti memasuki “negeri dongeng”.
Rider berkali-kali menghentikan motor hanya untuk menikmati pemandangan dan merekam lanskap alam yang disebutnya sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Jangan cuma lihat di YouTube, lihat sendiri. Masyaallah,” katanya saat melintasi kawasan dataran tinggi Dieng.
Perjalanan menuju titik nol Dieng dipenuhi pemandangan kebun sayur bertingkat, lembah berkabut, dan jalur menanjak yang cukup ekstrem. Meski demikian, motor dua tak yang digunakan tetap mampu melewati tanjakan dengan lancar karena telah disetel untuk tenaga bawah.
Ia juga menyebut jalur pegunungan menuju Dieng jauh lebih menyenangkan dibandingkan jalur Pantura yang cenderung lurus dan panas.
Dalam vlog tersebut, suhu dingin Dieng bahkan membuat rider menggigil karena hanya menggunakan rompi dan kaus tipis. Kabut tebal yang turun menjelang malam semakin memperkuat suasana khas pegunungan Jawa Tengah.
Baca Juga: Touring Jakarta-Dieng Naik Yamaha NMAX Viral, Tanjakan Kerakalan hingga SPBU MURI Tegal Jadi Sorotan
Touring Jadi Cara Melawan Trauma dan Menikmati Perjalanan
Di balik perjalanan panjang itu, terdapat cerita personal tentang upaya melawan trauma. Sang rider mengaku sudah hampir lima tahun tidak melakukan solo touring akibat pengalaman buruk di perjalanan sebelumnya.
“Trauma itu bukan hal yang harus diikutin. Kita harus memerdekakan diri dari trauma,” ujarnya.
Karena itulah perjalanan solo riding Jakarta-Dieng kali ini menjadi pembuktian untuk dirinya sendiri bahwa passion berkendara tetap bisa dinikmati dengan aman dan menyenangkan.
Setelah menempuh perjalanan lebih dari 13 jam, rider akhirnya tiba di Wonosobo menjelang magrib dan beristirahat di rumah saudaranya sebelum melanjutkan eksplorasi Dieng keesokan harinya.
Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa touring motor bukan sekadar soal tujuan akhir, melainkan pengalaman menikmati jalan, alam, dan interaksi selama perjalanan.
“Bukan soal pencapaian, tapi cara kita menikmatinya,” tutupnya.
Editor : Dinar Ananda Putri