JAKARTA - Veda Ega Pratama Moto3 2026 kembali mencetak sejarah setelah meraih podium ketiga di GP Brasil, menjadikannya pembalap Indonesia pertama yang naik podium di kelas Moto3 serta memperkuat posisinya sebagai kandidat utama Rookie of The Year musim ini.
Penampilan Veda Ega Pratama Moto3 2026 ini melanjutkan tren impresif sejak debutnya di GP Thailand, di mana ia finis di posisi kelima. Dalam dua seri awal, pembalap muda Indonesia tersebut langsung menunjukkan konsistensi luar biasa.
Hingga seri kedua Moto3 2026, Veda Ega Pratama Moto3 2026 telah mengoleksi total 27 poin dan menempati posisi ketiga klasemen umum, sekaligus memimpin klasemen rookie dengan selisih signifikan dari para pesaingnya.
Baca Juga: Serapan Belanja Pemkot Blitar Rendah Disorot DPRD, Wali Kota Mas Ibin Angkat Bicara
Manuver Gila di Brasil Jadi Penentu Podium Perdana
Keberhasilan Veda Ega Pratama Moto3 2026 meraih podium di Brasil tidak terjadi secara kebetulan. Ia memulai balapan dari posisi ke-10 setelah restart dengan hanya lima lap tersisa, situasi yang membuat peluang podium tampak sulit.
Namun, dalam waktu singkat, Veda menunjukkan agresivitas tinggi. Ia menyalip satu per satu pembalap di depannya dan berhasil menembus posisi tiga besar tepat di lap terakhir.
“Dengan keberanian tinggi, ia merangsek ke depan dan merebut posisi ketiga di putaran akhir,” demikian deskripsi jalannya balapan.
Momen tersebut menjadi kunci keberhasilannya meraih podium pertama di Moto3 2026. Data menunjukkan, dalam lima lap terakhir, Feda mampu naik tujuh posisi, sebuah pencapaian yang jarang terjadi di kelas Moto3 yang sangat kompetitif.
Podium ini juga mencatat sejarah baru bagi Indonesia di ajang Grand Prix. Untuk pertama kalinya, pembalap Tanah Air berdiri di podium Moto3 dalam era modern.
Konsistensi Poin dan Dominasi di Klasemen Rookie
Performa Veda Ega Pratama Moto3 2026 di dua seri awal langsung berdampak pada klasemen. Dengan total 27 poin, ia kini berada di posisi ketiga klasemen umum.
Lebih impresif lagi, ia memimpin klasemen Rookie of The Year dengan keunggulan 13 poin dari pesaing terdekatnya, Brian Uriarte, yang baru mengoleksi 14 poin.
Selisih tersebut menunjukkan dominasi Veda di kategori debutan. Sementara itu, pembalap lain seperti Hakim Danish masih tertahan di posisi bawah klasemen rookie.
Satu fakta menarik adalah absennya nama Marco Morelli dalam klasemen rookie. Meski memiliki poin lebih tinggi, ia tidak masuk kategori debutan karena telah menggunakan delapan wildcard pada musim 2025, sesuai regulasi Grand Prix.
“Statusnya sudah bukan rookie karena pengalaman sebelumnya,” demikian penjelasan regulasi yang berlaku.
Hal ini semakin memperkuat posisi Veda sebagai kandidat utama peraih gelar Rookie of The Year 2026.
Tantangan Besar di Seri Amerika Serikat
Setelah sukses di Thailand dan Brasil, Veda Ega Pratama Moto3 2026 akan menghadapi tantangan berikutnya di Circuit of the Americas (COTA), Amerika Serikat.
Sirkuit ini dikenal memiliki karakter yang kompleks dengan panjang lintasan dan banyak tikungan teknis. Selain itu, trek tersebut juga menjadi salah satu lintasan yang belum pernah dijajal oleh Veda sebelumnya.
Namun, berdasarkan performa di Brasil, Veda terbukti mampu beradaptasi dengan cepat di sirkuit baru. Ia bahkan mampu tampil dominan meski tidak memiliki pengalaman sebelumnya di trek tersebut.
Menurut ulasan media Eropa, “agresivitas dan talenta Veda telah mematahkan stereotip pembalap Asia,” sekaligus menunjukkan kualitasnya sebagai calon bintang besar.
Jika mampu mengulang performa serupa di Amerika, peluang Veda untuk kembali meraih podium terbuka lebar.
Dengan momentum dua seri awal yang sangat kuat, ekspektasi publik terhadap Veda kini semakin tinggi. Namun, tekanan tersebut justru dianggap sebagai bentuk dukungan bagi pembalap muda Indonesia ini.
Veda Ega Pratama Moto3 2026 telah mengubah statusnya dari sekadar debutan menjadi ancaman nyata di grid Moto3. Dengan 27 poin, satu podium, dan posisi puncak klasemen rookie, ia kini menjadi sorotan dunia.
Jika tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin musim 2026 akan menjadi awal era baru bagi Indonesia di kancah balap motor dunia.
Editor : Axsha Zazhika