JAKARTA - Nissan Grand Livina bekas masih layak dibeli di tengah stigma mobil “penyakitan” yang kerap melekat. Mobil MPV andalan Nissan ini tetap diminati karena kenyamanan dan harga terjangkau, meski memiliki sejumlah kelemahan teknis dan biaya perawatan yang perlu dipertimbangkan secara matang oleh calon pembeli.
Nissan Grand Livina bekas kini masuk kategori mobil tua (motuba), dengan generasi awal (L10) diluncurkan pada 2007 dan generasi kedua (L11) pada 2013. Artinya, unit termuda saat ini sudah berusia sekitar 7 tahun. Faktor usia ini menjadi salah satu alasan utama munculnya berbagai masalah teknis yang sering dikeluhkan pengguna.
Meski demikian, popularitas Nissan Grand Livina bekas tetap bertahan di pasar mobil second Indonesia. Banyak pengguna menilai mobil ini masih nyaman digunakan, bahkan disebut memiliki rasa berkendara layaknya sedan.
Penyakit Umum Nissan Grand Livina Bekas yang Sering Dikeluhkan
Sejumlah masalah teknis menjadi perhatian utama bagi calon pembeli Nissan Grand Livina bekas. Salah satu yang paling sering muncul adalah suara mesin “ngelitik” pada generasi L10 bermesin 1.498 cc dengan tenaga sekitar 100 PS di 6.000 rpm dan torsi 134 Nm di 4.000 rpm.
Masalah ini umumnya disebabkan oleh beberapa faktor, seperti filter udara kotor, penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai, throttle body kotor, hingga katup EGR yang bermasalah. “Ngelitik sebenarnya tidak terlalu berbahaya, tapi cukup mengganggu,” demikian penjelasan dalam ulasan teknis.
Selain itu, kelemahan lain adalah performa yang dinilai kurang bertenaga, terutama pada varian transmisi otomatis. Pada generasi L11 yang menggunakan CVT, akselerasi awal disebut kalah dibanding kompetitor sekelas seperti MPV lain di kelasnya.
Masalah lain yang cukup ikonik adalah coil bocor, yang menyebabkan mesin pincang saat dikendarai. Kemudian ada risiko overheat, dengan suhu kerja mesin berkisar 85–99 derajat Celcius. Dalam beberapa kasus, heat insulator knalpot yang berbahan mudah terbakar bahkan bisa memicu kebakaran ringan.
Tidak hanya itu, sektor kaki-kaki juga kerap bermasalah, seperti ball joint yang bisa lepas akibat keausan. Hal ini tentu berbahaya jika tidak segera ditangani.
Biaya Spare Part dan Ketersediaan Jadi Pertimbangan Utama
Selain masalah teknis, Nissan Grand Livina bekas juga dikenal memiliki biaya spare part yang relatif lebih mahal dibanding mobil Jepang lain seperti Toyota atau Daihatsu.
Sebagai contoh, sensor oksigen (AF sensor) untuk Livina L11 tahun 2013 bisa mencapai sekitar Rp5 juta di dealer. Bandingkan dengan mobil sekelas keluaran 2018 yang hanya sekitar Rp1 jutaan. Selisih harga ini menjadi perhatian serius bagi calon pembeli.
Ketersediaan suku cadang juga menjadi tantangan tersendiri. Banyak part original yang harus inden hingga dua minggu. Hal ini disebabkan jaringan dealer Nissan yang tidak sebanyak kompetitor.
“Kami harus inden untuk beberapa part, bahkan yang umum sekalipun,” ungkap salah satu pengguna. Meski begitu, alternatif aftermarket masih cukup banyak tersedia di pasaran.
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah sistem pendingin kabin. Nissan Grand Livina memiliki tiga baris kursi, tetapi tidak dilengkapi AC double blower yang optimal. Akibatnya, penumpang di baris ketiga sering merasakan suhu yang lebih panas.
Kenyamanan Jadi Kelebihan, Tapi Harus Siap Perawatan
Di balik berbagai kekurangan, Nissan Grand Livina bekas tetap memiliki keunggulan utama pada kenyamanan. Suspensinya yang empuk membuat mobil ini sering dibandingkan dengan sedan, meski berjenis MPV.
Namun, tingkat kebisingan kabin menjadi catatan. Suara dari luar, seperti kendaraan lain, cukup mudah masuk ke dalam kabin. Banyak pengguna menyiasatinya dengan menambahkan peredam tambahan.
Dari sisi pilihan, generasi L10 dengan transmisi otomatis konvensional (AT) dianggap lebih tangguh dibanding L11 yang menggunakan CVT. Namun, L11 menawarkan desain lebih modern, terutama pada varian Autech.
Kesimpulannya, Nissan Grand Livina bekas masih layak dibeli, tetapi dengan catatan. Perawatan menjadi kunci utama agar mobil ini tetap awet. “Kalau hanya tahu pakai tanpa perawatan, sebaiknya hindari,” demikian saran yang sering disampaikan para pengguna berpengalaman.
Dengan harga yang kini semakin terjangkau, mobil ini tetap menarik bagi konsumen yang mengutamakan kenyamanan. Namun, keputusan membeli harus disertai pertimbangan matang terkait biaya perawatan dan ketersediaan suku cadang.
Editor : Axsha Zazhika