BLITAR KAWENTAR - Ario Putra Bakti harus menghadapi tantangan global akibat melambungnya nilai tukar dolar terhadap rupiah serta ketegangan geopolitik di Selat Hormuz yang berdampak pada bisnis tekstilnya.
Sebagai Komisaris Utama salah satu perusahaan tekstil skala regional Jawa Timur, Ario awalnya fokus pada produksi kaos dan daster. Namun, pasca-Lebaran, dia mendapati kenyataan lapangan yang lesu. Berdasarkan surveinya terhadap para eksportir di Jatim, volume transaksi terjun bebas.
"Yang mulanya bisa menjual 1 hingga 2 kontainer, sekarang terjual di bawah itu saja sudah sangat bersyukur," ungkap warga Kelurahan Bendogerit ini.
Baca Juga: Dolar Menguat jadi Peluang Investasi Digital, tapi Gen Z Tetap Harus Waspada Risiko Buruknya
Kenaikan dolar memicu efek domino pada biaya produksi. Harga bahan baku kain ikut terkerek naik, yang otomatis mengganggu siklus closing dengan pembeli. Tantangan kian berat saat akses Selat Hormuz terkendala akibat konflik.
Padahal, wilayah Timur Tengah merupakan pasar bidikan, selain pasar ASEAN dan India yang selama ini jadi pasar ekspornya.
Dia lantas merubah haluan strategi bisnis. Jika sebelumnya fokus memproduksi barang lalu mencari konsumen, kini ia membalik pola menjadi trading komoditas. Perannya sebagai perantara ekspor-impor yang bergerak berdasarkan permintaan pasar.
Baca Juga: Paguyuban Pedagang Mastrip dan KAI Komitmen Dukung Perkembangan UMKM Blitar
"Kondisi sekarang kami balik. Konsumen butuh apa, baru kami carikan barangnya dari supplier. Saat ini kami fokus pada komoditas lokal seperti belimbing, kopi, dan cokelat untuk dilempar ke pasar luar negeri," jelasnya.(mg1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah