JAKARTA - Maka Cavalry mendapat banyak pujian setelah diuji dalam berbagai kondisi jalan. Motor listrik buatan Indonesia ini dinilai memiliki kenyamanan berkendara, performa responsif, serta jarak tempuh yang kompetitif di kelasnya. Namun, di balik keunggulan tersebut, terdapat beberapa kekurangan yang menjadi perhatian sebelum konsumen memutuskan membeli Maka Cavalry.
Motor listrik lokal ini hadir dengan harga sekitar Rp35 jutaan dan membawa slogan "Motor Paling Enak". Klaim tersebut menjadi sorotan karena pasar motor listrik Indonesia kini semakin ramai dengan kehadiran produk asal China, Jepang, hingga merek lokal seperti Gesits dan Polytron.
Dari hasil pengujian, Maka Cavalry menawarkan kombinasi ergonomi, bagasi luas, tenaga besar, dan handling yang mudah dikendalikan. Faktor-faktor tersebut membuatnya menjadi salah satu motor listrik lokal yang cukup menarik untuk penggunaan harian maupun perjalanan jarak menengah.
Baca Juga: HP 2,5 Jutaan Terbaik 2026: 6 Rekomendasi Smartphone Murah Paling Worth It untuk Gaming dan Harian
Performa dan Jarak Tempuh Jadi Andalan Maka Cavalry
Salah satu nilai jual utama Maka Cavalry terletak pada sektor performa. Motor ini menggunakan baterai berkapasitas 4 kWh yang diklaim mampu menempuh jarak hingga 160 kilometer dalam kondisi ideal.
Namun berdasarkan pengujian di jalan perkotaan dengan lalu lintas padat, jarak tempuh realistis berada di kisaran 120 kilometer dalam sekali pengisian daya penuh. Angka tersebut masih tergolong kompetitif dibanding sejumlah motor listrik lain di kelas harga yang sama.
Maka Cavalry dibekali motor listrik berdaya 12 PS dengan torsi mencapai 251 Nm. Torsi besar tersebut memungkinkan akselerasi dari 0-60 km/jam hanya dalam waktu sekitar 4,6 detik.
Kecepatan maksimal yang diklaim mencapai 105 km/jam juga membuat motor ini mampu digunakan tidak hanya untuk perjalanan dalam kota, tetapi juga rute antarkota jarak pendek.
Pengujian tanjakan menunjukkan Maka Cavalry masih mampu melewati kemiringan hingga 23 derajat dengan baik. Pabrikan bahkan mengklaim motor ini mampu menaklukkan tanjakan hingga 30 derajat dalam kondisi tertentu.
"Fun to ride banget, enak untuk dikendarai," ujar reviewer saat mencoba performa motor listrik tersebut.
Kenyamanan Berkendara dan Fitur Jadi Nilai Plus
Keunggulan berikutnya datang dari sektor kenyamanan. Dengan bobot sekitar 132 kilogram dan tinggi jok 770 mm, Maka Cavalry masih ramah bagi pengendara dengan tinggi badan sekitar 160 cm hingga 170 cm.
Baca Juga: 11 HP Xiaomi Terbaru 2026 yang Layak Dibeli, dari Redmi Murah hingga Xiaomi 17 Ultra Flagship
Posisi duduk dirancang cukup santai dengan dek kaki yang memungkinkan pengendara memilih posisi rileks maupun posisi sigap saat berkendara. Jok yang lebar dan empuk juga memberikan kenyamanan saat menghadapi kemacetan maupun perjalanan jauh.
Di sektor kaki-kaki, Maka Cavalry menggunakan suspensi teleskopik di depan dan dual shock absorber di belakang yang sudah dilengkapi pengaturan preload lima tingkat. Karakter suspensi yang empuk membuat motor ini mampu meredam jalan berlubang dan permukaan jalan tidak rata dengan baik.
Fitur yang tersedia memang tidak terlalu banyak dibanding beberapa kompetitor. Motor ini tidak dibekali konektivitas smartphone maupun cruise control. Namun tersedia lampu full LED, lampu proyektor, panel instrumen digital, USB Type-A dan Type-C, mode mundur (reverse), serta sistem regenerative braking.
Baca Juga: Tips Poco F7 agar Tidak Panas dan Baterai Lebih Awet, Pengguna Xiaomi Wajib Tahu Setting Rahasia Ini
Bagasi berkapasitas 20 liter menjadi salah satu keunggulan lain. Ruang penyimpanan tersebut cukup untuk menyimpan helm, jas hujan, charger portable, hingga perlengkapan harian lainnya.
Masih Ada Kekurangan yang Perlu Dibenahi
Meski memperoleh banyak pujian, reviewer menemukan sejumlah catatan yang perlu menjadi perhatian pabrikan.
Salah satunya adalah sistem keamanan yang dinilai terlalu sederhana. Maka Cavalry masih menggunakan anak kunci konvensional tanpa keyless, alarm, maupun immobilizer.
Selain itu, kualitas perakitan panel bodi disebut masih perlu ditingkatkan. Beberapa celah antar panel terlihat kurang presisi sehingga cahaya lampu utama bahkan tampak keluar dari sela-sela bodi saat malam hari.
Kekurangan lain terdapat pada sistem pergantian mode berkendara. Pengendara harus memenuhi beberapa syarat sebelum berpindah dari mode High Torque ke High Regen atau sebaliknya, seperti kecepatan harus di bawah 30 km/jam dan tuas gas tidak boleh diputar.
Meski demikian, aspek purna jual dinilai cukup menjanjikan. Maka telah menyiapkan jaringan showroom di wilayah Jabodetabek dan menargetkan 19 dealer tambahan. Garansi baterai, motor listrik, dan controller diberikan hingga tiga tahun atau 150.000 kilometer.
Dengan harga Rp35 jutaan, Maka Cavalry memang belum menjadi motor listrik paling lengkap dari sisi fitur. Namun kombinasi performa, kenyamanan, bagasi luas, serta jarak tempuh yang kompetitif membuatnya layak dipertimbangkan bagi konsumen yang mencari motor listrik lokal untuk penggunaan sehari-hari.
Slogan "Motor Paling Enak" memang masih bisa diperdebatkan. Namun berdasarkan hasil pengujian, Maka Cavalry berhasil menunjukkan bahwa produk karya anak bangsa mampu bersaing dengan motor listrik dari merek global yang lebih dulu hadir di pasar Indonesia.
Editor : Axsha Zazhika