BLITAR KAWENTAR - Sony Xperia 1 Mark 3 kembali menjadi sorotan di tengah tren smartphone flagship terbaru. Meski dirilis pada 2021, perangkat ini masih banyak diburu di pasar second dengan harga berkisar Rp3–4 jutaan pada periode 2026. Namun, pertanyaan besar muncul: apakah Sony Xperia 1 Mark 3 masih layak digunakan sebagai HP utama saat ini, atau hanya cocok sebagai perangkat pendamping?
Di era sekarang, Sony Xperia 1 Mark 3 memang sudah mulai tertinggal dari segi usia perangkat. Meski begitu, HP ini masih menarik perhatian karena karakter khas Sony yang tidak banyak dimiliki kompetitor lain. Banyak pengguna, terutama konten kreator, masih tertarik menggunakan perangkat ini untuk kebutuhan fotografi dan videografi ringan karena karakter hasil gambarnya yang dianggap natural dan sinematik.
Namun, penggunaan Sony Xperia 1 Mark 3 sebagai smartphone utama kini mulai dipertanyakan. Meskipun masih menawarkan performa flagship, sejumlah keterbatasan mulai terasa, terutama pada sisi panas perangkat dan dukungan sistem operasi yang sudah berhenti di Android 13.
Desain Klasik Xperia Masih Jadi Daya Tarik
Sony Xperia 1 Mark 3 hadir dengan desain khas Xperia yang memanjang dengan rasio 21:9. Dengan layar 6,5 inci, perangkat ini terasa ramping namun cukup panjang ketika digunakan satu tangan. Desain ini memberikan pengalaman berbeda dibanding smartphone modern yang cenderung lebih lebar.
Layarnya menggunakan panel OLED 4K dengan refresh rate hingga 120 Hz. Walaupun resolusi 4K tidak selalu aktif secara penuh, kualitas visual yang ditawarkan tetap berada di level flagship. Warna yang dihasilkan terlihat pekat, tajam, dan natural, cocok untuk konsumsi multimedia seperti menonton film atau editing ringan.
Performa Snapdragon 888 Masih Kencang, Tapi Panas
Di sektor performa, Sony Xperia 1 Mark 3 dibekali chipset Snapdragon 888 dengan RAM hingga 12 GB dan penyimpanan 256 GB. Untuk aktivitas harian seperti multitasking, membuka aplikasi, hingga browsing, performanya masih tergolong sangat cepat dan responsif.
Namun, masalah utama muncul ketika perangkat digunakan untuk aktivitas berat seperti gaming atau recording video dalam durasi panjang. Chipset Snapdragon 888 dikenal memiliki isu panas berlebih, dan hal ini juga terjadi pada Xperia 1 Mark 3. Saat suhu meningkat, perangkat akan mengalami throttling atau penurunan performa otomatis untuk menjaga stabilitas.
Kondisi ini membuat pengalaman penggunaan berat menjadi kurang nyaman, terutama bagi pengguna yang membutuhkan performa stabil dalam waktu lama.
Kamera Periscope Jadi Nilai Jual Utama
Sektor kamera menjadi salah satu keunggulan utama Sony Xperia 1 Mark 3. Perangkat ini dibekali tiga kamera belakang 12 MP yang terdiri dari wide, ultrawide, dan telephoto. Sony juga menghadirkan teknologi periscope zoom dengan dua tingkat optical zoom, yaitu 2,9x dan 4,4x.
Meski teknologi ini tergolong canggih di masanya, hasil kamera telephoto dinilai masih kalah dibanding smartphone modern yang sudah menggunakan sensor lebih besar dan teknologi hybrid zoom. Namun, kamera utama dan ultrawide tetap menghasilkan foto dengan karakter khas Sony: natural, tidak berlebihan, dan tajam tanpa oversharpen.
Untuk video, perangkat ini mampu merekam hingga 4K 120 fps menggunakan aplikasi khusus seperti Cinema Pro atau Video Pro. Namun, untuk penggunaan normal, hasil 4K 30 fps sudah cukup stabil dan berkualitas tinggi.
Baterai dan Software Mulai Tertinggal
Sony Xperia 1 Mark 3 dibekali baterai 4.500 mAh. Namun karena usia perangkat, daya tahan baterai sangat bergantung pada kondisi battery health yang umumnya sudah turun di bawah 80 persen. Dalam penggunaan normal, screen-on time hanya berkisar 4–5 jam.
Dari sisi software, perangkat ini berhenti di Android 13 setelah hanya mendapatkan update selama dua tahun. Artinya, tidak ada lagi dukungan pembaruan sistem ke depan, yang membuatnya kurang ideal sebagai perangkat jangka panjang.
Masih Kencang, Tapi Tidak Ideal Jadi HP Utama
Secara keseluruhan, Sony Xperia 1 Mark 3 masih menawarkan performa flagship, layar premium, dan kamera dengan karakter khas Sony. Namun, masalah panas, baterai yang sudah menurun, serta dukungan software yang terbatas membuatnya kurang ideal untuk penggunaan utama.
Perangkat ini lebih cocok dijadikan HP sekunder atau alat khusus untuk fotografi dan videografi ringan, terutama bagi pengguna yang masih menyukai karakter kamera Sony yang natural dan sinematik.
Editor : Gita Dwi Nuraini