JAKARTA - Como 1907 menjadi salah satu cerita paling mengejutkan di sepak bola Eropa musim 2025-2026. Klub milik Hartono Bersaudara asal Indonesia itu berhasil mencetak sejarah dengan lolos ke Liga Champions untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 1907.
Keberhasilan Como 1907 lolos Liga Champions menjadi perhatian besar di Italia. Pasalnya, tujuh tahun lalu klub tersebut masih bermain di Serie D atau kasta keempat Liga Italia. Kini, mereka justru berhasil finis di empat besar Serie A dan mengamankan tiket menuju kompetisi paling bergengsi di Eropa.
Pencapaian Como 1907 semakin spesial karena mereka mampu mengungguli klub-klub besar seperti AC Milan dan Juventus yang justru gagal mendapatkan tempat di Liga Champions musim depan.
Dari Klub Nyaris Bangkrut Menjadi Kekuatan Baru Italia
Como 1907 sempat mengalami masa sulit akibat masalah finansial. Namun pada 2019, klub tersebut diambil alih oleh Hartono Bersaudara melalui Djarum Group.
Dengan visi jangka panjang, proyek kebangkitan Como mulai dijalankan secara bertahap. Pada tahun yang sama mereka promosi dari Serie D ke Serie C. Dua tahun berselang, Como naik ke Serie B dan pada 2024 kembali ke Serie A setelah absen selama 21 tahun.
Musim 2025-2026 menjadi titik puncaknya. Como sukses finis di posisi empat besar Serie A dan memastikan tiket Liga Champions.
Menurut sejumlah media Italia dan CBS Sports, Como kini dianggap sebagai salah satu proyek sepak bola paling menarik di Eropa.
Tidak Hanya Fokus pada Sepak Bola
Kesuksesan Como 1907 ternyata tidak hanya dibangun melalui perekrutan pemain. Presiden klub, Mirwan Suwarso, mengembangkan konsep yang memadukan sepak bola, pariwisata, gaya hidup, hingga bisnis dalam satu ekosistem.
Klub yang berbasis di kawasan Danau Como itu juga mengembangkan lini retail, media, komunitas, serta teknologi dan data analytics untuk menunjang perkembangan tim.
Pendekatan tersebut membuahkan hasil positif. Berdasarkan laporan Forbes, pendapatan retail Como meningkat drastis dalam dua tahun terakhir, dari sekitar 38 ribu dolar AS menjadi 3,7 juta dolar AS.
Identitas Danau Como sebagai destinasi wisata mewah dunia juga dimanfaatkan sebagai bagian dari branding klub.
Sentuhan Cesc Fabregas Mengubah Wajah Como
Perubahan besar Como semakin terlihat sejak kedatangan Cesc Fabregas. Mantan gelandang Barcelona, Arsenal, dan Chelsea itu awalnya bergabung sebagai pemain sebelum akhirnya dipercaya menjadi pelatih.
Di bawah arahannya, Como tampil impresif sepanjang musim 2025-2026. Mereka meraih 20 kemenangan, 11 hasil imbang, dan hanya tujuh kekalahan.
Setelah memastikan lolos ke Liga Champions, Fabregas memberikan pidato emosional kepada para pemainnya dan menyebut skuad Como sebagai kelompok terbaik yang pernah ia latih.
Gaya permainan berbasis penguasaan bola dan pressing agresif yang diterapkan Fabregas juga mendapat banyak pujian dari pengamat sepak bola Eropa.
Nico Paz Jadi Simbol Kebangkitan
Salah satu sosok penting dalam perjalanan Como adalah Nico Paz. Gelandang muda asal Argentina milik Real Madrid itu tampil luar biasa sepanjang musim.
Media Italia menyebut Nico Paz berkontribusi besar lewat gol dan assist sehingga dinobatkan sebagai gelandang terbaik Serie A. Namanya bahkan masuk radar Timnas Argentina untuk Piala Dunia 2026.
Saat para pendukung meminta dirinya bertahan, Nico Paz memberikan jawaban yang membuat suporter Como bersemangat.
"Ini baru permulaan. Bersiaplah," ucapnya dari atas bus parade perayaan.
Tantangan di Liga Champions
Meski berhasil mencetak sejarah, Como masih menghadapi sejumlah tantangan. Stadion Giuseppe Sinigaglia saat ini sedang menjalani renovasi agar memenuhi standar UEFA.
Selain itu, mereka juga perlu memperkuat kedalaman skuad demi menghadapi padatnya jadwal Liga Champions dengan format baru.
Namun dengan dukungan finansial yang kuat, proyek Cesc Fabregas, serta visi jangka panjang dari Hartono Bersaudara, Como 1907 diprediksi bisa menjadi giant killer baru di Eropa.
Dari klub kecil di tepi Danau Como yang nyaris bangkrut hingga kini tampil di Liga Champions, perjalanan Como 1907 menjadi salah satu kisah paling luar biasa dalam sepak bola modern.
Editor : Axsha Zazhika