JAKARTA - Nama Como 1907 kini menjadi perbincangan di dunia sepak bola Eropa. Klub asal Italia yang dahulu berkali-kali bangkrut dan sempat terdampar di Serie D itu berubah menjadi salah satu proyek paling menarik dalam sepak bola modern.
Kebangkitan Como 1907 tidak lahir dari transfer pemain mahal atau ambisi instan. Di bawah kepemilikan keluarga Hartono melalui Djarum Group, klub tersebut dibangun dengan konsep berbeda yang menggabungkan sepak bola, bisnis, pariwisata, dan gaya hidup.
Transformasi Como 1907 bahkan mulai dianggap sebagai blueprint baru yang bisa mengubah cara klub-klub sepak bola berkembang di masa depan. Alih-alih menghamburkan uang, mereka memilih fokus pada struktur, identitas, dan pertumbuhan jangka panjang.
Dari Kebangkrutan hingga Serie D
Selama bertahun-tahun, Como hanyalah klub kecil yang hidup di pinggiran sepak bola Italia. Mereka sempat mencicipi Serie A pada awal 2000-an, tetapi kemudian terdegradasi dan terus mengalami masalah keuangan.
Klub yang bermarkas di Stadion Giuseppe Sinigaglia tersebut beberapa kali dinyatakan bangkrut. Pada 2017, mereka bahkan harus bermain di Serie D, kasta keempat sepak bola Italia.
Kondisi itu membuat Como nyaris terlupakan. Stadion yang berada di tepi Danau Como juga mengalami penurunan kualitas akibat keterbatasan finansial klub.
Akuisisi Djarum Group Jadi Titik Balik
Perubahan besar terjadi pada 2019 ketika SENT Entertainment, perusahaan milik Djarum Group, mengakuisisi Como.
Keluarga Hartono membeli klub tersebut dengan nilai sekitar 850 ribu euro dan langsung melunasi utang sebesar 150 ribu euro. Nilai itu tergolong sangat kecil untuk ukuran sepak bola Eropa.
Namun, pemilik baru tidak memilih jalan pintas. Mereka memperkuat fondasi klub melalui pembangunan fasilitas, akademi, teknologi, serta sistem manajemen modern.
Mirwan Suwarso dipercaya mengendalikan arah bisnis, sementara Dennis Wise menangani sektor olahraga.
Bukan Hanya Klub Sepak Bola
Como tidak lagi diposisikan sekadar sebagai tim yang mengejar kemenangan di lapangan. Klub ini dikembangkan menjadi sebuah merek gaya hidup yang terhubung dengan pesona Danau Como.
Empat sektor utama dibangun secara bersamaan, yakni retail, properti, akademi, dan hiburan. Strategi tersebut membuat Como berkembang menjadi klub butik dengan identitas yang kuat.
Berbagai kolaborasi dilakukan, mulai dari merchandise eksklusif, konsep store, seni, fashion, hingga pengalaman wisata bagi para penggemar.
Pendapatan retail klub pun meningkat drastis sejak pergantian kepemilikan.
Filosofi Sabar dan Berbasis Data
Berbeda dengan banyak klub kaya baru, Como memilih jalan yang lebih tenang.
Mereka mempelajari model klub seperti Brighton dan Brentford yang sukses berkembang berkat keputusan cerdas dan penggunaan data.
Manajemen tidak terburu-buru membeli pemain bintang atau mengganti pelatih dalam waktu singkat. Fokus utama mereka adalah membangun infrastruktur dan mencari pemain yang sesuai dengan sistem permainan.
Michael Gandler, salah satu petinggi klub, bahkan pernah menegaskan bahwa tujuan mereka bukan menjadikan Como sebagai AC Milan baru.
"Kami membeli Como untuk menjadikannya versi terbaik dari Como sendiri," ungkapnya.
Era Cesc Fabregas dan Identitas Baru
Kedatangan Cesc Fabregas menjadi bagian penting dalam proyek ini. Mantan gelandang Arsenal dan Barcelona itu bergabung sebagai pemain pada 2022 sebelum beralih menjadi pelatih.
Di bawah arahannya, Como mengembangkan gaya bermain modern dengan penguasaan bola tinggi, pressing agresif, dan build-up terstruktur.
Strategi tersebut membuahkan hasil. Klub berhasil promosi ke Serie A dan tampil kompetitif dengan mempertahankan sebagian besar pemain yang membawa mereka naik dari Serie B.
Pendekatan itu berbeda dari kebiasaan klub promosi yang sering merombak skuad secara besar-besaran.
Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Pertandingan
Como juga memanfaatkan keindahan Danau Como sebagai kekuatan utama.
Mereka mengembangkan konsep hospitality, pengalaman wisata, serta sistem tiket yang ramah bagi pengunjung internasional. Hampir separuh pendapatan tiket kini berasal dari wisatawan luar negeri.
Kolaborasi dengan dunia fashion dan berbagai produk eksklusif membuat Como semakin dikenal sebagai klub dengan identitas unik.
Kini, proyek Como 1907 dianggap sebagai salah satu model paling prospektif di sepak bola modern. Klub yang dahulu hidup di ambang kehancuran itu perlahan membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu dibangun dengan belanja besar, melainkan melalui visi, struktur, dan kesabaran jangka panjang.
Editor : Axsha Zazhika