BLITAR KAWENTAR - Tren gila kerja atau hustle culture yang menuntut produktivitas tanpa batas kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental masyarakat urban, termasuk di Blitar.
Budaya yang memaksa seseorang terus bergerak ini dinilai rentan memicu kelelahan fisik dan mental ekstrem atau burnout.
Menurut Psikolog Blitar, Elma Prastika Maharani, fenomena ini kerap menjebak individu atau pekerja ambisius dan workaholic. Mereka cenderung mengukur nilai diri hanya dari pencapaian hingga muncul rasa bersalah saat beristirahat.
Secara psikologis, ini masuk kategori toxic positivity. Sesuatu yang dilakukan memang positif, tapi jika berlebihan akan merugikan diri sendiri karena mengorbankan kesehatan dan hubungan sosial.
Meski memiliki sisi positif seperti mendorong disiplin dan etos kerja yang kuat, hustle culture tidak direkomendasikan untuk jangka panjang.
Alih-alih mengejar kesuksesan finansial, gengsi, atau jenjang karier secara ugal-ugalan, Elma sangat menyarankan masyarakat untuk mulai beralih menerapkan prinsip work-life balance.
Keseimbangan antara pekerjaan, karier, dan pemulihan diri sendiri harus dijaga. Kuncinya adalah mulai menanamkan prinsip "cukup" dalam kehidupan sehari-hari agar tidak terjebak dalam ambisi yang semu.
Intinya, tidak semua hal harus sempurna, tidak semua kesempatan harus diambil, dan tidak semua target harus dicapai secepat mungkin. Prioritaskan kesehatan.(jar/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah