BLITAR KAWENTAR - Menurut Sosiolog Q. Azam Zami, fenomena hustle culture yang membuat remaja merasa bersalah secara intens jika tidak menghasilkan uang adalah sebuah kekeliruan sosial.
Media sosial telah sukses mengamplifikasi standar kesuksesan yang tidak realistis sehingga memicu kecemasan akut pada remaja jika target finansial gagal tercapai.
”Sisi kemandirian ini positif jika didasari motivasi internal untuk belajar. Tapi menjadi tidak sehat ketika muncul rasa bersalah yang intens saat tidak produktif. Orang tua harus tegas meluruskan bahwa nilai diri anak tidak ditentukan oleh saldo rekening, melainkan dari usaha, karakter, dan kebahagiaan mereka," ujarnya.
Dampak dari salah kaprahnya standar nilai diri ini mulai mengikis sisi kemanusiaan remaja. Ruang publik kini sepi dari aktivitas mereka karena waktu luang habis untuk mengejar materi.
Dampak jangka panjangnya, solidaritas sosial antar-remaja kini mulai bergeser ke arah yang transaksional, seperti berkumpul hanya untuk mencari jaringan bisnis.
Oleh karena itu, dia mengingatkan agar keluarga tidak tinggal diam dan segera melakukan intervensi jika aktivitas bisnis anak sudah mengganggu waktu sekolah, tidur, hingga momen berkumpul.
Baca Juga: Dua Maling di Blitar Gasak Hewan Ternak hingga Gabah Hasil Panen Warga, Begini Modusnya
”Orang tua harus menyediakan safe space. Pastikan rumah jadi tempat aman untuk pulang tanpa penghakiman," pungkasnya.(mg1/c1/sub)
Editor : M. Subchan Abdullah