BLITAR KAWENTAR - Infinix GT 50 Pro datang ke pasar smartphone gaming dengan membawa berbagai klaim menarik.
Salah satu yang paling banyak dipromosikan adalah teknologi HydroFlow Liquid Cooling yang disebut mampu menjaga suhu perangkat tetap stabil saat digunakan bermain game berat.
Namun setelah menjalani pengujian selama satu minggu, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa performa sistem pendingin tersebut belum sepenuhnya sesuai ekspektasi.
Infinix GT 50 Pro memang tampil meyakinkan sejak pertama kali dilihat.
Smartphone ini mengusung desain gaming dengan cooling pipeline window transparan di bagian belakang yang memperlihatkan sistem pendingin internalnya.
Di atas kertas, teknologi tersebut terdengar menjanjikan. Akan tetapi, pengujian di lapangan menunjukkan cerita yang sedikit berbeda.
Pengujian Suhu Saat Gaming
Saat digunakan bermain Mobile Legends selama satu jam penuh pada pengaturan grafis tertinggi dengan sistem pendingin aktif, suhu perangkat meningkat dari 32 derajat Celsius menjadi 42 derajat Celsius.
Angka tersebut memang belum tergolong panas berlebihan, tetapi juga belum bisa disebut istimewa untuk ukuran smartphone yang mengusung teknologi liquid cooling aktif.
Bahkan jika dibandingkan dengan beberapa smartphone lain yang hanya mengandalkan pendingin pasif, hasilnya tidak jauh berbeda. Beberapa perangkat dengan chipset sekelas mampu mempertahankan suhu di bawah 40 derajat Celsius tanpa bantuan sistem pendingin aktif.
Pengujian berikutnya dilakukan menggunakan game Wuthering Waves dalam mode performa tinggi. Hasilnya, suhu maksimum mencapai 43 derajat Celsius dan perangkat mulai mengalami throttling setelah sekitar 12 menit.
Ketika bypass charging dan mode Draco Performance diaktifkan, frame rate memang menjadi lebih stabil. Namun konsekuensinya suhu meningkat hingga 45 derajat Celsius.
Tuning Sistem Dinilai Lebih Penting
Hasil pengujian tersebut memunculkan kesimpulan bahwa efektivitas pendinginan tidak hanya bergantung pada keberadaan teknologi liquid cooling.
Optimalisasi chipset dan manajemen daya ternyata memiliki peran yang jauh lebih besar dalam menjaga suhu perangkat tetap stabil saat bermain game.
Dengan kata lain, teknologi pendingin canggih tidak otomatis membuat smartphone lebih dingin dibanding kompetitor yang memiliki tuning sistem lebih baik.
Layar dan Performa Tetap Menjadi Nilai Jual
Meski demikian, bukan berarti Infinix GT 50 Pro gagal bersaing. Smartphone ini tetap menawarkan layar AMOLED 144 Hz yang sangat responsif dan mendukung mode 144 FPS pada Mobile Legends.
Chipset Dimensity 8400 Ultimate yang digunakan juga mampu menjalankan berbagai game populer pada pengaturan grafis tinggi tanpa kesulitan berarti.
Selain itu, keberadaan shoulder trigger button fisik menjadi fitur yang memberikan keuntungan nyata bagi pemain game FPS maupun TPS.
Kamera dan Baterai
Di sektor fotografi, hasil foto siang hari masih tergolong baik dengan warna menarik dan detail yang cukup tajam. Namun kualitas mulai menurun saat kondisi cahaya minim.
Sementara itu, baterai mampu menghasilkan screen on time sekitar 7,5 jam untuk kombinasi penggunaan harian dan gaming.
Fitur wireless charging serta bypass charging menjadi nilai tambah yang cukup menarik di kelasnya.
Kesimpulan
Infinix GT 50 Pro menawarkan performa gaming yang kuat, layar berkualitas, dan fitur trigger button yang berguna. Namun teknologi HydroFlow Liquid Cooling yang menjadi salah satu senjata pemasaran utamanya ternyata belum mampu menunjukkan keunggulan signifikan dibanding sejumlah kompetitor.
Bagi pengguna yang mengutamakan pengalaman gaming, perangkat ini tetap layak dipertimbangkan. Namun jika berharap sistem pendingin revolusioner, ekspektasi mungkin perlu sedikit diturunkan.
Editor : Muhamad Ahsanul Wildan