BLITAR KAWENTAR– Pasar smartphone tanah air kembali diguncang oleh peluncuran lini perangkat murah teranyar dari Transsion Holdings. YouTuber teknologi kenamaan Indonesia, David Brendi, baru saja merilis ulasan mendalam atau Review Infinix Hot 70 GadgetIn melalui kanal resminya. Dalam video tersebut, David menyoroti dinamika industri gadget di tahun 2026, di mana harga komponen global dilaporkan naik secara gila-gilaan. Fenomena ini berimbas langsung pada skema harga Infinix Hot 70 reguler yang kini menyentuh angka Rp2,2 juta untuk varian paling bontot dengan konfigurasi RAM 4 GB dan memori internal 128 GB.
Kenaikan harga komponen ini dinilai sangat sensitif bagi segmen ponsel murah yang sejak awal memiliki margin keuntungan tipis. David mengaku pusing melihat fakta bahwa konsumen harus merogoh kocek ekstra hingga Rp500.000 hanya untuk meningkatkan kapasitas RAM sebesar 2 GB. Melalui Review Infinix Hot 70 GadgetIn, ia menganalogikan transaksi ini layaknya membeli RAM dan memori penyimpanan yang mendapatkan bonus kompartemen berupa layar, baterai, serta prosesor gratis. Meski dihantam badai inflasi komponen, Infinix dinilai tetap berkomitmen menjaga identitas aslinya dengan tidak memotong spesifikasi krusial lainnya demi menekan harga jual.
Ketika masuk ke sesi unboxing, kotak penjualan Infinix Hot 70 kini tampil dengan desain minimalis berwarna putih, berbeda dari generasi pendahulunya yang identik dengan warna hijau. Pada bagian bodi belakang, David memberikan apresiasi tinggi terhadap sentuhan estetika kosmetik yang dihadirkan oleh tim desainer Infinix. Mengusung konsep baby smooth finish bermaterial polikarbonat bermotif ekor ikan cupang, varian warna Quiet Violet yang diuji dalam Review Infinix Hot 70 GadgetIn terasa sangat halus, licin, dan premium saat dielus oleh telapak tangan.
Layar HD Plus yang Redup Melawan Kamera 50 MP Berkualitas Mid-Range
Sektor visual menjadi catatan kritis terbesar dalam ulasan kali ini. Walau spesifikasi di atas kertas mengklaim menggunakan fitur Ultra Bright Display dengan refresh rate kencang 120 Hz, David membongkar fakta bahwa tingkat kecerahan (brightness) layar beresolusi HD Plus ini tergolong rendah. Saat diuji coba di kondisi luar ruangan (outdoor), layar berukuran 6,78 inci tersebut langsung terlihat meredup. Karakteristik ini disebut sangat identik dengan kualitas layar ponsel kelas entri seharga Rp1 jutaan, sehingga kurang ideal untuk penggunaan di bawah terik matahari.
Namun, kekurangan masif di sektor layar tersebut berhasil ditebus dengan sangat manis oleh performa kamera utama beresolusi 50 Megapiksel. David mengaku sangat terkejut saat melihat hasil tangkapan gambar lewat monitor komputer. Meskipun pratinjau (preview) di layar ponsel terlihat kusam, hasil foto aslinya terbukti sangat hidup, detail objek terjaga tanpa proses ketajaman (sharpening) berlebih, dan minim goyangan saat memotret malam hari. Kualitas pemrosesan gambar dan perekaman video 1080p 30 fps yang stabil pada Infinix Hot 70 ini dinilai setara dengan performa kamera gawai mid-range seharga Rp3 jutaan.
Performa Helio G100 untuk Gaming dan Rekomendasi Varian Bijak
Dapur pacu Infinix Hot 70 mengandalkan chipset MediaTek Helio G100 yang disokong oleh memori bertipe UFS dan LPDDR4X. Berdasarkan pengujian sintetis, perangkat ini meraih skor Antutu versi 11 sebesar Rp584.000, serta mampu menjalankan game Mobile Legends dengan lancar di angka 90 fps. Namun, untuk beban kerja super berat seperti Genshin Impact, ponsel ini kurang direkomendasikan karena hanya menghasilkan performa patah-patah di kisaran 25 hingga 30 fps dengan suhu operasional menyentuh 44 derajat Celsius. Sisi positifnya, gawai ini sudah dilengkapi fitur Active Hello Lighting, NFC, serta sensor Gyroscope hardware.
Sebagai kesimpulan akhir, David menegaskan bahwa Infinix Hot 70 hanya layak dibeli (worth it) jika konsumen memilih varian paling dasar (RAM 4/128 GB) seharga Rp2,2 juta karena masih kompetitif dibanding kompetitor di kelasnya yang banyak menggunakan prosesor lebih rendah. Sebaliknya, jika konsumen berencana melirik varian RAM 6 GB atau 8 GB yang harganya merangkak naik hingga Rp2,6 juta ke atas, gawai ini otomatis kehilangan daya tariknya. Untuk rentang anggaran tersebut, David menyarankan konsumen dialihkan untuk meminang sang kakak Infinix Hot 60 Pro keluaran tahun lalu atau beralih ke jenama sebelah seperti Redmi Note 15 yang memiliki kualitas layar jauh lebih jernih.